Part 20

1652 Kata
Majapahit ramai didatangi oleh seluruh khalayak umum. Baik di dalam pulau Jawa, maupun luar pulau Jawa. Berbondong-bondong warga datang memenuhi Keraton Agung untuk meramaikan pesta rakyat yang tengah terselenggara. Di sela-sela pintu yang sedikit terbuka, Ria mengintip. Menatap situasi di luar. Ramai sekali orang-orang berlalu lalang. Gemuruh gong, gendang, dan gamelan bercampur jadi satu mengiringi terselenggaranya pesta rakyat. Ria menutup kembali pintunya. Tubuhnya lantas menyender ke belakang pintu. "Rame banget di luar, melebihi H-1 pernikahan." Mendadak saja Ria kesulitan bernapas. Bukannya benci. Ria hanya kurang suka saja keramaian. Bukan pula karena anti sosial. Setiap berada dalam situasi keramaian, Ria jadi teringat kejadian semasa ia kecil. Dahulu ketika berusia delapan tahun, Ria hampir hilang karena tertelan lautan manusia. Pada saat itu, ibunya sedang sibuk membeli lauk berbuka di pasar Bedug. Ria mendengus, "Aseli, mager bat gue mau keluar. Apalagi setelah tau Hayam Wuruk sama ntuh Putri Padjadjaran..." Bola mata Ria berputar malas. Mengurungkan niat dia, melanjutkan ucapannya barusan. Kejadian kemarin malam, tak akan pernah Ria lupakan. Dan semenjak malam itu, sama sekali Ria tidak bertegur sapa dengan Hayam Wuruk sampai sekarang. Sempat tadi pagi ia bertemu. Hayam Wuruk menyapa, namun Ria abaikan. Seolah tidak melihat orang lewat. Perbuatan yang lancang di mata tiap orang, akan tetapi bukanlah Ria namanya jika tidak memasang sikap bodo amat. Ria menggeram kesal. Memikirkan kejadian kemarin malam, membuatnya sebal. Telapak tangan kanan Ria mengepal. Mewakilkan seberapa kesal Ria saat ini. "Ihhh, Dasar lo, Dyah Pitaloka... Perempuan murahan yang bisa merebuuttt... Suami orang! Kamu! Tega! Tega! Aku jyjyq samah Maszz Hayam Wuruk! Jyjyq, jyjyq, jyjyq!" Alih-alih berteriak, Ria malah berjoged tik-tok. Ia melakukan itu, semata-mata agar dirinya merasa tenang. Bisa dikatakan Ria menghibur diri sendiri. Tok! Tok! Dance tik-tok Ria terhenti seketika, lantaran mendengar suara ketokan pintu. Seseorang mengetuk pintu kamarnya tak sabaran disertai memanggil namanya berulang kali. "Ricis, buka pintunya, Ricis! Ini aku, Nertaja. Buka pintunya segera, Ricis!" Sebelum membuka pintu, Ria menghembus napas kasar. Pasti ada saja yang mengganggu ketenangannya. Entah itu Nertaja, Hayam Wuruk, Arya, kadang juga Gajah Mada. "Iye, iye, sabar!" Ria menyahut. Ceklek! Begitu pintu terbuka, Ria memasang wajah datar menatap Nertaja. Sementara Nertaja, bola mata wanita itu meneliti Ria dari atas hingga ke bawah. Begitu secara keseluruhan diri Ria sudah ia lihat, mata Nertaja berubah bulat. "Demi Dewa Brahmana! Ricis! Apa-apaan kau ini?! Kakanda sebentar lagi akan membuka pesta rakyat, tetapi kau belum bersiap?!" Nertaja mendorong tubuh Ria, lantas menarik kasar lengan wanita abad 21 itu. "Kemari kau! Di mana baju-baju yang ku beri?! Mengapa belum juga kau pakai, Ricis?!" pekik Nertaja geram, sedangkan Ria masih berwajah santai tak berdosa. "Ouh, Nertaja my bestie..., come on! Lo tau kan, pakaian gue gimana sehari-hari di sini? Apa lo lupa, kalo gue ini orang yang menganut agama bangsa Arab? Tentunya pakaian yang lo kasih ke gue, gak bisa gue pakai, Nertaja." berusaha sabar tidak terpancing emosi, Ria menjelaskan. Nertaja memijat keningnya yang berdenyut. "Aduh, Ricis! Cepat, pakai saja! Kakanda yang memaksa!" Sontak alis Ria mengernyit. "Hah, Hayam Wuruk yang nyuruh gue pakek baju super ribet ntuh?" "Iya! Bahkan, Kakanda sudah jauh-jauh hari memintaku untuk memesan bajumu itu dari pembuat jarik dan kain terbaik di seluruh pulau Jawa!" "Apa dia juga yang menyuruhmu kemari, Nertaja?" tanya Ria memancing. "Iya!" jawab Nertaja cepat. Sepertinya itu jawaban yang spontan. Pernah Ria