Begitu membuka mata, Keyshia menyadari jika dirinya tidak berada di apartemennya. Potongan-potongan ingatan sebelum dia tidak sadarkan diri muncul yang membuat Keyshia panik. Hal yang pertama kali dia periksa pun adalah tubuhnya dan di balik selimut yang tebal, dia mendapati dirinya yang masih berpakaian lengkap.
Semua pakaiannya lengkap, tapi ini tidak menutup kemungkinan jika tadi malam tidak terjadi apa-apa. Kepanikan pun kembali menghampiri Keyshia. Dia yang panik ketakutan pun buru-buru bangun dari tidurnya. Rasa pusing seketika menghampiri yang membuatnya kembali terjatuh di atas tempat tidur.
“Ya Tuhan,” lirih Keyshia saat dia merasa dunia berputar. Dia berbaring dan menutup matanya untuk meredakan rasa pusing.
“Aku harus pergi dari sini.”
Setelah dirasa lebih baik, Keyshia mencoba untuk bangun dari tidurnya. Rasa pusing itu masih dia rasakan, tapi sudah tidak separah di awal tadi. Baru saja Keyshia melangkah untuk keluar, dia teringat tas miliknya. Tas itu kemudian dia temukan di atas meja di samping tempat tidur.
Mulut Keyshia terbuka lebar begitu keluar dari dalam kamar. Dia yang berdiri di depan pembatas kaca hanya bisa ternganga melihat lantai bawah di mana di sana terdapat ruang keluarga yang luas dengan desain futuristik.
“Apa aku di dunia lain?” gumam Keyshia tidak percaya karena seumur-umur, dia tidak pernah masuk ke rumah yang seperti ini. Tapi, kekaguman Keyshia hanya sampai di sana karena dia tidak habis pikir, bagaimana bisa orang yang memiliki rumah yang sudah pasti sangat mahal ini, melakukan tindakan tidak bermoral padanya? Jika dia ingin tidur dengan perempuan, kenapa dia tidak membayarnya saja?
Tidak ingin terjebak lebih lama, Keyshia segera pergi menuju ke arah tangga. Beruntungnya kamar yang Keyshia tempati berada di dekat tangga yang membuatnya bisa segera ke lantai satu dengan cepat.
Dengan mengikuti instingnya, Keyshia pun berjalan menuju tempat yang dia yakini sebagai pintu keluar dari rumah ini. Di lorong putih itu, terdapat beberapa pintu yang tertutup rapat. Lalu di ujung lorong dia malah mendapati ruang santai yang temboknya terbuat dari kaca hingga memperlihatkan pemandangan luar dan ini jelas jalan buntu!
“Oh ya Tuhan,” keluh Keyshia tidak tertahankan. Sedari awal dia sudah pusing, sekarang dia semakin pusing untuk mencari jalan keluar.
Kembali Keyshia mengikuti jalan yang dilaluinya tadi hingga akhirnya dia kembali ruang keluarga. Setibanya di sana, Keyshia mengambil pintu seberang yang kali ini memiliki lorong yang lebih pendek dari pintu sebelumnya dan ternyata itu membawanya ke sebuah ruang makan sekaligus dapur.
“Akh….” Hampir saja Keyshia berteriak saat matanya menangkap sosok pria yang tengah membelakanginya. Tapi, suara singkat yang Keyshia keluarkan sukses membuat pria itu menoleh ke belakang.
Berbeda dengan tadi, Keyshia hanya bisa ternganga saat matanya bertatapan dengan pria yang ternyata Ashton O’Neil.
“Apa kamu mau sarapan?”
Pertanyaan Ashton membuat Keyshia seketika sadar.
“Ba-bagaimana bisa?” tanyanya bingung. Seingat Keyshia, dia dijebak oleh Ruben. Jadi, harusnya sekarang dia berhadapan dengan Ruben. Tapi beberapa detik kemudian, Keyshia mengerti satu hal. Ashton sudah pasti berkomplotan dengan Ruben.
“Tadi malam kamu hampir menjadi korban p*********n. Jadi, aku membantu lalu membawamu ke rumahku.” Ashton kembali berbalik memunggungi Keyshia.
“A-aku tidak ingat kamu datang membantuku,” ucap Keyshia.
“Itu karena kesadaranmu sudah dipengaruhi oleh obat itu.” Ahton membawa dua piring ke arah meja makan.
“Bagaimana kamu tahu aku dipengaruhi oleh obat?” Mata Keyshia memicing tajam. Kecurigaannya semakin meningkat.
“Aku tidak suka berbicara dari jarak jauh, duduklah.” Ashton memberi kode agar Keyshia duduk di kursi depannya.
Haruskah dia duduk seperti yang Ashton perintahkan?
“Apa kamu akan terus diam seperti itu?” tegur Ashton.
Akhirnya Keyshia berjalan menghampiri Ashton lalu duduk di depannya. Tatapan Keyshia ke Ashton yang penuh rasa curiga membuat Ashton tersenyum kecut.
“Jadi, bagaimana bisa kamu tahu aku dipengaruhi oleh obat?” Keyshia mengulang pertanyaannya.
“Aku melihat dari kamu terjatuh.”
Pengakuan Ashton seketika membuat Keyshia merasa sangat kesal. Pria di depannya ini melihat semua itu dari awal, tapi kenapa dia malah diam saja?
“Lalu kenapa kamu diam saja?” Tangan Keyshia terkepal erat. Bibirnya kemudian tertarik ke atas membentuk senyum yang dia paksakan.
“Aku masih tidak begitu yakin dengan apa yang terjadi. Jadi, aku butuh waktu untuk menarik kesimpulan dari apa yang kulihat.”
Keyshia menunduk lalu menutup wajahnya. Dia tertawa tanpa suara untuk menertawakan nasibnya yang begitu buruk tadi malam. Jika saja Ashton bisa mengambil sikap lebih awal, dia tentu tidak akan mengalami hal menakutkan itu bukan? Tapi, di dunia ini memang seperti itu bukan? Sangat jarang ada yang langsung berinisiatif untuk membantu. Bahkan manusia zaman sekarang sudah sangat individualis.
Kenyataan yang menohoknya itu membuat Keyshia kembali menegakkan badannya. Dia mencoba untuk kembali tersenyum, tapi kali ini senyum yang sedikit lebih tulus.
“Terima kasih karena sudah membantu saya,” ucap Keyshia sopan. Dia bahkan sedikit menundukkan kepalanya saat mengucapkan itu.
“Kenapa kamu mendadak formal seperti ini?” Satu sudut bibir Ashton terangkat, merasa aneh dengan sikap Keyshia yang mendadak berubah.
“Ya… itu karena kesalahpahaman kita sudah berakhir.”
“Santai saja. Kamu tahu siapa aku bukan?”
“Apa tidak apa-apa?” tanya Keyshia memastikan.
“Ya, tentu saja. Kamu bahkan bisa memanggilku Ashton.”
“Baiklah.” Keyshia tersenyum canggung. Dia tidak percaya akan mendapati kesempatan seperti ini. “Kamu juga bisa memanggil namaku Keyshia.”
Ashton memiringkan kepalanya lalu senyum tipis itu tercetak. “Bukankah sedari awal aku sudah memanggilmu Keyshia?”
Apa yang dilakukan Ashton membuat Keyshia tersentak kaget. Apa yang baru saja dia lihat? Tidakkah itu terlalu menyilaukan untuk dilihat oleh mata manusia rendahan seperti dirinya?
Keyshia berdeham untuk mengurangi rasa gugupnya. Lalu dia pun berucap, “Waktu itu kamu memanggilku dengan embel-embel nona.”
“Begitukah?” Ashton mengangguk mengerti. Pandangan matanya bergulir ke arah piring yang tidak Keyshia sentuh sama sekali. “Apa kamu tidak berniat untuk sarapan? Aku bahkan berbaik hati membuatkan satu porsi untukmu.”
“A-aku akan memakananya.” Keyshia mengambil pisau dan garpu di sampingnya.
Untuk beberapa saat mereka jatuh dalam kesunyian hingga mereka berdua selesai sarapan. Ashton bangun dari duduknya, dia mengambil piring kotor miliknya lalu berjalan ke arah Keyshia, lalu berhenti tepat di samping gadis itu.
“Siapa yang membawamu ke club itu?” tanya Ashton yang membuat Keyshia meremang.
“Temanku.” Keyshia menggigit pipi bagian dalamnya untuk mengurangi ketakutan yang tiba-tiba melandanya itu.
“Siapa?”
“Namanya Fani. Kita tetangga sekaligus rekan kerja.”
Ashton menundukkan tubuhnya lalu berucap, “Kalian datang untuk bersenang-senang atau bekerja?”
Keyshia merasa jantungnya berhenti berdetak saat mendengar kecurigaan Ashton. Ternyata Ashton lebih menakutkan dari yang dia kira.
Keyshia menoleh ke arah Ashton. Dia berusaha untuk tetap terlihat tenang di tengah guncangan yang dia rasakan.
“Tentu saja untuk bersenang-senang. Fani bahkan cukup sering pergi ke club itu dan untuk pertama kali aku menerima ajakannya itu.” Raut wajah Keyshia yang awalnya datar seketika berubah sendu dan dengan suara yang lirih dia menambahkan, “Dan aku malah mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan di sana.”
“Hal itu tidak akan terjadi jika temanmu tidak berkomplot dengan pria itu?”
Balasan Ashton membuat Keyshia merasa lega. Dia hanya seorang jurnalis biasa yang tidak terlibat cara kotor untuk mendapatkan berita.
“Dia pergi ke dance floor, lalu tidak lama kemudian Ruben, b******n itu dia datang memperkenalkan dirinya sebagai temannya Fani. Lalu….”
“Lalu?”
“Kami mengobrol, lalu dia mentraktirku minum.”
Dari sampingnya, Keyshia mendengar suara tawa yang tertahan. Dia pun menoleh dan mendapati Ashton yang menutup mulutnya.
“Oh ya Tuhan. Kamu ini ternyata sangat polos ya.”
“Apa sekarang kamu mengejekku?” Keyshia cemberut.
“Karena kamu memang sangat polos.” Ashton lalu beranjak dari samping Keyshia.
Keyshia yang kesal pun mengikuti Ashton hingga Ashton berhenti di tempat cuci piring.
“Kenapa kamu berpikir seperti itu?”
Ashton berbalik menghadap Keyshia.
“Karena kamu bisa-bisanya percaya pada seseorang yang datang setelah temanmu pergi. Jika dia itu temannya temanmu, kenapa dia tidak menyapa saat temanmu itu ada di sana?”
Perkataan Ashton menyadarkan Keyshia akan kebodohannya. Dia yang selalu waspada, bisa-bisanya lengah dan termakan bujuk rayu Ruben. Rasa malu yang sudah di atas ubun-ubun membuat Keyshia hanya bisa diam dengan mulut terkatup rapat.
“Apa sekarang kamu malu?”
“Ti-tidak,” elak Keyshia.
“Lain kali, kamu harus lebih berhati-hati. Atau jika perlu, jangan sampai pergi ke club malam,” pesan Ashton.
“Aku tidak akan jatuh ke lubang yang sama.”
“Benarkah?” Ashton tersenyum geli.
“Ya, tentu saja.”
Perubahan ekspresi Ashton entah kenapa selalu terlihat menarik di mata Keyshia. Wajah diam Ashton itu sangat datar dan dingin, tapi siapa sangka dia bisa memperlihatkan berbagai ekspresi yang terlihat sangat indah?
“Baiklah. Lalu, apa sekarang kamu tidak ingin pulang?”
Entah kenapa pertanyaan Ashton terdengar seperti pengusiran. Keyshia yang mendengar itu pun merasa dongkol.
“Aku ada kegiatan, jadi kamu harus pulang sekarang,” tambah Ashton.
Keyshia menyunggingkan senyum terpaksanya. Dia ternyata benar-benar diusir Ashton!