Honeymoon Vol 2

1107 Kata
Muya yang sedang berendam di bath up, tiba-tiba mendapat telepon dari sang manajer. Manajer itu meminta foto Muya bersama Ken agar menjadi trending topik. Ia menyetujuinya, lalu memanggil Ken. Sang suami pun segera masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu tersenyum melihat Muya sedang berendam air busa, istrinya lalu meminta mereka untuk selfie. Setelah itu Ken mencium pipi Muya dan selfie kembali. Muya dengan segera mengirimkan foto itu ke manajernya. Manajernya langsung posting di i********: Muya dengan judul ’mandi pagi’. Banyak komentar baik dan ada juga komen jelek. Tetapi itu memang disengaja oleh manajernya Muya agar Muya menjadi trending topic. Muya senang karena dia sudah mendapat like lebih dari 50 ribu. Seminggu sudah mereka cuti dan honeymoonnya pun selesai. Muya harus rela untuk pulang ke rumah dan memulai aktivitas mereka. Tetapi tidak dipungkiri mereka sangat menikmati waktu seminggu honeymoon mereka. Dan mereka adalah pengantin baru yang sangat bahagia. *** Kai sedang serius menandatangani beberapa file penting. Tiba-tiba asistennya datang dan menyalakan LED TV-nya. “Ada apa ini, James?” tanya Kai kesal karena asistennya James menyalakan TV. Kai tidak suka kebisingan dan sangat jarang nonton TV apalagi clubing. "Lihat, Pak, sepertinya adik Anda menjadi trending topix,” ucap James dengan senyumannya. Kai mencoba melihat TV yang sedang panas memberitakan honeymoon panasnya pasangan Ken dan Muya. Ah sepertinya Ken sangat bahagia,” ucap Kai sambil menonton TV. "Lihat, Pak, bahkan Nyonya Muda menggunggah foto romantis di bath up,” kata James dengan senyuman senang. “Bahkan itu cuma foto kaki mereka,” ucap Kai dingin sambil terus menatap layar TV. “Ah, itu sangat romantis, Pak, bisa mandi bersama gadis cantik, ah, saya sangat—” "Cukup, James, kita kembali bekerja.” Ucapan Kai menghentikan James berbicara. “Baiklah, Pak,” kata James menurut. James lalu pergi meninggalkan ruangan CEO. Setelah James pergi Kai lalu mengambil ponselnya dan membuka internet hanya untuk melihat info terbaru yang sedang hangat. Kai juga melihat bahwa netizen sedang ramai membicarakan adiknya. Dan Kai pun ikut berkomentar pada fotonya Muya. “Berbahagialah," tulis Kai di komentarnya. *** Muya terkejut melihat akun bernama OneYaw_Kai berkomentar. Apa ini kakak ipar,” kata Muya dalam hatinya. Muya tersenyum lalu membalasnya. LiauMuya_. “Thanks kak OneYaw_Kai,” balas Muya pada kakak iparnya. Lalu Muya pun tersenyum. Muya memang tidak begitu mengenal kakak iparnya. Muya ingin lebih mengenal kakak iparnya karena Muya bahkan baru pertama kali bertemu dengan kakak iparnya pada saat pernikahan waktu itu. *** Ken sudah siap dengan pakaian santainya dia hendak mengajak Muya berjalan-jalan sekitaran Hokkaido.Dan Muya pun sudah bersiap. Memang bulan Februari adalah bulannya salju dan udara begitu dingin. Walau dengan jaket yang berlapis dan sangat tebal Muya masih terlihat kedinginan. Mereka membeli beberapa oleh-oleh. Membeli beberapa baju dan tentunya baju bayi. Padahal mereka masih pengantin baru namun Muya sudah ingin membeli jaket mungil untuk buah hatinya kelak. Ken menyetujui keinginan sang istri. Karena dia juga yakin suatu hari mereka akan bisa memaKaikan jaket mungil itu untuk bayi mereka. Setelah puas berbelanja mereka pun bergegas kembali ke hotel. Udara yang sangat dingin membuat mereka sangat ingin mandi air hangat. Dan sesampainya di kamar hotel mereka pun berniat berendam air hangat di bathtup. Dan benar saja mereka akhirnya berendam bersama dalam bath up yang terisi air hangat. Itulah indahnya pacaran setelah menikah. Selang waktu berganti akhirnya masa honeymoon mereka pun selesai. Mereka harus kembali ke rutinitas masing-masing. Muya