Hanya Kita Berdua
Akhirnya semuanya kembali ke semua. Muya dan Ken kembali pada aktivitas masing-masing. Dengan kesibukan mereka berdua yang sangat tak tertandingi. Ken mulai sibuk dengan berbagai operASI-nya. Dan Muya pun mulai sibuk dengan berbagai pemotretan juga syuting kejar tayangnya.
Mereka hanya bertemu pada malam hari. Mereka bahkan tidak sempat untuk makan siang bersama. Waktu mereka hanya makan malam saja.
Seperti malam ini. Udara sudah mulai dingin. Muya sudah membantu bibi pelayan untuk menyiapkan beberapa masakan kesukaan sang suami tercintanya Ken . Muya sudah menata meja makan dengan sangat cantik. Bel pun berbunyi dan Muya dengan cepat berlari ke arah pintu untuk menyambut sang suami tercinta.
Ceklek.
Muya membuka pintu ruang tamu. Dan terlihat sang suami sudah tersenyum menantinya.
“Kangeenn,” rengek Muya sambil memeluk sang suami di pintu.
"Uwwhh sama dong,” ucap Ken sambil membalas pelukan sang istri tercinta.
“Ayo masuk sayang dingin nih!” ujar Ken dengan senyumannya.
“Okay deh Sayang.” Muya menorehkan senyum bak bidadari. Lalu mereka pun masuk ke dalam mansion mereka.
“Sayang apa mau langsung makan, atau mandi dulu?” tanya Muya sambil tersenyum pada sang suami.
“Sepertinya mandi dulu saja ya,” ucap Ken sambil mencubit hidung Muya dengan gemas.
“Ih sakit tau, Kak,” ucap Muya dengan mulut yang manyun sambil memegangi hidung yang tadi di cubit oleh Ken . Dan Ken hanya terkekeh melihatnya.
“Masa gitu aja sakit sih, Sayang.” Ken tertawa pelan.
“Iya lah Kak,sini aku cubit kakak gantian,” ucap Muya.
“Oh tidak, Sayang.”
“Kok tidak sih, menyebalkan ih kakak,” ucap Muya manja.
“Itu karena memang kamu itu menggemaskan sayangku cintaku istriku yang cantik,” ucap Ken dengan senyuman nakalnya.
“Ih kakak, yasudah kali ini aku memaafkan kamu kak, sudah sana pergi mandi, aku tunggu di meja makan ya sayang,” ucap Muya sambil mendorong tubuh Ken menjauh darinya.
“Iya baiklah.”
Lalu Ken segera naik ke lantai dua untuk menuju ke kamarnya. Ken masuk ke kamarnya dengan wangi melon yang menyengat. Sebuah parfum kesukaan sang istri. Sebuah Foto pernikahan terpajang di dinding atas tempat tidur mereka. Sangat cantik menambah aura kebahagiaan.
Ken lalu menyimpan tasnya dan langsung membuka bajunya. Lalu masuk ke kamar mandi. Ken mulai membersihkan badanya dari sisa keringat yang mengucur karena lelah melakukan operasi. Hari ini dia sangat kelelahan karena ada hampir 20 operasi dia tangani. Kalinya bahkan terasa amat pegal karena terusterusan berdiri.
Ken mandi menggunakan air hangat dan sepertinya dia sangat segar.
Ken keluar dari kamar mandi dan membuka lemarinya lalu mengambil baju santainya. Setelah mengenakan baju lalu Ken turun ke lantai bawah menuju keruang makan untuk menyantap makan malamnya.
Dari kejauhan sang istri sudah tersenyum dengan manis. Sungguh membuat hati Ken bahagia. Dia sungguh mencintai Muya dengan segenap hatinya.
Ken berjalan perlahan dan duduk di kursi di samping Muya. Muya dengan sigap lalu menyiapkan piring untuk suaminya makan. Muya memenuhi piring sang suami dengan makanan kesukaan suami tercintanya.
"Wah ini terlalu banyak Sayang,” kata Ken terkekeh karena Muya memberinya porsi besar.
“Sayang ini harus dimakan dan dihabiskan,” tutur Muya.
“Sayang ini terlalu banyak, kamu tega pada suamimu ini, Dek,” ucap Ken merasa takut melihat porsi makannya yang banyak.
“Sayang kamu tuh cape, makanya harus makan banyak,” kata Muya sambil mengambil sendok makanya dan hendak menyuapi sang suami.
"Ya Tuhan baru kali ini kakak lihat porsi makan sebanyak ini, Sayang kamu menghukum Kakak?” tanya Ken.
“Ko ada sih Sayang, ayo makan aaa ... kata Muya sambil menyuapi sang suami makan.
“Kalo seperti ini, Kakak mau tidak mau harus makan ya!”
“Iya dong Sayang aaa.” Dan Ken pun menerima suapan demi suapan dari sang istri tercintanya.
“Sudah-sudah jangan menyuapiku seperti ini lagi karena memang kamu juga harus makan dong sayang, Masa cuma kakak yang makan sendirian" Ucap Ken.
“Oke aku akan makan,tetapi kakak harus berjanji ya menghabiskan makanan kakak, oke!” ucap Muya dengan senyumannya. Dan Ken pun mengangguk sambil mengunyah makanannya.
“Ini enak nih,” ucap Muya sambil mengambil udang dan menyimpannya di piring miliknya. Muya sangat suka lobster.
Muya suka sayuran dan buah. Kecuali nasi. Muya tidak pernah makan nasi karena dia harus diet nasi untuk penampilanya.
Diet ala Muya ini sedang trend di kalangan selebriti dan tentunya membuat para fans mengikuti Gaya hidupnya Muya yang makan tanpa nasi.
Cuma makan sayur buah dan daging. Muya menyantap semua lobster yang ada di piringnya. Lalu mengambil sayur brokoli dan minum jus jeruk. Muya terlihat menikmati makanannya.
Muya asik makan dan tidak menyadari kalo seseorang sedang memperhatikanya. Iya siapa lagi kalo bukan suaminya Ken.
Ken memperhatikan sang istri makan sampai lupa bahwa dirinya pun sedang makan. “Kakak lupa makanan kakak belum habis, malah menonton aku makan?” tanya ucap Muya tertawa.
“Karena kamu sangat cantik ketika makan,” ucap Ken dengan senyuman manisnya. Lalu mulai makan kembali.
Mereka lalu makan dengan sangat nikmat. Setelah selesai makan mereka bersantai hanya untuk menonton televisi. Bersenda gurau hanya berdua.
Mereka adalah pasangan yang sedang dimabuk cinta.
Rasa lelah mereka karena pekerjaan hilang sudah. Mereka merasa sangat bahagia berada di rumah mereka berdua saja walau mereka belum memiliki seorang bayi tapi mereka berdua bahagia.
Dengan aktivitas mereka yang sibuk mereka masih bisa menghabiskan malam panas mereka bersama. Bukan cuma malam panas tetapi malam dingin pula. Mereka bahagia dengan keadaan seperti ini.
Walau kadang rasa ingin memiliki seorang bayi sangat kuat tetapi mereka menikmatinya dengan santai.
“Hanya kita berdua kak,” ucap Muya sambil meneguk teh hangatnya.
“Iya sayang, bersabarlah untuk hal itu,Tuhan belum memberikan kita Rizki,” ucap Ken dengan senyumannya.
“Oke walau hanya kita berdua tapi kita bahagia Kak … aku bahagia, apa Kakak juga bahagia?” tanya Muya.
"Jelas saja Kakak bahagia, memiliki istri secantik kamu, sebaik kamu, dan wanita yang sangat kakak sayangi, kakak sangat bersyukur tentang itu,” ucap Ken dengan senyumannya.
Lalu Ken mengecup kening sang istri dengan sangat lembut dan membelai rambut panjang istrinya dengan sentuhan yang sangat halus.
“Makasi, ya, Sayang sudah menjadi suamiku,” ucap Muya.
“Harusnya kakak yang bilang begitu, makasi ya sayang sudah menjadi istriku.”
“Iya sayang sama-sama, kita begini cukup bahagia Kak.”
“Bukan cukup, tetapi lebih sayang, kakak merasa sangat bahagia hidup berdua denganmu, sabar ya sayang nanti kita akan bertiga berempat dan berlima, tunggu waktunya tiba,karena usia pernikahan kita saja baru dua Minggu hehe,” ucap Ken terkekeh.
“Iya betul sayang."
“Ayo tidur yuk, Sayang!” ajak Ken.
“Ayo sayang Ade aja sudah lelah banget,” ucap Muya dengan senyumannya.
Mereka pun segera berjalan menuju kamar. Dan mereka pun tertidur dengan lelap.
***
Di lokasi syuting
“Muya kamu pakai baju ini bagus deh,” ucap Bruno sang tatarias.
“Oke,” ucap Muya singkat.
“Tapi apa iya ini baju dari DV, ko beda sih bentuknya?” tanya Muya curiga.
“Iya itu bukan milik DV tapi kamu pakai saja, sekarang tuh kamu bakalan menjadi lebih terkenal mengenakan baju itu, itu baju dari aku sebagai hadiah pernikahan buat kamu,” ucap Bruno dengan senyuman.
"Yasudahlah, aku pakai ya, makasi Bruno,” desah Muya sambil membawa bajunya ke ruang ganti dan kini hendak berganti baju untuk pemotretan sebuah majalah terkenal.
Muya telah berganti baju dan keluar dari kamar ganti. Semua orang sangat terpana melihat betapa anggunya Muya mengenakan baju itu.
Lalu pemotretan pun segera dimulai. Muya bergaya dengan sangat cantik. Dan membuat semua orang kagum dan banjir pujian.
"Wah Muya benar-benar cantik ya,” ucap salah satu kru.
"Jelas dong dia adalah bidadari,” ucap Bruno dengan senyuman bangganya karena sudah mendandani Muya bak bidadari.Tiba-tiba saja sesuatu jatuh hampir mengenai kepala Muya.
Brukkk.
“Aaaaahhhhhh!” jerit Muya terkejut. Sebuah benda jatuh ternyata itu adalah lampu penerangan khusus untuk syuting. Jatuh tepat di depan Muya dan mengenai kaki Muya.
"Ya Tuhan modelku terluka!!” teriak Bruno. Dan langsung menggendong Muya.
“Aduh kakiku,” rengek Muya kesakitan.
Darah segar mulai keluar dari kakinya Muya. Semuanya terlihat panik melihat Muya sampai berdarah. Lalu dengan segera Bruno membawa Muya ke rumah sakit untuk diobati.
Sepanjang jalan Muya terus menangis karena kesakitan. Dan Bruno mencoba mengemudi dengan sangat kencang.
Akhirnya mereka sampai di IGD rumah sakit Yaw. Muya langsung ditangani oleh dokter. Lukanya tidak terlalu parah namun karena Muya syok jadinya Muya terasa mual dan pusing.
Kini wartawan sudah bergemuruh di depan rumah sakit. Ingin menerobos masuk untuk mewawancarai Muya. Namun pihak keamanan rumah sakit menjaga ketat karena takut mengganggu pasien lainya.
Muya masih di IGD sedang dilakukan penjahitan pada luka di kakinya.
***
Ken baru selesai melakukan operasi usus buntu. Dan kini Ken ingin beristirahat di ruang dokter dan perawat.
"Dok,” ucap salah satu perawat.
“Iya ada apa,” jawab Ken dingin.
“Maaf dok sepetinya istri anda ada di IGD."
“Apa maksud Anda Liza?”
“Iya saya tadi ke IGD sebentar ternyata saya melihat istri anda nona Muya Liau sedang di lakukan penjahitan pada luka kakinya,” ucap Dokter Liza dengan jelas.
“Kamu jangan bercanda dong!” Ken tersenyum masam.
“Saya serius Dokter Ken, bukankah istri Anda artis itu kan, Muya Liau.”
“Iya dia istri saya.”
“Iya dia memang ada d IGD silahkan anda mengecek sendiri,” ucap Liza.
“Baiklah.” Ken dengan segera meninggalkan Liza dan berjalan cepat menuju ke ruang IGD.
Ternyata benar saja Muya sedang terbaring lemah di tempat tidur. Ken segera berlari dan memeluk Muya dengan erat.
“Sayang kenapa ada di sini,” ucap Ken dengan cemas.”
“Kakiku sayang,” ucap Muya pelan.
“Ada apa dengan kakimu,” ucap Ken sambil melihat dan memeriksa kakinya Muya.
“Sesuatu jatuh menimpa kakiku, sakit sekali kak." Rengek Muya kesakitan.
"Ya Tuhan kenapa bisa, terus siapa yang bertanggung jawab kalo sudah begini?” tanya Ken cemas.
“Sudahlah Sayang, ini hanya sebuah kecelakaan! lirih Muya sambil menggenggam tangan sang suami tercinta.
“Mana asisten kamu Sayang,” ucap Ken cemas.
“Bruno keluar untuk menghalau wartawan kak ... sepertinya mereka ingin menerobos masuk,” ucap Muya pelan.
"Yasudah Sayang kita pindah jangan di sini,” ucap Ken sambil menggendong Muya dan mendudukan Muya di kursi roda.
“Kita pindah ke mana kak.”
" Ke lantai 7 rawat inap yang dekat dengan kantorku," kata Ken sambil mendorong kursi rodanya Muya.
Dan Muya hanya terdiam menurut saja pada suaminya.