mendengar dari temannya yang ahli biologi, kalau jawaban spontan manusia adalah jawaban yang paling jujur. Sedetik setelah jawaban spontannya, Nertaja mematung. Mulutnya mengatup rapat. Mencolok sekali, kalau Nertaja terlihat ada salah dalam berucap. "Lupakan!" abai Nertaja. Sengaja mengalihkan suasana. "Lebih baik, kau segera bersiap!" Lagi-lagi, Nertaja melakukan perbuatan yang sama. Menarik paksa lengan Ria untuk duduk di sebuah kursi yang tersedia di sana. "Kalian, kemarilah! Bantu aku menyiapkan sahabatku ini!" titah Nertaja pada kedua abdi dalem kepercayaannya yang ke mana-mana selalu mengikuti. "Eh, eh! Lo mau apa?!" panik Ria. Perasaannya tidak enak. "Kau diam saja. Yang pastinya, aku akan mengubahmu menjadi putri dalam semalam!" "Tapi, woi, gue gak bisa pakek pakaian terbuka kayak kalian! Entar gue kena adzab dari Tuhan gue!" protes Ria, coba memberontak. "Untuk masalah itu, kau tak perlu mengkhawatirkannya! Aku mempunyai ide bagus, agar kau tak mendapatkan dosa!" jeda tiga detik. "Nah, sekarang, di mana kau sembunyikan jarik dan kemben yang Kakanda berikan?" "Enak aja gue sembunyiin! Gue buang kali!" ralat Ria. Telunjuk wanita itu kemudian mengarah ke sisi sudut ruangan, di mana tergeletak miris kemben dan jarik pemberian Hayam Wuruk. "Tuh, ada di sana!" "Ya Dewa, Ricis! Apa yang telah kau lakukan pada kemben dan jarik ini! Kau tahu tidak, betapa susahnya aku memesan ini untukmu! Sampai-sampai aku harus pergi jauh ke tempat pembuatannya!" jerit Nertaja, terkesan berlebihan bagi Ria. Pantas Ria pernah tidak menemukan batang hidung Nertaja di Majapahit selama lima hari belakangan. Ternyata wanita itu berkelana sangat jauh, demi mendapatkan pesanan Kakaknya. Sungguh Adik yang baik hati. Yang satu ini, Ria berikan apresiasi untuk tindakan Nertaja. Kira-kira setengah jam berlalu. Nertaja sudah selesai memasang kemben dan jarik di tubuh Ria, lengkap dengan hiasan di kepala maupun leher. "Nah, sudah selesai." Nertaja menatap puas hasil karyanya. Rupanya belum selesai sampai di situ. Ada satu lagi yang tertinggal. Sebuah selendang panjang mengkilap, Nertaja kenakan menutupi d**a Ria sampai ke lengan. Nertaja mengikat selendang itu menggunakan hiasan kemilau. Ria lantas melihat dirinya secara keseluruhan. Kesulitan melihat penampilannya, Ria mengambil ponselnya, kemudian mengarahkan kamera depan tepat menuju dirinya. "Widiihh, cakep banget gue! Gue kira hasil lo bakalan zonk, Ner. Udah suudzhon duluan gue. Awalnya gue pikir, gue bakal berakhir kayak jamet. Maap ye, sahabat." takjub Ria. Ia menepuk pundak sahabatnya itu, sebagai bentuk apresiasi. Ria berputar-putar, "Pinter juga lo, Ner, bisa kepikiran kek gini." Nertaja membuat Ria jadi bisa memakai kemben dan jarik tanpa memusingkan aurat yang terbuka. Rok yang lumrahnya di pakai wanita zaman ini di atas 10 centi mata kaki, Nertaja ubah jadi di lebih panjang menutupi pergelangan kaki. Bagian d**a serta lengan Ria pun tertutupi oleh selendang panjang. "Bentar ye, gue pakek hijab. Gak lama kok, cuma memtul nih kain doang." ujar Ria, mulai memasang hijabnya. Tatapan Ria tidak menatap Nertaja, melainkan fokus ke arah kamera. "Sama lipstick dikit sih, biar gak pucet." tambah Ria. "Ricis, ini apa?" tunjuk Nertaja, mengalihkan perhatian Ria. Putri Majapahit itu, menatap bingung dirinya yang berada di sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang tersebut. "Oh, ini ponsel. Ada juga orang yang nyebutnya HP, Handphone, macem-macem lah!" jawab Ria santai, melanjutkan memasang hijab. "Ingat gak, yang di bukit waktu senja itu. Kan, ada Sang Surya di benda ini. Inget gak?" Kepala Nertaja mengangguk dua kali, dengan tatapan yang tak terputus dari ponsel Ria. Ponsel Ria seperti sudah menghipnotis Putri Majapahit itu. "Selain bisa