sebagai seorang model dan Ken sebagai seorang dokter bedah. Tetapi mereka sangat menikmati pekerjaan mereka dengan segudang kesibukan yang menguras energi dan juga waktu. Pesawat akhirnya mendarat di tanah air. Sepertinya para wartawan sudah menunggu kedatangan mereka. Entah mereka mencium kabar dari mana. Tetapi yang pasti mereka selalu mendapatkan kabar terbaru tentang Muya dan Ken. Mereka sungguh fantastik. Muya dan Ken berjalan bergandengan tangan dan tangan ken yang lain menarik koper mereka. Para wartawan terlihat berisik dengan seribu pertanyaan. Cahaya kamera sudah seperti kerlip bintang di langit. Ken masih belum terbiasa dan sedang Muya sudah sangat biasa. “Kakak cukup tersenyum saja,” ucap Muya pelan. “Oke,” ucap Ken sambil tersenyum. Kini Ken dan Muya hanya bisa mengumbar senyum. Mereka membisu tak satupun pertanyaan wartawan mereka jawab. Karena memang mereka sedang tidak mau di wawancara. Para wartawan terus mengikuti Muya sampai Muya dan Ken masuk ke dalam mobil jemputan. Akhirnya mobil melaju meninggalkan para wartawan yang kehausan berita. Ken menghela napas panjang. Sepertinya dia merasa lega karena sudah bisa menghindari para wartawan itu. Mobil yang mereka kendarai sudah melaju jauh meninggalkan para wartawan itu. “Apa Kakak masih belum terbiasa?” tanya Muya sambil menatap sang suami penuh kecemasan. Ken tersenyum manis sambil mengangguk. Lalu Muya bersandar di d**a Ken dan Ken hanya terdiam saja. “Kakak harus membiasakan diri bertemu dengan mereka, Kakak akan sering bertemu mereka,” ucap Muya dengan pelan. “Iya akan kakak usahakan sayang!” ucap Ken sambil mengelus rambut Muya dengan sangat lembut. “Apalagi kalo nanti aku hamil, Sayang, mereka pasti akan datang ke kediaman kita setiap hari,” ucap Muya dengan senyuman manjanya. “Kakak baru sadar kalo yang Kakak nikahi ini adalah seorang selebriti terkenal, kakak benar-benar sangat beruntung bisa memilikimu, Sayang,” ucap Ken dengan suara seraknya. Mengelus rambut Muya perlahan dan mengecup kening Muya dengan sangat lembut. Muya sangat menginginkan seorang bayi tumbuh di rahimnya. Ken harus berusaha keras untuk itu. Lamunan mereka soal bayi tiba-tiba terhenti karena mobil yang mereka tumpangi ternyata berhenti mendadak. “Aww!!” teriak Muya karena hampir saja kepala Muya terantuk. Untungnya Ken memeluk Muya dengan erat sehingga Muya terlindungi. Sedangkan Ken sendiri ternyata kepalanya sudah berdarah tanpa dia sadari. "Ya Tuhan, Kak, berdarah, Paman kenapa tidak hati-hati dalam mengemudi, lihat suamiku sampai berdarah begini!!” teriak Muya membentak sopir itu. “Maaf, Nyonya Muda, di depan tadi ada anak kecil lewat secara tiba-tiba,” ucap pak sopir dengan gagap membela diri. “Anak kecil,mana dia sekarang.” “Sudah berlari, Nyonya." “Sudahlah, Sayang, Kakak tidak apa-apa,” kata Ken dengan pelan. “Tapi sampai berdarah begitu jidatnya Sayang, aku kan cemas.” Muya cemas. “Sungguh tidak apa-apa ko Sayang, dan sepertinya tidak ada yang robek,” ucap Ken sambil melihat jidatnya di kaca. “Tapi itu berdarah Kakak, apa kita harus ke rumah sakit sekarang Kak?” tawar Muya merengek. “Tidak apa-apa cuma begini saja ko, jangan terlalu cemas dong sayang, kakak baik-baik saja,” ucap Ken dengan senyumannya. “Kak nanti Sampai rumah kita obatin ya sayang.” “Tidak usah sayang.” “Kak nanti infeksi.” “Tidak apa-apa dioles obat merah juga sembuh ko, Sayang." "Loh ko begitu?” “Kakak sudah biasa Sayang, sudahlah,” ucap Ken sambil memeluk Muya dengan lembut. Kini Muya hanya bisa menurut saja, kening Ken agak berdarah dan dia tidak mau ke rumah sakit. Padahal Muya merasa sangat cemas. Sopir itu lalu melanjutkan perjalanan dengan sangat hati-hati. Karena takut hal seperti tadi terulang lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN