Sepanjang perjalanan Keyshia mencoba menguatkan dirinya. Di tengah keadaannya yang ternyata tidak baik-baik saja karena muntah, dia harus bertahan dari hawa tidak nyaman yang dibuat Ashton. Ashton saat ini adalah pria berbahaya yang bisa menendangnya keluar dari mobil ini dengan mudah.
Bukannya menarik perhatian Ashton dia malah membuat Ashton membencinya. Jika itu terjadi, haruskah dia memberitahu Sheena? Tapi, apa Sheena tetap akan membayarnya? Lalu bagaimana dengan pekerjaan yang sudah dia buang?
Keyshia mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tentu tidak boleh mengatakan hal itu sampai dia mendapatkan pekerjaan baru.
Mobil Ashton memasuki halaman rumahnya lalu berhenti tepat di depan pintu. Dengan secepat kilat dia berlari ke arah pintu lalu membukanya lebar-lebar. Barulah setelah itu dia berhenti tepat di depan pintu penumpang di mana Keyshia berada.
Keyshia berada dalam keadaan setengah sadar, jadi mau tidak mau Ashton harus menggendong gadis itu untuk sampai ke kamar tamu. Tapi akan sangat merepotkan jika bekas muntahan itu mengenai lantai rumahnya.
Ashton mengambil napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Dia mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya untuk mengeluarkan dan menggendong Keyshia.
Ashton mengetuk jendela yang membuat Keyshia mengangkat kepalanya lalu menoleh. Dari balik jendela, Keyshia menatapnya sendu. Bibirnya yang mengerucut itu entah kenapa membuatnya terlihat lucu.
“Ya Tuhan.” Ashton menggeleng lalu membuka pintu mobilnya.
Dengan hati-hati Ashton membuka sabuk pengaman Keyshia.
“Ambil tasmu itu,” perintah Ashton namun tidak didengarkan Keyshia.
Ashton mencondongkan tubuhnya untuk mengambil tas Keyshia. Itu bukan sesuatu yang mudah bagi Ashton, tapi dia masih cukup bersabar untuk melakukannya. Setelah mendapatkan tas itu, Ashton memakainya.
“Aku akan menggendongmu!” ucap Ashton keras agar Keyshia mendengarnya.
Keyshia memilih diam hingga Ashton mengambil tindakan untuk menggendongnya. Dalam gendongan Ashton kali ini Keyshia masih memilih untuk diam karena dia cukup tahu diri jika dirinya sudah kotor karena oleh percikan muntahannya sendiri. Bahkan aroma tubuhnya sangat tidak sedap.
Sebelum membawa Keyshia ke kamar yang ada di lantai dua, Ashton lebih dulu membawa Keyshia ke kamar mandi yang ada di lantai satu. Dia menurunkan Keyshia dengan hati-hati di atas closet yang tertutup.
“Kamu harus membuka bajumu.”
“Hah?” Keyshia merasa pendengerannya bermasalah. Tidak mungkin Ashton bernafsu padanyakan? Situasi ini terlalu aneh untuk dilanjutkan ke tahap itu.
Melihat tingkah Keyshia yang seakan akan diperkosa membuat Ashton mendengus geli. Dia berbalik untuk mencari bathrobe dan handuk tangan lalu berucap, “Bajumu terkena muntahan. Kamu bisa menggantinya sendiri, kan?”
Pertanyaan Ashton membuat Keyshia terdiam. Jika dia menjawab bisa, tidakkah Ashton akan curiga jika dia sudah tidak mabuk lagi dan berakhir dengan diusir? Jika itu yang akan dia dapatkan, lebih baik dia meneruskan semuanya. Persetan dengan baju dalamannya yang akhirnya dilihat Ashton. Jika Ashton sampai bernafsu, dia hanya perlu pura-pura pingsan. Jika Ashton adalah pria sejati, dia tentu tidak akan berani meniduri gadis yang tidak sadarkan diri.
“Pangeran….”
“Jangan katakan kalimat menggelikan itu…” Ashton melenguh lelah. Handuk tangan yang sudah Ashton basahkan dia gunakan untuk mengelap bagian mulut dan pipi Keyshia yang terkena muntahan.
“Kepalaku pusing.” Keyshia mengulurkan kedua tangannya.
“Bersabarlah.”
Ashton sedikit menunduk, tangannya kemudian berada di ujung baju Keyshia. Dia menarik baju itu ke atas hingga melewati kedua tangan kurus itu. Bra hitam yang membungkus dua d**a yang besar itu membuat mata Ashton terpaku untuk beberapa detik sebelum dia tersentak kaget karena helai rambut menutupi belahan d**a itu.
Ashton mengangkat pandangannya hingga dia bertatapan dengan Keyshia yang memiringkan kepalanya.
“Sekarang tinggal celana.” Mata sayu itu tertutup saat dia tersenyum lebar.