menangkap bentuk Sang Surya, benda ini juga bisa menangkap diriku?" tanya Nertaja polos. "Bukan hanya lo aja. Semuanya bisa benda ini tangkap." Ria sudah selesai memasang hijabnya beserta lipstick di bibir. Ria pun berdiri. Mengambil ponselnya, kemudian mendekat pada Nertaja. "Yuk, kita selfie. Biar ada kenang-kenangan selama gue di Majapahit, dan bukti kalo gue udah jadi time traveler!" ajak Ria, mulai memasang gaya. Sedangkan Nertaja sendiri, masih dilanda kebingungan. Malah bertambah. "Benda ini bisa menangkap diri kita juga?" "Tentu saja bisa! Jika Sang Surya yang jauh di langit saja bisa benda ini tangkap, apalagi hanya sekedar kita?" Jawaban Ria kali ini terdengar masuk akal. Walaupun rasa bingung Nertaja belum menghilang, putri Majapahit itu tetap menuruti permintaan Ria untuk berselfie. "Yok, Ner! Kita selfie, ya! Pakai gaya piss, gitu!" Ria mengarahkan Nertaja. Ia juga mencontohkan bagaimana Nertaja harus bergaya. Sangat kesusahan Nertaja menirukan jemari Ria yang membentuk tanda piss, seperti apa yang diperintahkan wanita itu. Dengan ekspresi kaku, Nertaja berselfie bersama Ria. Maklum, ini adalah kali pertama ia hidup, merasakan apa yang namanya berselfie. Bisa jadi ini menjadi yang terakhir. Gambar sudah ditangkap. Ria pun menunjukkan hasilnya. "Lumayan bagus sih, untuk orang yang baru pertama kali nyoba hal gini kayak lo, Ner." "Luar bisa hebat benda ini!" seru Nertaja. Mata Putri Majapahit itu berbinar cerah menatap benda pipih persegi panjang yang menampilkan dirinya bersama Ria. Ia jadi bisa melihat penampilannya saat ini, dan tidak ada rasa penasaran lagi. Kalau begini, ia tidak perlu menanyakan pendapat orang lain tentang penampilannya. Tiap hari bahkan detik, ia bisa melihat dirinya berulang-ulang. Karena penilaian orang bisa saja dibuat-dibuat agar dia merasa senang. "Iya dong! Semua benda di masa depan emang hebat-hebat!" ucap Ria sombong. Padahal bukan dia yang menciptakan benda-benda hebat ini, tetapi anehnya malah menyombongkan diri. "Apa masih banyak lagi benda-benda hebat lainnya di masa depan?" "Banyaaakkk banget! Gak terkira deh!" jelas Ria layaknya anak kecil. "Sungguh! Beri tahu aku benda masa depan lainnya!" pinta Nertaja bersemangat. "Yah, Ner, nanti aja lah. Ingat, pesta rakyat mau di mulai loh." "Oh, astaga! Saking penasaran dan bersemangatnya, aku sampai lupa kalau ada perayaan saat ini!" Nertaja menghela napas pasrah. Padahal ia sudah sangat bersemangat sekali ingin mengetahui benda di masa depan. Tetapi, terpaksa keinginannya itu harus tertunda. "Baiklah, lain kali saja. Tapi, aku ingin kau secepatnya menunjukkan hal-hal hebat lainnya di masa depan, Ricis!" "Iya, iya!" "Kau harus berjanji dahulu, baru aku merasa tenang." "Iya, iya, janji... Setelah ntuh Putri Padjadjaran sama Ibunda lo pulang, elo gue ajak nobar." Nertaja yang sebentar lagi ingin bertanya apa itu Nobar, segera Ria hentikan. "Eiitss, stop! Gue tau, lo kepo apa itu nobar! Nanti gue bakal jelasin! Simpen dulu pertanyaan lo sampai ntuh Putri Padjadjaran dan Ibunda lo pulang. Paham?" "Baiklah," pasrah Nertaja berwajah lesu. Dua kali ia sudah dibuat kecewa. "Oke, ayo kita keluar untuk bergambung bersama dengan yang lain." ajak Ria. Entah mengapa Ria menggenggam jemari Nertaja erat. Biasanya tidak pernah. Aneh saja, Ria merasa gugup. Rasa gugup ini sangat besar. Bisa Ria rasakan, sebab sekarang jantungnya berdetak tak normal. Di tambah lagi, kedua telapak tangannya mulai mengeluarkan keringat. Pertanda apakah ini? Apa yang sebenarnya akan terjadi? "Bismillah aja deh, moga gak terjadi apa-apa. Ya Allah, lindungilah Ria dan lancarkanlah semuanya. Aamiin..." doa Ria di batin. Satu-satunya yang bisa menolong dia hanya Allah, Tuhan-Nya. °°° Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN