“A-aku?” Keyshia memiringkan kepalanya lalu memberikan senyum lebarnya pada Ashton.
“Iya, kamu. Di mana temanmu?” Ashton tidak jadi menanyakan keadaan Keyshia karena reaksi yang ditunjukkan Keyshia sangat jauh dari kata baik-baik saja.
“Teman?” Dahi Keyshia mengerut sebelum kembali tersenyum lalu menggeleng. Tangannya kemudian dengan cepat menahan kepalanya lalu meletakkan kepalanya ke atas meja. Dia pusing, tapi tidak sampai membuat dirinya harus merebahkan kepalanya seperti ini.
“Sialan,” umpat Ashton.
Walau suara musik dan tawa terdengar keras, Keyshia masih cukup dengar jika Ashton baru saja mengumpat.
Seharusnya aku mabuk saja di saat seperti ini! teriak Keyshia dalam kepalanya.Dia takut jika akting mabuknya ini ketahuan oleh Ashton. Apalagi saat ini Ashton terlihat berbahaya.
“Kamu benar-benar gila,” lanjut Ashton.
“Hehehe… apa maksudmu?” Keyshia menegakkan kembali tubuhnya. Dia kembali mengambil gelas berisi alkohol lalu menenggaknya. Hanya beberapa tenggak sebelum Ashton menarik gelas itu.
“Hey!” seru Keyshia kesal. “Aku haus!” Keyshia mencoba mengambil gelas itu dari Ashton.
“Sekarang telepon temanmu itu. Apa kamu tidak belajar dari pengalamanmu yang sebelumnya?!”
“Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan.” Keyshia masih mencoba menggapai gelas miliknya. “Kembalikan itu.”
Ashton menghela napas lelah. Sebelah tangannya yang bebas dia gunakan untuk mengambil tas milik Keyshia. Dia kemudian menyerahkan tas itu kepada pemiliknya.
“Telepon temanmu itu!” perintah Ashton tegas.
“Te-telepon?”
“Ya!”
Keyshia diam memandangi Ashton dengan tatapan sayunya. Diamnya Keyshia sebenarnya karena dia mencoba mencari akal.
Ashton berdecak. Dia membuka tas milik Keyshia. Keyshia yang melihat itu sontak menarik tasnya.
“Apa kamu pencuri ah?!”
Suara Keyshia yang keras membuat beberapa orang yang kebetulan melewati mereka berhenti. Ashton yang hanya berniat untuk membantu tampak panik karena dituduh ingin mencuri.
“Dia temanku,” jelas Ashton singkat.
“Oh benarkah?” Orang itu tidak percaya.
“Keyshia.” Ashton menoleh ke Keyshia, meminta Keyshia untuk memberikan penjelasan.
“Teman?” Keyshia malah balik bertanya yang membuat Ashton semakin tajam menatapnya. “Hehehe… iya dia temanku.”
Keyshia tidak tahu jika ucapannya akan didengar oleh seseorang dan akan menimbulkan kesalahpahaman seperti ini.
Orang tadi pun berlalu melewati mereka yang membuat Ashton melemparkan tatapan tajamnya pada Keyshia. Keyshia semakin dibuat tidak karuan, tapi karena sudah terlanjur berakting, dia harus menyelesaikannya bukan?
“Lebih baik kita keluar untuk menelepon temanmu.” Jika bukan karena dia kasian, Ashton tidak akan mau membantu Keyshia sampai seperti ini.
“Oke.” Keyshia berpegangan pada pinggiran meja agar terlihat seolah-olah lemas. Untuk sesaat Keyshia terdiam, matanya memandangi gelas miliknya yang baru saja Ashton letakkan lagi. Masih tersisa sedikit, jika dia ambil dengan cepat, mungkin dia dapat menghabiskannya.
“Jangan sekali-kali berpikir untuk meminumnya.”
Ashton menarik Keyshia hingga Keyshia menubruk tubuh Ashton. Keyshia berpegangan dengan erat di lengan Ashton. Dia bahkan sampai menletakkan kepalanya di lengan kekar itu.
Perlakuan Keyshia dibiarkan Ashton. Mereka pun berjalan beriringan. Selama berjalan keluar dari club, Keyshia berusaha untuk jalan dengan tersendat-sendat hingga membuat Ashton kewalahan.
Di tengah perjalanan, Keyshia tidak sengaja berpapasan dengan Gabriela. Mereka berdua sama-sama kaget satu sama lain sebelum akhirnya Keyshia memberi kode dengan ekspresinya jika dia baik-baik saja.
Jika ditanya bagaimana keadaan jantung Keyshia, jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Saking kencangnya, dia seperti bisa mendengar suara detak jantungnya itu.
Lalu perjalanan panjang itu pun akhirnya berakhir saat mereka berhasil melewati pintu keluar.
“Bisa-bisanya kamu sangat bodoh dalam hal seperti ini,” cibir Ashton yang membuat Keyshia yang menunduk meringis.
Ashton melepaskan tangan Keyshia yang membuat tubuh Keyshia jatuh ke lantai.
“Sa-sakiiit!” Keyshia merengek. Dia memegangi dengkulnya yang beradu dengan lantai.
Ashton yang terpatung seketika tersadar lalu membantu Keyshia kembali berdiri, tapi Keyshia segera menolak bantuan itu.
“Kenapa kamu tidak berperasaan ah?!” Keyshia memukul Ashton. Saat memukul Ashton, Keyshia benar-benar memukul Ashton.
“Tahan sebentar saja, ya?!” ucap Ashton gemas lalu membawa Keyshia ke dalam gendongannya. Dia tidak ingin menjadi bahan tontonan, jadi akan lebih aman jika dia membawa Keyshia mobilnya sampai Keyshia dijemput oleh temannya itu.
Keyshia refleks berpegangan dengan kuat di bahu Ashton. Keyshia ingin meneruskan akting pura-pura kesalnya, tapi itu jelas akan sangat merepotkan karena bisa membuat orang lain salah sangka lagi. Jadi, ada baiknya jika dia melakukan hal lain yang lebih menguntungkan.
Keyshia perlahan melepaskan tangannya dari bahu Ashton. Tangannya itu pun mulai meraba d**a Ashton dengan gerakan s*****l. Ashton yang menggunakan kaos cukup ketat bisa merasakan semua sentuhan Keyshia itu.
“Apa yang kamu lakukan?” desis Ashton.
“Apa kamu pangeran?”
Pertanyaan itu membuat pandangan Ashton turun yang membuat matanya bertautan dengan mata Keyshia. Keyshia menyunggingnya senyum tipisnya yang membuat Ashton menghentikan langkahnya.
Ashton tertegun saat melihat senyum Keyshia. Ketertegunannya itu terhenti saat suara ponselnya berdering. Ashton pun melanjutkan langkahnya dengan cepat. Dia ingin segera mengangkat panggilan telepon itu.
“Apa kamu tidak bisa berhenti menyentuhku?” pinta Ashton.
Keyshia memilih untuk diam. Dia tidak mempedulikan ucapan Ashton dan terus meraba d**a Ashton. d**a pria itu keras dan besar. Keyshia merasa dirinya berdosa sudah melakukan hal itu, tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia bahkan sampai mengatakan maaf berulang kali di dalam kepalanya.
Panggilan telepon itu berhenti berdering saat Ashton akhirnya sampai di mobilnya. Ashton menurunkan Keyshia dengan hati-hati dan masih terus memeganginya hingga Keyshia bisa berdiri sendiri. Bukannya berdiri sendiri, Keyshia memilih untuk berpegangan pada Ashton.
Ashton tidak punya tenaga untuk berdebat dengan orang yang mabuk. Dia pun mengeluarkan kunci mobil dan membukanya. Dia memasukkan Keyshia ke dalam mobilnya. Sebelum menyusul Keyshia, dia mengirimkan pesan untuk Dave yang tadi meneleponnya.
Ashton: Aku akan datang terlambat.
Satu pesan singkat yang kemudian Ashton kirim tanpa melihat balasannya. Dia kemudian masuk duduk di kursi kemudi. Tapi apa yang Ashton dapatkan, Keyshia malah memejamkan matanya seakan-akan tertidur!
Dia menggoyangkan tubuh Keyshia cukup keras hingga kepala itu jatuh terkulai. Walau sudah jatuh terkulai, Keyshia sama sekali tidak membuka matanya yang membuat Ashton mau tidak mau membenarkan posisi Keyshia.
“Keyshia, bangun!” Ashton masih berusaha untuk membangunkan Keyshia.
“Kamu harus menelepon temanmu itu!”
Tidak ada balasan, Keyshia masih memejamkan matanya. Ashton yakin dia tidak lama di luar, tapi bagaimana bisa Keyshia tidur secepat ini?
“Kamu membuatku gila.” Ashton menarik tas Keyshia. Dia mengeluarkan ponsel Keyshia dan teringat jika ponsel itu hanya bisa dibuka dengan memasukkan password.
Jika seperti ini, dia hanya perlu menunggu Keyshia bangun atau menunggu teman Keyshia menelepon lebih dulu.
“Kamu selalu membuatku kerepotan.” Ponsel itu Ashton taruh. Dia mencoba menunggu panggilan dari teman yang membawa Keyshia ke club. Tapi sampai limabelas menit berlalu, tidak ada satu pun panggilan telepon.
“Sebenarnya teman macam apa yang kamu miliki?” Kesabaran Ashton sudah habis. Dia benar-benar dibuat gemas oleh Keyshia. Dia jadi tidak heran jika waktu itu Keyshia hampir mendapatkan pelecehan seksual karena gadis di sampingnya ini benar-benar lugu.
“Harusnya kamu tidak hidup di kota seperti ini.” Ashton mengeluarkan ponselnya. Dia harus memberi kabar pada Dave yang sedari tadi juga mengirimkannya pesan.
Ashton: Ada hal penting yang harus kulakukan. Jadi aku tidak akan datang.
Dave: Aku sudah menunggumu hampir satu jam dan kamu malah tidak jadi ke sini?!
Ashton: Maaf.
Ashton menyimpan kembali ponselnya. Dia kemudian menyalakan mesin mobilnya. Matanya bergulir ke arah Keyshia yang tidur dengan nyaman. Lalu dia tersadar jika dia belum memasangkan sabuk pengaman.
“Haah….” Helaan napas Ashton terdengar berat. Dia pun memakaikan Keyshia sabuk pengaman. Setelah selesai memasangkannya, dia tersenyum miris. Gadis di depannya ini adalah gadis yang merusak malam di mana dia harusnya menjernihkan pikirannya yang sudah kusut selama satu bulan lebih.
Ashton pun menjalankan mobilnya, keluar dari area club untuk menuju rumahnya.
“Seharusnya kamu memilih-milih teman yang harus kamu ikuti,” ucap Ashton tanpa peduli ucapannya itu akan didengar Keyshia atau tidak. Dia sudah terlalu kesal karena sampai saat ini tidak ada panggilan telepon atau pun pesan yang menanyakan keberadaan Keyshia.
“Bagaimana bisa teman-temanmu tidak sadar jika kamu tidak ada di sana?” Ashton sudah setengah perjalanan dan teman-teman Keyshia masih saja tidak mencari keberadaan Keyshia.
“Kamu tidak mungkin pergi ke club sendirian, kan?” Ashton melirik Keyshia. Jika mengingat apa yang sudah terjadi, Keyshia sudah pasti tidak akan pergi sendirian dan jika mengingat club yang dia datangi ini, sudah pasti Keyshia juga tidak akan mampu untuk masuk ke dalamnya.
Keyshia yang sedari tadi tidak tidur dengan posisi kepala yang tengadah ternyata membuat pencernaannya menjadi tidak nyaman. Dia yang sudah tidak tahan lagi dengan rasa mual membuka matanya.
Sambil menahan mulutnya, Keyshia memukul lengan Ashton.
“Akhirnya kamu bangun. Beritahu aku di mana rumahmu.” Ashton melirik Keyshia. Gaya Keyshia yang menutup mulutnya itu membuat mata Ashton melebar. “Kamu mau muntah?” tanya Ashton.
Keyshia mengangguk membenarkan. Ashton seketika panik. Dia mencoba untuk mencari tempat untuk berhenti. Tapi sebelum mobilnya sempat berhenti, Keyshia malah memuntahkan isi perutnya. Bunyi muntahan yang terdengar jelas di dalam mobilnya itu membuat Ashton tidak berani melihat ke arah Keyshia.
Saat Ashton akhirnya berhasil menepikan mobil dan berhenti. Pandangannya tanpa sengaja ke arah Keyshia hingga dia bisa melihat muntahan Keyshia yang banyak mengenai bagian mobilnya!
Mobil kesayangannya mendapatkan muntahan! Ashton yang tidak bisa berteriak hanya bisa mencengkram stir mobilnya dengan kuat.
“Sa-sakit…” lirih Keyshia. Bagian perut dan tenggorkannya sakit setelah muntah dan itu terasa tidak nyaman.
Ashton mencari masker agar bau muntahan Keyshia tidak tercium jelas. Setelah memakainya, dia yang tadi berniat menurunkan Keyshia untuk muntah di pinggir jalan urung melakukannya. Dia pun melanjutkan perjalanan dengan menekan pedal gas hingga mencapai kecepatan yang tinggi. Tujuan Ashton hanya satu, dia ingin cepat-cepat sampai rumah agar segera membereskan kekecauan yang Keyshia perbuat.
“A-apa ti-tidak bisa pelan-pelan?” Seumur hidupnya, Keyshia tidak pernah naik mobil dengan kecepatan setinggi ini.
“Jangan memacing emosiku, Keyshia.”
“Hehehe… kamu lucu.” Keyshia menyembunyikan ketakutan dibalik tawanya. Karena jika boleh jujur, Keyshia yang mendengar ancaman itu ingin menangis. Dia juga tidak percaya jika dia baru saja muntah. Ini jelas di luar skenarionya.