7. Menyesal

1556 Kata
“Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang. Kamu tahu kenapa bukan?” Keyshia tahu dirinya sudah dibantu oleh Ashton. Tapi, apa benar pria di depannya ini tidak berniat untuk mengantarnya pulang? Rumahnya ini bahkan berlawanan cukup jauh dari kawasan rumahnya! “Kamu hanya perlu berjalan sampai ke ujung jalan, lalu setelahnya kamu bisa menelepon taksi.” Oh ya Tuhan! Keyshia benar-benar ingin berteriak saat ini. Yang benar saja Ashton menyarankannya untuk naik taksi. Uang bulanannya akan langsung habis jika dia menuruti hal itu! “Terima kasih. Aku benar-benar berterima kasih karena sudah dibantu sampai sejauh ini.” Keyshia tersenyum tipis. Tentu saja dia terpaksa untuk tersenyum seperti ini. “Jika ada kesempatan, aku ingin membalasnya.” “Tidak perlu membalasnya.” “Aku pasti akan tetap membalasnya.” “Ayo keluar, biar aku tunjukkan jalannya.” Ashton memilih untuk mengabaikan ucapan Keyshia. Dia pun berjalan mendahului Keyshia untuk menunjukkan jalan keluar dari rumahnya. Keyshia mengikuti Ashton dalam diam, tapi pikirannya malah sibuk membahas Ashton. Bagaimana bisa Ashton bersikap acuh tak acuh seperti ini? Ya dia tahu jika Ashton tidak ingin terlibat gosip lagi. Tapi, apa sampai seperti ini? Atau Ashton hanya melakukan hal ini padanya? Karena dia yang tidak ingin terlibat gosip dengan perempuan yang berada di level yang rendah. “Aku memang rendahan,” gumam Keyshia tanpa sadar. “Apa yang kamu ucapkan?” Ternyata gumaman Keyshia didengar oleh Ashton. “Bukan apa-apa. Aku hanya kagum melihat rumah yang seperti ini.” Setelah itu Ashton memilih diam yang membuat Keyshia juga diam. Hingga mereka berdua tiba di luar. Tidak ada gerbang tinggi dan besar, melainkan gerbang kecil yang tampaknya merupakan pintu samping. “Kamu hanya perlu ke kiri dan terus berjalan hingga menemukan jalan raya.” “Sekali lagi terima kasih,” ucap Keyshia sebelum pergi dari sana. Keyshia akhirnya keluar dari rumah besar milik Ashton. Sebelum semakin jauh, Keyshia menoleh ke belakang dan tersenyum kecut. Ashton ternyata sangat tidak bisa ditebak, bahkan setelah membaca atau pun mendengar cerita tentang pria itu. “Astaga, ini ternyata sangat melelahkan!” teriak Keyshia kesal. Dia masih belum sembuh, tapi dia sudah harus berjalan jauh hanya untuk menelepon taksi. “Tapi kenapa banyak orang yang menyukainya? Padahal dia pria yang hanya memikirkan dirinya sendiri. ” Keyshia menendang kerikil yang ada di depannya. “Ya tentu saja, itu sudah pasti karena uangnya. Jika dia tidak punya uang, aku yakin tidak akan ada yang mau padanya,” cibirnya. Langkah Keyshia terhenti saat dia tiba-tiba terpikirkan satu hal. “Sheen juga sama kayanya dengan Ashton. Jadi, itu tidak mungkin itu karena uang bukan?” Seketika Keyshia membayangkan Ashton menjadi pria paling romantis untuk seorang Sheena membuat bulu kuduk Keyshia berdiri. Dia yakin jika Ashton pasti tidak mungkin sampai bersikap sangat romantis saat menjalin hubungan karena ada beberapa tipe playboy yang dapat menjerat orang lain dengan kesan acuh tak acuhnya. Setelah beberapa saat, Keyshia akhirnya sampai di ujung jalan. Dia mencari tempat teduh di sana, lalu menelepon taksi. Dia akan menggunakan taksi hanya untuk pergi ke pemberhentian bus yang sejalan dengan apartemennya. Caranya itu memang sedikit merepotkan, tapi itu sangat menghemat pengeluarannya. Akhirnya setelah satu jam lebih, dia akhirnya bisa sampai di apartemennya. “Tunggu!” teriakan itu membuat Keyshia buru-buru menekan tombol pintu terbuka. Tidak lama kemudian sosok Fani muncul yang membuat mereka berdua terkejut satu sama lain. “Keyshia?” Fani masuk ke dalam lift. Matanya memandangi Keyshia dari atas sampai bawah. “Kamu baru pulang?” Keyshia mencengkram bahu Fani lalu berucap, “Aku yang harusnya bertanya seperti itu padamu? Kamu baru pulang? Jadi dari semalam kamu ke mana?” Wajah kaget Fani seketika berubah menjadi panik. “Sumpah aku tidak berniat meninggalkanmu. Sebelum kembali menemuimu, aku mendapat traktiran dengan kadar alkohol yang tinggi, jadi aku sampai lupa dengan keberadaanmu.” Keyshia menatap Fani kesal. Pantas saja dia tidak mendapati telepon atau pun pesan dari Fani. Fani saja melupakan keberadaannya, jadi berharap Fani mencarinya adalah hal yang sia-sia. “Pantas saja!” Keyshia memukul pundak Fani. “Aku lelah mencarimu dan kamu malah pergi bersenang-senang sendirian!” “Aduh! Aku… aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu. Tapi, kamu tidak apa-apa, kan?” Fani mencoba memeriksa tubuh Keyshia untuk melihat apakah Keyshia terluka atau tidak. “Kamu tahu, aku hampir diperkosa Ruben.” Tangan Fani yang sibuk memeriksa tubuh Keyshia mendadak menjadi kaku. Matanya bahkan melotot dengan lebar. “Coba ulangi,” pinta Fani. “Aku hampir diperkosa Ruben.” “Apa?!” teriak Fani nyaring yang membuat Keyshia menutup telinganya. Lift kecil dan suara Fani yang nyaring, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat telinga orang yang mendengarnya menjadi sakit. “Kamu tidak bercandakan?” tanya Fani tambah panik. “Tentu saja tidak. Apa hal itu pantas dijadikan candaan?” Keyshia memijat keningnya yang terasa berdenyut. “Tapi untungnya aku berhasil kabur,” tambahnya. “Keyshia….” Fani menatap Keyshia dengan tatapan sedihnya. “Ya?” “Maaf….” Fani mengacak rambutnya. “Ah, sialan! Pria itu, harusnya aku memperingatimu.” Dia terlihat sangat menyesal. “Jadi dia bukan temanmu?” tanya Keyshia. “Aku tidak ingin berteman dengannya karena dia pria yang seenaknya dan dia memang terkenal cabul.” Penjelasan Fani membuat Keyshia lagi-lagi merutuki dirinya. Bisa-bisanya dia dengan mudah percaya pada pria yang baru saja dia temui. Jika begini, dirinya benar-benar tampak seperti gadis desa yang tidak tahu apa-apa dan hal itu memang pantas untuk ditertawakan. Pintu lift kemudian terbuka, Keyshia dan Fani melangkah keluar. Mereka kemudian menghentikan langkah di depan pintu apartemen Keyshia. “Keyshia, aku… aku benar-benar merasa bersalah karena membuatmu dalam bahaya dan meninggalkanmu begitu saja,” sesal Fani. Dia merasa berdosa karena sudah meninggalkan Keyshia. “Itu juga kesalahanku dan untungnya ada yang menyelamatkanku.” “Siapa orang itu?” Keyshia terdiam, dia teringat ucapan Ashton yang mengatakan untuk tidak menyebarkan hal ini. Mengingat itu membuat Keyshia kembali malu. Apa yang dilakukannya di rumah Ashton benar-benar memalukan. Sangat. “Aku lupa bertanya namanya.” “Bisa-bisanya kamu lupa bertanya namanya. Tapi, kenapa kamu baru pulang sekarang?” “Karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Aku menginap di hotel.” “Itu memang jalan yang lebih baik.” Keyshia tersenyum, tidak menyangka Fani akan langsung mempercayainya walau pernyataannya itu terdengar janggal. “Apa kamu sudah sarapan? Aku akan mentraktirmu,” tawar Fani. “Aku sudah sarapan sebelum pulang. Sekarang aku ingin beristirahat.” “Kalau begitu aku akan mentraktirmu untuk makan malam. Bagaimana?” Walau tidak seberapa, Fani berharap bisa menebus kesalahannya. “Baiklah.” Setelah percakapan yang terasa cukup lama itu, Keyshia akhirnya bisa kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Di saat seperti ini ini, ingatan-ingatan yang sudah terjadi dengan usil muncul. Rasa takut, kesal, malu, semuanya menjadi satu yang membuat Keyshia berteriak. “Haruskah kuanggap ini kesialan yang menguntungkan?” Mata Keyshia berkaca-kaca. Dia benar-benar takut tadi malam. Hidupnya sudah terlalu berat hingga membuatnya tidak pernah tidur dengan lawan jenis dan jika tadi malam keperawanannya diambil oleh pria seperti Ruben. Oh, Keyshia benar-benar tidak bisa membayangkan hal itu. “Tapi aku tidak yakin bisa melakukannya. Apalagi sikap Ashton yang….” Keyshia menutup wajahnya dengan bantal. “Aku harus membatalkan ini semua,” gumam Keyshia. Dia seratus persen yakin jika usahanya untuk membuat Ashton untuk menjadi kekasihnya akan gagal, terlebih setelah kejadian tadi. “Tapi bagaimana cara aku mengatakannya pada Sheena?” Keyshia menjambak rambutnya. “Seharusnya sejak awal aku tidak menerima tawaran itu.” Sekarang dia percaya apa kata Ashton jika dirinya adalah gadis yang polos karena sangat mudah ditipu oleh orang yang baru dia kenal hingga orang yang sudah cukup lama dia kenal. Keyshia menyingkirkan bantal yang menutup wajahnya. Dia menghela napas berat. Hidupnya sekarang ada di tangan Sheena, jadi sudah pasti Sheena tidak ingin melihat dirinya menyerah begitu saja. “Aku harus memikirkan cara agar Sheena percaya jika Ashton tidak tertarik padaku. Aku… aku juga harus menyiapkan pekerjaan yang lain juga.” * * * Hari senin datang begitu cepat. Keyshia bahkan merasa jika dia libur yang dia dapatkan minggu ini sangat kurang. Dia ingin menghabiskan banyak hari libur sebelum kembali berkutat dengan tugas lapangan untuk meliput. Karena datang cukup pagi, Keyshia bersantai di meja kerjanya sambil menikmati segelas kopi. Tidak lama kemudian Gabriela muncul dan menyapanya. “Bagaimana hari liburmu, Keyshia?” Bukannya bertanya tentang keadaannya, Gabriela langsung bertanya tentang hari liburnya yang sudah pasti bermaksud untuk menanyakan tentang bagaimana rasanya pergi ke club elit yang biasanya didatangi oleh Ashton. “Menyenangkan.” Gabriela meletakkan tasnya lalu kembali mendekati Keyshia. “Apa kamu ingin berbagi cerita?” Senyum yang diperlihatkan Gabriela entah kenapa terlihat sangat menakutkan bagi Keyshia. “Aku bingung harus menceritakannya bagaimana.” “Kenapa harus bingung?” “Karena terlalu banyak hal yang terjadi malam itu.” Senyum Gabriela semakin mengembang lebar. “Sepertinya itu sesuatu yang sangat bagus, bukan? Bagaimana jika kita berbicara di balkon?” “Apa aku bisa menceritakannya nanti saja? Ini masih terlalu pagi dan aku juga masih ada pekerjaan.” Ini masih sangat pagi dan Keyshia tidak ingin membuat harinya buruk dengan menceritakan kejadian kemarin. “Apa itu cerita yang panjang?” “Ya, sangat panjang.” “Baiklah.” Gabriela yang biasanya terlihat baik dan santai saja bisa terlihat menakutkan, apalagi Sheena? Oh, Keyshia merasa benar-benar menyesal dengan semua ini. Dan jika rencananya berhasil, dia juga akan dihantui oleh Ashton. Sheena dan Ashton, dua orang itu akan membunuhnya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN