Siang itu Hilda akhirnya berangkat ke gunung tanpa Samuel. Pria itu masih sibuk, berjanji sore nanti menyusul Hilda ke hotel.
Walau agak kecewa karena berangkat tanpa Samuel, Hilda akhirnya tetap berangkat, di antar Adit, salah satu anak buah Samuel.
Dan Hilda pasrah saat Tini, pembantunya memakaikan jam putih pemberian Samuel di tangannya. Mengatakan agar Hilda menikmati harinya seperti ketika sedang liburan.
Sementara itu di tempat lain, seorang gadis baru saja pulang kerja dengan berjalan kaki.
Tepat pukul tiga sore, gadis itu sampai di kamar kosnya yang sederhana
Di dalam kamar, Nina duduk termenung,
mengingat Mila membuat air matanya merembes. Mila tak melanjutkan sekolahnya. “Buat apa sekolah kalau gak bisa bayar buku, SPP, seragam dan lain lain. Mending kerja daripada kelaparan. Apalagi utang kita banyak.” Kata kata Mila menghantam hati Nina. Dan akhirnya kini ia tak bisa mencegah Mila bekerja jadi pembantu.
Menurut Dani, bosnya. Hotel di Magelang itu sedang mengadakan pertunjukkan wayang orang, namun pemeran Srikandi mendadak sakit, jadi dirinya bertugas menggantikan Srikandi mereka. Untuk itu ia harus berangkat lebih awal, setidaknya ia harus gladi bersih dengan pemeran lain.
Mata Nina terpana pada dompetnya yang sudah kosong, tergeletak di atas box pakaian.
Ya, uang Nina sudah habis, tinggal seratus ribu di dalam tasnya. Uang pemberian Samuel beberapa hari yang lalu sudah ludes untuk menutupi kebutuhan sehari harinya bersama Mila.
Nina jadi teringat saat hendak pulang dari rumah makan tadi. Andai ia berani meminta uang pada orang yang tak sengaja ia temui di depan rumah makan, Bara, pria tampan dan kaya yang menyelamatkan nya saat Bimo pertama kali hendak merampas motornya.
Di depan rumah makan, Mata Nina sempat terpaku pada wajah tampan Bara. Berdiri di samping mobil mewahnya sedang menyulut rokok. Wajah tampan dan tubuhnya yang tinggi berbalut setelan jas mahal warna hitam membuat setiap mata yang melihat berdecak kagum. Semakin menawan dengan tubuhnya yang atletis, bahu lebar dan tegap, tersenyum kecil ketika bicara dengan seseorang yang sama sama memakai jas hitam di sampingnya.
Baru beberapa langkah Nina maju, namun langsung berhenti saat melihat sebuah mobil minibus berhenti di samping mobil pria itu. Beberapa orang dengan wajah sangar, tanpa ekspresi, turun dari mobil. Walau tertutup kacamata hitam, Nina tahu, para pria itu mengedarkan pandangan, menyisir satu persatu orang yang ada di dekat mereka, memantau lingkungan sekitar dengan jeli, seperti sekelompok hyena yang mengintai situasi, melindungi sosok besar yang tak boleh disentuh.
Mereka melindungi Bara. Buru buru Nina berbalik, tak ingin para pria itu mencurigai dirinya. Siapa sebenarnya Bara? Sepenting apa dirinya sampai di jaga beberapa orang?
Langkah kaki Nina gontai meninggalkan Bara. Pria yang sudah menyelamatkannya dari Bimo namun justru mengambil keuntungan dari dirinya.
Nina ingat betul bagaimana kuatnya ciuman Bara, tekniknya luar biasa ketika menjelajahi bibirnya, mampu membangunkan setiap sel dalam tubuhnya meronta meminta lebih.
Bara mengawali ciumannya dengan ringan, penuh kelembutan, kehangatan, memberi tanpa meminta balasan. Namun setelah dirinya memberontak, memukul d**a pria itu untuk menghentikan ciumannya. Bara justru memperdalam ciumannya, seolah ingin menjelajahi seluruh bibirnya, ciumannya brutal, menyesapnya kuat di tiap bagian, bahkan lidahnya di ambil oleh Bara. Entah mengapa pria itu jadi kesetanan. Karena terus memberontak, Bara memegangi kedua tangannya agar tak lagi mendorong dan memukul. Bahkan ia menggunakan kekuatan tubuhnya, menindih Nina agar berhenti meronta.
Untunglah dirinya tak kehabisan akal, satu satunya yang bisa menghentikan ciuman Bara adalah gigitan. Nina tak ingat seberapa kuat ia menggigit bibir pria itu hingga berdarah. Setidaknya mereka impas, bibirnya ndower karena ciuman Bara, dan bibir pria itu berdarah karena ciumannya juga. Nina yakin, malam itu, jika ia tidak menggigit bibir Bara, pria itu pasti sudah memperkosanya, dasar pria menjijikkan.
Tring tring…
Suara dering ponsel membuat Nina di tarik dari lamunannya.
“Halo?” Ucap Nina saat ponsel menempel di telinganya. Telepon itu dari Bu Marisa tetangga rumahnya dulu.
“Nina? Gimana kabarmu sama Mila?"
“Saya dan Mila baik baik saja, Bu. Bagaimana denganmu?"
"Aku baik, Nina. Syukurlah kalau kalian baik baik. Maaf ya Nin, aku tidak ingin tau kamu ada di mana. Yang penting sekarang kamu jaga diri, jangan pulang atau mengunjungi rumahmu. Preman yang sering datangi kamu ngamuk ngamuk di sini, membentak setiap warga yang lewat, menanyakan kamu ada dimana.”
"Maafkan saya, gara gara saya kalian jadi terganggu."
“Aku nggak apa apa, Nin. Aku cuma ingin memberitahumu, kamu dan Mila harus jaga diri baik baik. Kalau perlu pindah yang jauh aja sekalian dan menghilang. Aku nggak sanggup lihat penderitaan mu dan Mila."
“Terima kasih."
Tut tut…
Ponsel Nina bergetar, rupanya ada panggilan lain secara bersamaan. Itu dari manajernya tempat wisata. Wajah Nina seketika berseri.
"Maaf, Bu Marisa. Saya harus mengangkat telpon lain. Bos saya sedang menelpon.”
“Oh begitu. Ya sudah kamu jaga diri baik baik ya? Semoga keadaan kalian segera membaik.”
“Amin…”
Setelah menutup telepon dari Marisa, Nina langsung mengangkat telpon dari manajernya, mengatakan jika Nina harus segera bersiap, karena kendaraannya sudah berangkat menjemput nya.
Tak banyak yang Nina persiapkan. Hanya mandi, memakai bedak tabur, dan lipstik seadanya.
Tepat setelah Nina siap, Mila pulang.
“Aku ke Magelang sekarang.” ucap Nina sambil menyisir rambutnya yang lurus, hitam dan panjang.
“Iya.” Mila duduk bersila di atas kasur, masih ingat, Nina kemarin sudah mengatakan nya.
"Kalau mau makan tuh nasinya ada di atas box.” Nina menunjuk nasi dengan jari telunjuknya, lalu menelusupkan sisir dalam tas yang menggantung di dinding.
Nina mengulurkan tangannya, Mila yang sudah hafal maksud Nina, mencium tangan kakaknya. “Hotel tempat ku manggung ternyata ada di gunung. Kamu tau hotel banyu langit yang terkenal itu?”
“Hotel banyu langit yang ada di gunung itu mbak? Wow… hebat, kamu bisa manggung di sana.” Hotel itu terkenal dengan pemandangan yang sangat menakjubkan, berada di tepi tebing. "Hati hati ya mbak?”
"Iya, ya sudah aku berangkat sekarang, mobil udah menungguku di bawah.” Nina lalu ganti mencium tangan Mila. Mencium pipinya kanan dan kiri, setelah itu keluar dari kamar dengan lari lari kecil menuruni anak tangga yang sempit.
Di bawah, sebuah mobil SUV warna putih sudah menunggu Nina. Setelah mengkonfirmasi mobil itu kiriman dari Dani, manajer Nina, gadis itu segera naik.
Perlahan mobil mulai menggilas jalanan. Mila yang memperhatikan dari atas melambaikan tangan nya Gadis itu pun membalas lambaian tangan adiknya.
Dalam perjalanan. Nina merasa aneh dengan sikapnya. Entah apa yang merasukinya, mengapa ia mencium pipi adiknya. Seolah itu sebuah ciuman perpisahan.
Nina menggeleng, ini pasti reaksiku yang berlebihan, terlalu senang dapat pekerjaan dadakan, hingga tak sadar mencium pipi adiknya.
Nina berdoa, semoga perjalanannya lancar.
***
Muka Hilda masam sejak jam dua siang tadi, menunggu tanpa kepastian kapan Samuel menyusulnya ke hotel. Saat jam menunjukkan angka lima sore, Samuel akhirnya menelpon Hilda. Meminta gadis itu menemuinya di kawasan gua di pegunungan, ia tak bisa melanjutkan perjalanan ke hotel karena sedang di jebak macet, ada jalanan yang amblas.
Meski ragu hendak berangkat, Hilda akhirnya tetap pergi.
Tapat saat hari mulai petang, Hilda akhirnya berangkat dengan bantuan Adit. Namun dalam perjalanan, mobil yang ditumpanginya ditabrak truk hingga terjepit pohon, membuat Hilda kehilangan kesadaran.
***
Sementara itu, Nina yang dalam perjalanan menuju Magelang juga diliputi kegelisahan. Perjalanan yang harusnya singkat menjadi lebih dari empat jam. Harusnya jam lima sore ia sudah tiba di hotel. Namun hingga petang menjelang ia masih berputar putar di jalan.
Rasa kesal semakin memuncak ketika sopir masih sempat berhenti lama karena buang air. Nina pun tak bisa menahan diri lagi, amarahnya meledak.
Perjalanan petang itu akhirnya dilanjutkan, namun saat mobil melintasi kawasan sepi, sebuah truk tiba-tiba melaju kencang dari arah berlawanan dan menghantam mobil. Kendaraan oleng, lalu terjun bebas ke jurang, membuat Nina menjerit ketakutan
***
Dunia mendadak menyilaukan ketika seorang gadis membuka matanya, cahaya terasa menembus ke ujung saraf mata, bagai jarum-jarum sinar yang menusuk. Tangannya bergerak samar, menggosok-gosok pelan netra, perih, sakitnya seperti sisa-sisa ledakan yang tertinggal di kelopak.
Terkejut saat sadar tangannya menyentuh perban di hidung dan bibirnya.
Apa yang terjadi sama mulut dan hidungku? Patah kah? Tapi kenapa? Sekelebat ingatan lampu menyilaukan mata sewaktu dalam perjalanan di gunung membuat ingatan gadis itu kembali, mulai mengerti apa yang terjadi padanya. Ia mengalami kecelakaan.
“Aw…,” pekik Nina sewaktu mencoba menarik tubuhnya untuk duduk. Tangannya terlalu sakit untuk menumpu tubuh, pandangan matanya seketika berputar putar, bahkan hidung dan bibirnya juga sakit luar biasa.
“Jangan banyak bergerak. Nanti makin sakit."
Suara berat seorang pria memecah keheningan ruang. Nina menoleh, ia baru sadar ada seseorang di sana. Seorang pria duduk di sofa tak jauh dari ranjang, televisi di depannya menyala, menyiarkan acara berita siang hari. Mata pria itu menatapnya tenang. Jantungnya tercekat ketika pria itu berdiri, melangkah, lalu duduk di kursi samping ranjang.
“Ka-kamu? Kenapa kamu di sini?”
Bersambung…