Kini Muya sudah sampai ke kamar rawat inap lantai 7. Ken menggendong Muya dan menidurkan Muya di tempat tidur.
“Kak ini kamar rawat inap apa hotel bintang lima ?” tanya Muya sambil memandangi seluruh ruangan.
“Ini kamar rawat inap super VIP Sayang, semua rumah sakit besar memilikinya,” ucap Ken dengan senyumannya.
“Aku bahkan belum pernah dirawat inap kak jadi mana aku tau,” ucap Muya pelan.
“Iya kamu gak boleh sakit Sayang.” karena aku akan sangat cemas jikalo kamu sakit,kamu adalah hidupku,” ucap Ken sambil menggenggam tangan Muya dengan lembutnya dan Muya tersenyum dengan manis.
“Kaki Ade masih sakit kak,” ucap Muya manja.
“Iya Sayang kamu istirahat ya, kakak janji akan selalu meneman kamu Sayang,” ucap Ken dengan senyumannya.
“Terima kasih Sayang,” ucap Muya dengan senyum manisnya. Ken menemani Muya sampai akhirnya Muya terlelap.
***
Kai sudah selesai meeting dan kini Kai masuk ke ruang kerjanya. Kai lalu menyalakan televisi dan terlihat mereka sedang melakukan siaran langsung di depan rumah sakit Yaw. Mereka sedang menunggu kabar Muya.
“Adik ipar kenapa dia.”Wajah Kai tiba-tiba terlihat suram. Lalu dia mengambil ponselnya. Dan langsung menghubungi seseorang.
“Hallo,” ucap Kai.
“Iya Kai ada apa.”
“Ada apa, televisi sedang menyiarkan soal istrimu apa kamu tidak tau?” tanya Kai.
“Muya tadi memang kecelakaan tetapi syukurnya dia tidak terluka terlalu parah,” ucap Ken.
“Syukur deh, jadi apanya yang terluka?” tanya Kai.
“Hanya kakinya saja Kai, kamu tenang saja, berita ini Takan membuat saham kita jatuh ko,” ucap Ken terkekeh.
“Apa maksud mu, aku hanya khawatir adik ipar kenapa-kenapa, sama sekali tidak memikirkan saham,” ucap Kai dengan nada tinggi. Menutup telepon selulernya.
"Dia itu benar-benar ya bikin kesal saja, lagian ada apa denganku, kenapa harus menelepon segala, bikin kesal saja,” ucap Ken dalam hatinya. Lalu Ken segera beranjak menuju ke sebuah restoran. Berniat untuk melakukan meeting dengan klien.
Sepanjang perjalanan Kai menonton YouTube tentang berita adik iparnya.
"Dia terkenal sekali,” ucap Kai pelan.
“Siapa pak?” tanya supir.
“Adik iparku ternyata terkenal,” ucap Kai pelan.
“Iya pak nyonya muda memang sangat terkenal," jawab supir.
Mendengar ucapan supirnya Kai pun terdiam. Sambil melihat-lihat gambar Muya. Kai memang tidak dekat dengan Muya namun sebagai kakak iparnya Kai merasa cemas jika terjadi sesuatu pada adik iparnya.
Pada dasarnya Kai memang sangat menyayangi keluarganya dan kini Muya sudah menjadi anggota keluarganya. Sehingga Muya pantas untuk di khawatirkan.
Kai memang selalu megutamakan keluarga ketimbang dirinya sendiri. Dan Kai kini mengkhawatirkan kondisi Muya selepas kesecalakaan itu. Kai dalam perjalanan ke tempat meeting entah kenapa dia hanya melamun saja. Dia terdiam seribu bahasa.
“Permisi tuan muda, sudah sampai,” ucap pak sopir,namun Kai masih terdiam.
“Pak maaf sudah sampai.”
”Loh cepat sekali,” ucap Kai terheran.
Lalu pak supir pun langsung pergi memarkirkan mobilnya. Kai masuk ke dalam resto yang sudah di sepakati. Lalu duduk diruang yang sudah dipesan.
Sambil menunggu, Kai membuka ponselnya kembali.
Sekali lagi dia melihat berita-berita tentang adik iparnya. Banyak sekali berita terpajang baik itu di youtube atau dalam berita gossip selebriti. Karena memang Muya sangat terkenal dan Kai baru menyadari itu.
Untuk pertama kalinya dia menjadi lebih suka menonton berita gossip selebtiti. Bukan lain hanya untuk mendengar kabar tentang adik iparnya.
Rasa sayangnya terhadap keluarga memang cukup kuat. Dan kini Kai mulai merasa sayang terhadap adik iparnya.