Ekspresi Keyshia yang jadi sering tersenyum seperti orang bodoh itu membuat Ashton tidak nyaman untuk terus melihatnya. Dia pun beralih ke bagian celana Keyshia. Tapi sebelum itu, Ashton membuka sepatu yang Keyshia kenakan. Barulah dia menyentuh bagian kancing lalu membukanya.
Kancing dan bagian ziper sudah dia turunkan, lalu untuk menurunkan celana Keyshia Ashton hanya perlu mengangkat sedikit b****g Keyshia yang duduk di atas closet itu. Tangannya yang bersentuhan dengan kulit tangan Keyshia yang telanjang membuat tubuh Keyshia tersentak. Ashton pun refleks menatap Keyshia yang membuat mereka berdua saling bertatapan.
Suasana canggung itu membuat Keyshia dengan cepat menutup matanya sambil meletakkan kepalanya di lengan Ashton. Pipinya dia gesekkan ke lengan Ashton yang kuat.
Rahang Ashton mengeras. Baginya, perempuan yang mabuk tipe Keyshia adalah hal yang paling merepotkan.
Untuk meloloskan celana dari kaki itu, Ashton memerlukan tenaga yang cukup besar dan setelah dia berhasil melepaskan, helaan napas lega itu keluar dari mulutnya. Barulah setelah itu Ashton memakaikan Keyshia bathrobe.
“Kamu harus membayar semua ini,” gumam Ashton sebelum dia membawa Keyshia ke dalam gendongannya. Dia dengan sabar harus naik ke lantai dua dengan membawa Keyshia. Dia sedikit bersyukur karena Keyshia tidak terlalu berat. Jika tidak, maka dengan tega dia akan membiarkan Keyshia tidur di sofa ruang keluarga.
Pintu kamar tamu terbuka dengan kasar. Bunyinya membuat Keyshia yang menutup matanya mengernyit.
Berbanding terbalik dengan suara pintu yang dibuka dengan paksa, Keyshia diturunkan dengan hati-hati. Dia bahkan diselimuti oleh Ashton. Tidak ingin kesempatan ini pergi, Keyshia menahan tangan Ashton.
“Mau ke mana?” Tangan itu Keyshia bawa ke pipinya. “Jangan tinggalkan aku,” cicitnya.
Ashton balas memegang tangan Keyshia lalu melepaskan tangan itu dari tangannya yang lain.
“Lebih baik kamu tidur, mengerti?” ucap Ashton kesal.
“Ta-tapi aku takut sendirian.” Sekarang giliran ujung baju Ashton yang dipegang erat.
“Kamu ingin tidur bersamaku?” Ashton tersenyum miring.
Keyshia menggigit bibirnya gugup, lalu dengan canggung mengangguk mengiyakan. Senyum Keyshia kemudian luntur saat Ashton menyentil keningnya dengan keras.
“Akh!”
“Kamu sudah menghabiskan stok kesabaranku Keyshia. Aku tidak akan segan-segan lagi denganmu.” Setelah mengatakan itu, Ashton kabur dengan langkah lebarnya dan masih sama seperti sebelumnya, Ashton menutup pintu itu dengan kencang.
Keyshia yang melihat itu semua meringis. Selimut itu dia naikkan hingga menutupi seluruh wajahnya. Barulah setelah itu Keyshia berteriak tanpa suara sambil menendang-nendang selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Dia benar-benar malu! Sangat malu! Jika bisa, Keyshia ingin mengubur dirinya agar tidak merasakan hal yang memalukan seperti ini.
Dia memang bisa berakting seakan melupakan semuanya, tapi apa Ashton akan masih mau bersikap sebelumnya?
Keyshia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa setelah ini. Karena muntah dia sudah merusak semuanya.
“Kenapa aku harus muntah?” lirih Keyshia sedih.
Malam itu Keyshia akhirnya menangis sampai dia tertidur. Tepat setelah Keyshia tidur, Ashton masuk sambil membawa baju dan sepatu Keyshia yang sudah dia cuci dan keringkan. Ashton melakukan ini agar esok pagi tidak terjadi keributan yang tidak perlu.
Sebelum pergi dari kamar itu, Ashton memandangi Keyshia. Keyshia tidur dengan tenang. Dia sedikit tidak percaya jika Keyshia akan menjadi sangat berbeda 180 derajat saat mabuk. Jika dia mengingat itu semua, sudah pasti dia akan sangat malu bahkan tidak ingin bertemu dengannya lagi.
*
*
*
Perasaan nyaman yang menyelimutinya membuat senyum di bibir Keyshia terbentuk. Dalam beberapa hari ini, baru kali ini dia merasa tidur dengan nyaman, apalagi tempat tidurnya terasa sangat empuk sampai-sampai membuatnya berpikir tengah tidur di atas puding yang lembut.
Perasaan senang karena rasa nyaman itu seketika hilang saat Keyshia sadar akan sesuatu. Keyshia memaksa matanya yang berat untuk terbuka. Cahaya lampu yang langsung menusuk matanya membuat Keyshia kembali menutup matanya. Dia butuh menyesuaikan matanya untuk cahaya ini.
Keyshia akhirnya bangun dari tidurnya. Melihat tempat familiar yang ditempatinya ini, kepala Keyshia memproses ingatan-ingatan yang sudah dia lalui hingga sampai di kamar ini. Setiap ingatan demi ingatan terjalin, wajah Keyshia bersemu merah sampai-sampai dia tidak berani untuk menunjukkan wajahnya.
Seluruh tubuh Keyshia berlindung di balik selimut. Dia yakin ini sudah pagi dan dia masih tidak yakin apa dia bisa menipu Ashton dengan baik kali ini. Terlebih ingatan memalukan itu membuatnya takut untuk bertatap muka dengan Ashton. Jika Ashton sampai tahu dia tidak melupakan hal yang mereka lewati tadi malam, Keyshia tidak tahu harus menaruh wajahnya di mana lagi.
“Ya Tuhan, lindungi aku,” lirih Keyshia.
Selimut yang menutupi seluruh tubuhnya itu Keyshia singkirkan. Dia yang masih menggunakan bathrobe beranjak dari tempat tidur, sebelum masuk ke kamar mandi, Keyshia melihat pakaiannya yang terlipat rapi. Saat dia mengambil dan menciumnya, aroma bajunya tercium wangi. Aroma itu membuat Keyshia kembali tersenyum. Ashton ternyata sangat pandai memilih aroma pengharum bajunya.
Bajunya yang sudah dicuci seperti ini sebenarnya membuat Keyshia sedikit tidak menyangka jika Ashton mau repot-repot mencuci baju miliknya. Karena bajunya sudah dicuci bersih dan harum, Keyshia yang awalnya berniat hanya cuci muka mengurungkan niatnya itu dan memilih untuk mandi.
Keyshia membersihkan seluruh tubuhnya yang kotor. Bukan Keyshia semena-mena, akan tambah memalukan jika dia tidak mandi. Dia pasti akan terlihat sangat menyedihkan di depan Ashton?
Setelah selesai mandi, Keyshia berdiam diri di dalam kamar. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya sebelum keluar dan bertemu dengan Ashton. Dan bukannya tenang, Keyshia merasa jika semakin banyak pikiran negatif yang berdiam diri di kepalanya. Hal itu mengakibatkan perasaan tidak nyaman dan takut pun datang melingkupinya.
Rasa perih di ibu jari kirinya membuat Keyshia sadar jika dia sudah sangat melukai ibu jarinya itu. Dia harus menghentikan ketakutannya ini dengan keluar lalu bertemu dengan Ashton seperti rencana sebelumnya.
Keluar dari kamar, saat Keyshia hendak pergi ke tangga, dia tidak sengaja melihat ke bawah dan mendapati Ashton duduk di sofa. Asap terlihat mengebul di udara yang membuat Keyshia tahu jika Ashton tengah merokok.
Dengan langkah sepelan mungkin Keyshia menyusuri anak tangga satu demi satu. Melihat Ashton merokok membuat rasa waspadanya meningkat. Hawa dingin semakin menusuk saat dia akhirnya sampai di anak tangga terakhir.
Pelan namun pasti Keyshia mendekati Ashton yang masih pada posisinya. Lurus menghadap layar televisi yang mati.
“Ash—”
“Bagaimana tidurmu?” Ashton melirik Keyshia. Lirikannya itu cukup tajam, terlebih salah satu sudut bibirnya terangkat.
“Yah… nyenyak.” Keyshia mencoba untuk bersikap setenang mungkin. Dia tidak boleh ketahuan oleh Ashton.
Ashton menyesap filter rokok dengan kuat lalu menghembuskannya panjang. Setelah merasa puas, dia menekan ujung rokok yang masih menyala ke atas asbak. Barulah setelah itu dia mengubah posisi duduknya jadi menghadap Keyshia yang berdiri tidak jauh darinya.
“Ah, aku senang mendengarnya.”
“Bagaimana aku bisa bersamamu ya?”
“Kamu bertanya bagaimana kamu bisa bersamaku?” ulang Ashton.
Keyshia mengangguk.
“Kamu melupakan semua hal yang kamu sudah perbuat?”
Keyshia membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu lalu menutup mulutnya kembali. Dia mendadak jadi ragu untuk mengatakannya.
“Katakan,” perintah Ashton.
“A-apa?”
“Katakan apa yang ingin kamu katakan itu.”
“Ki-kita tidak tidur ber-bersamakan?!” Keyshia menyilang tangannya di depan d**a.
Tidak lama kemudian Ashton tertawa sebelum ekspresinya berubah menjadi serius yang membuat Keyshia meneguk ludahnya.
Mati!