Gabriela: Aku tunggu di rooftop.
“Haaah….” Keyshia menghela napas. Dia meregangkan tangannya yang terasa kaku karena dari beberapa jam lalu dia harus fokus di depan layar.
Sore ini akhirnya tiba waktunya waktu untuk berbicara dengan Gabriela. Ketakutannya pagi tadi sudah tidak terlalu dia rasakan. Terlebih, Keyshia sudah menyiapkan kalimat-kalimat yang akan dia ucapkan.
“Mau ke mana?” pertanyaan itu terlontar dari Fani saat melihat Keyshia bangun dari duduknya.
“Aku mau ke toilet, kenapa?” Keyshia tidak ingin Fani sampai tahu karena bisa saja Gabriela marah jika waktu mengobrol mereka diganggu oleh kehadiran Fani.
“Malam ini mau makan di mana?” tanya Fani.
“Aku ikut denganmu saja.”
“Kamu saja yang pilih, aku juga bingung mau makan apa.”
“Ya sudah, akan kupikirkan.” Keyshia mengiyakannya terlebih dulu. Dia tidak ingin hal ini malah membuatnya semakin lama berbicara dengan Gabriela.
Walau ingin segera bertemu Gabriela, langkah kaki Keyshia terkesan sangat santai, sangat santai malah. Begitu pintu lift terbuka, Keyshia langsung disambut oleh Gabriela yang menyandarkan tubuhnya ke tembok pembatas.
Asap rokok keluar dari mulut Gabriela. Pandangan Keyshia pun turun hingga dia dapat melihat rokok Gabriela yang masih sisa setengah. Tidak heran Gabriela memilih tempat ini untuk berbicara dengannya.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Gabriela beranjak dari posisinya yang diikuti Keyshia. Mereka berdua kemudian duduk di salah satu kursi di sana.
Gabriela menyodorkan dua buah kartu. Keyshia pun menerima itu dan langsung tahu jika salah satu kartu itu adalah kartu member untuk masuk ke club yang dia datangi kemarin. Untuk menjadi member itu sulit dan membutuhkan waktu. Untungnya Fani yang kebetulan mendapatkan kartu member itu dari mantan kekasihnya, mau pergi mengajaknya.
“Dia butuh waktu untuk membuatkannya untukmu,” ucap Gabriela setelahnya.
“Ya tidak apa-apa. Aku juga terlalu tiba-tiba ingin pergi ke sana.”
“Tidak, itu malah sangat bagus. Itu tandanya kamu bersemangat dengan kesepakatan ini.”
Bersemangat? Yang benar saja, cibir Keyshia dalam hatinya.
“Jadi bagaimana? Dia sudah sangat penasaran dengan gerakan yang akan kamu lakukan,” tanya Gabriela penasaran. Dia sudah menahan diri sedari pagi dan dia baru mendapatkan waktu Keyshia sore hari ini.
“Ya, seperti yang kamu tahu, Fani dan aku pergi ke sana. Lalu di saat Fani pergi ke dance floor, ada seseorang yang mendatangiku.” Tubuh Keyshia bergidik ngeri begitu kepalanya memutar ingatan saat dia bertemu dengan Ruben.
“Pria itu ternyata diam-diam menaruh obat pada minuman yang kuminum, lalu—”
“Apa kamu baik-baik saja?” potong Gabriela.
“Ya, seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Hanya saja, setiap mengingatnya aku merasa cukup takut.”
“Pria itu tidak melakukan hal buruk padamu, kan?” Raut wajah Gabriela terlihat suram. Dia merasa tidak tega pada Keyshia karena mengalami hal yang buruk seperti itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Sheena pasti tidak ingin Keyshia mundur begitu saja.
“Aku hampir diperkosa, untungnya saat aku akan dibawa ke kamar… Ashton datang menyelamatkanku,” ucap Keyshia memelan saat menyebut nama Ashton.
Mata Gabriela melebar. Dia menatap Keyshia tidak percaya.
“Apa kamu serius?”
“Ya.”
Gabriela menutup mulutnya tidak percaya. Dia ingin sekali berteriak, tapi dia terlalu takut menarik perhatian orang yang mungkin ada di dekat rooftop.
“Saat itu aku tidak sadarkan diri,” lanjut Keyshia yang membuat Gabriela semakin bersemangat mendengarnya.
“Bagaimana kamu tahu jika orang itu yang menyelamatkanmu?”
“Karena saat aku bangun, aku berada di rumahnya.”
“Ya Tuhan! Apa aku tidak salah dengar?!” Gabriela akhirnya tidak bisa mengontrol dirinya. Dia bahkan sampai menjerit saat mengatakan itu semua.
“Itu kesialan yang membawa keberuntungan,” ucap Gabriela lagi.
Keyshia yang melihat Gabriela sangat bersemangat, bahkan sampai tersenyum dengan lebarnya, hanya bisa tersenyum tipis.
“Lalu bagaimana setelahnya? Kamu bahkan sampai dibawa ke rumahnya. Bukankah itu bagus? Sangat bagus malah!”
“Kecilkan suaramu,” tegur Keyshia. Dia tidak ingin menambah gosip di tempat kerjanya ini.
“Maaf,” sesal Gabriela.
“Dia membuatkanku sarapan, tapi setelah berbicara dengannya… aku tidak yakin bisa mendekatinya.” Keyshia memasukkan bibirnya dan menggigitnya. Sikap Ashton membuatnya pesimis dengan semua hal ini.
“Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu? Selama di sana kamu tidak pasifkan?”
“Aku dan dia mengobrol tentu saja. Aku bahkan mengatakan jika aku akan membalas kebaikannya. Tapi, setelah sarapan dia malah langsung menyuruhku untuk pulang.”
“Tapi dia mengantarmu pulangkan?”
Keyshia menggeleng. “Dia bahkan tidak membiarkanku menelepon taksi di area rumahnya dan menyuruhku berjalan sampai ke ujung jalan.”
Raut wajah Gabriela yang semula tersenyum lebar perlahan kendur. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
“Kamu tahu artinya itu, kan?” seru Keyshia gemas.
“.…”
“Dia tidak tertarik padaku, atau bahkan pada perempuan dan percintaan. Kamu sudah mendengar hasil wawancara itu, kan?” kembali Keyshia mencoba mengingatkan.
“Iya… iya,” gumam Gabriela yang tampak tidak fokus karena pikirannya melayang entah ke mana.
“Apa tidak bisa aku batalkan saja?” Walau uang yang Sheena janjikan sangat banyak, tapi Keyshia tidak yakin. Ashton saja mencampakan Sheena, apalagi gadis sepertinya, yang dilihat saja tidak.
“Tidak! Tidak bisa!” seru Gabriela yang tersadarkan. Gabriela mencengkram bahu Keyshia. “Dia akan membuatmu hidup sengsara. Kamu tidak ingin hal itu terjadikan? Apalagi kamu sangat butuh uang Keyshia. Coba bayangkan apa yang akan terjadi jika kamu tidak bekerja lagi?”
Ancaman yang didapatkannya ini membuat Keyshia hanya bisa tertegun. Sekarang hidupnya ada di tangan Sheena.
“Ta-tapi, jika aku sudah melakukan semuanya dan dia kalian tidak melihat tanda-tanda itu, semua perjanjian itu batalkan?”
“Setahun, batas waktunya setahun Keyshia. Jadi selama itu kamu harus berusaha.”
Di perjanjian memang tertulis hal itu, tapi jika selama itu dia terus melakukan hal yang sia-sia, tidakkah itu sangat melelahkan? Apalagi uang yang Sheena akan berikan jauh lebih sedikit jika dia tidak membuat Ashton mencintainya.
“Aku benar-benar tidak yakin dengan ini semua,” ucap Keyshia takut-takut.
“Kamu harus yakin, apalagi kamu sudah mengatakan ingin membalas kebaikannya. Kamu masih punya kesempatan untuk dekat dengannya.”
“Dia langsung mengalihkan pembicaraan saat aku mengatakan itu.” Keyshia terlihat sangat pesimis.
Gabriela berdecak. Lama kelamaan dia kesal dengan Keyshia yang terus-terusan pesimis. Apa Keyshia tidak sadar jika dia adalah gadis yang cantik dan pintar? Bahkan, walau tidak memakai barang branded, Keyshia berpakaian dengan manarik hingga kecantikannya yang beraura positif itu menguar.
“Bagaimana kamu bisa bertemu lagi dengannya, itu biar dia yang urus. Kamu hanya perlu menjalankan tugasmu. Yang jelas, kamu harus membalas kebaikannya.”
Untuk beberapa saat Keyshia terdiam lalu akhirnya mengangguk lesu. “Akan kuusahakan,” katanya pelan.
Gabriela menarik kedua sudut bibir Keyshia ke atas.
“Kamu harus semangat. Ini demi keluargamu, ingat?”
“Iya aku tahu itu, tapi jangan terus-terusan membahasnya, aku merasa tidak nyaman.”
Bukan Keyshia benci pada keluarganya, malahan dia sangat mencintainya. Hanya saja dia merasa sakit jika Gabriela atau Sheena mengungkit tentang hal itu.
*
*
*
Keyshia memandangi kertas-kertas yang sudah dia print. Kertas-kertas ini berisikan informasi tempat-tempat yang sering didatangi oleh Ashton. Semua informasi ini tentu saja datang dari Sheena dan dengan semua informasi ini, Sheena terlihat seperti seorang penguntit.
“Sangat menakutkan,” gumam Keyshia.
Mata Keyshia menangkap nama club yang dia datangi. Lalu di bawahnya ada satu club lainnya yang sering didatangi oleh Ashton. Tapi untuk saat ini dia tidak boleh pergi ke club. Selain karena masih takut, jika dia bertemu dengan Ashton, pria itu pasti curiga.
Dia harus membuat semuanya seperti pertemuan yang tidak terduga.
“Lalu, pertemuan tak terduga seperti apa yang harus kulakukan untuk menebus kebaikannya?” Keyshia melepaskan kertas-kertas itu lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan sendu.
Dering ponsel memecah kesunyian di apartemen studio milik Keyshia. Dengan malas Keyshia mengambil ponselnya dan mendapat video call dari ibunya. Buru-buru Keyshia menegakkan punggungnya dan menekan tombol hijau. Begitu tombol hijau itu Keyshia tekan, wajah adik kesayangannya pun terlihat memenuhi layar ponsel. Senyum Keyshia sontak mengembang lebar.
“Skyla, bagaimana keadaanmu sayang?”
“Aku baik, Kakak bagaimana?”
“Tentu saja Kakak baik. Kenapa kamu belum tidur, hmmm?” Ini sudah pukul sembilan malam dan ini sudah lewat jam tidur Skyla.
“Aku rindu Kakak, apa Kakak tidak merindukanku?” Skyla cemberut.
“Tentu saja Kakak merindukanmu, sangat.”
“Lalu kapan Kakak akan pulang?”
“Skyla.”
Teguran langsung Skyla dapatkan dari ibu yang membuat Keyshia tersenyum geli.
“Kakak masih belum memiliki waktu libur, jadi Kakak hanya bisa kasih kado saja.”
“Benarkah?” Seketika wajah Skyla menjadi cerah. Senyumnya bahkan semakin mengembang lebar.
“Ya tentu saja.”
Untuk beberapa saat mereka mengobrol dengan seru. Keyshia berusaha menanggapi cerita Skyla tentang kesehariannya di rumah. Ternyata, dunia Skyla yang kecil bisa membuat anak yang baru berusia enam tahun itu tersenyum dengan lebarnya.
“Skyla tidur dulu ya, Kakak juga jangan lupa tidur,” pesan Skyla.
“Iya.”
Ponsel itu pun beralih ke tangan ibu. Keyshia tersenyum tipis melihat wajah ibunya yang tampak lelah.
“Jangan lupa makan lalu tidur.”
“Iya, Ibu juga.”
Panggilan telepon itu akhirnya berakhir. Keyshia menghembuskan napas leganya. Melihat dua orang yang berharga di hidupnya membuat Keyshia merasa seperti mendapat energi lagi. Jika saja dia tidak sibuk, dia pasti akan lebih sering menelepon Skyla.
Skyla, adik tirinya itu baru berusia lima tahun dan mengidap penyakit talasemia mayor yang membuatnya harus rutin melakukan transfusi darah dan biaya yang dikeluarkannya tidak sedikit. Maka dari itu dia dan ibunya, yang saat ini kembali menjanda, sampai banting tulang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Pada akhirnya melihat Skyla tersenyum lebar seperti itu membuat Keyshia sadar jika dia harus terus membuat adiknya itu tersenyum, walau dia harus merangkak untuk mencari uang.
“Aku pasti bisa,” gumam Keyshia menyemangati dirinya. Dia sudah bertekad untuk membuat Ashton mencintainya hingga membuat pria itu mau berlutut untuknya.