16. Bertemu Lagi

1764 Kata
“Bukankah dia yang lebih tiba-tiba?” Keyshia menyalakan keran air. “Kenapa dia harus melakukan itu?” “Padahal aku tidak ingin membuat kenangan buruk di hari terakhirku bekerja.” Keyshia menghela napas lelah lalu membasuh wajahnya. “Aku benar-benar tidak bermaksud membuatnya sakit hati!” Bunyi dering ponsel yang terdengar keras menghentikan ratapan Keyshia. Dari kamar mandi, Keyshia berlari cepat menuju ponsel yang dia letakkan di atas tempat tidur. Nama Fani yang tampil di layar ponsel membuat Keyshia mengernyit. “Halo?” ucapnya begitu telepon itu dia angkat. “Tadi, apa yang dikatakan b*****h itu?” tanya Fani penasaran. Saat Dylan menyuruhnya pergi, Fani benar-benar pergi dan masuk ke apartemennya tanpa menunggu Keyshia. “Apa yang dikatakan Dylan?” ulang Keyshia tidak percaya jika Fani akan penasaran tentang apa yang dikatakan Dylan. “Iya, dia tidak menangis ditinggal kamu, kan?” “Tidak, dia tidak menangis.” “Terus?” “Tidak ada yang spesial. Kalau kamu penasaran, tanya dia saja.” Dibanding dia yang mesti berbohong, Keyshia lebih baik melempar pertanyaan ini ke Dylan. “Tapi kan aku mau mendengarnya darimu. Anak itu pasti tidak akan mengatakannya.” “Jika aku mengatakannya, dia akan marah.” “Pasti dia menangis karena kehilangan induknya,” simpul Fani. “Mungkin.” Keyshia tertawa pelan, dia berharap Fani mempercayai hal itu saja. “Ya sudah kalau begitu, selamat beristirahat Keyshia.” Begitu panggilan telepon itu berakhir, Keyshia mendapatkan pesan dari Gabriela. Pesan yang sudah dia tebak sendiri apa isinya. Gabriela: Sheena menyuruhmu untuk mulai bekerja di sana besok lusa. Dia sudah bersusah payah untuk memasukkanmu di sana, jadi kamu harus berusaha semaksimal mungkin untuk menarik perhatian orang itu. Keyshia: Ya, aku tahu itu. Gabriela: Oh ya, jika ada yang bertanya kenapa kamu bekerja di sana, jangan katakan jika kamu mengundurkan diri. Katakan saja jika kamu dipecat dan kesusahan untuk mencari tempat kerja yang baru. Gabriela: Dan maaf, kamu harus datang dan pulang seperti pegawai yang lain. Tapi itu cepat kok karena jam tutupnya jam 4, atau bahkan kurang. Keyshia merasa seperti anak kecil yang diajari. Tentu saja dia akan mengatakan dirinya dipecat karena tidak ada orang normal yang akan berhenti bekerja di tempat yang bagus dan pindah ke restoran kecil! “Dari awal semua ini memang bukan pekerjaan orang normal.” * * * Udara pagi yang selalu terasa dingin membuat Keyshia merasa enggan untuk pergi keluar dari apartemennya. Setelah kemarin dia menghabiskan waktunya dengan tidur, sekarang mau tidak mau dia harus pergi bekerja ke tempat yang bahkan tidak pernah dia datangi. Bermodalkan gps, Keyshia mencoba mencari restoran yang letaknya memang tidak terlalu jauh dari gedung Hebe Entertainment. Sama seperti saat dia pergi ke Hebe sebelumnya, Keyshia turun di pemberhentian bus waktu itu. Dari tempat pemberhentian bus, Keyshia masuk ke dalam gang yang tidak jauh dari gedung Hebe. Dari gang tersebut, dia harus berjalan ke pojok hingga bertemu dengan bangunan yang bertuliskan Sunshine. Restoran yang tersembunyi seperti ini membuat Keyshia tidak yakin jika ada orang yang tahu jika ada restoran ini. Bahkan namanya terdengar sangat kekanak-kanakan. “Tidakkah ini gila?” gumam Keyshia yang masih terpaku di depan pintu. “Apa kamu masih belum ingin masuk?” Keyshia tersentak kaget. Sosok pria bertubuh besar sekarang berada tepat di belakangnya. Pria itu menatapnya dengan tajam yang membuat nyali Keyshia menjadi ciut. Keyshia dengan kikuk memberi jalan pada pria besar di belakangnya. “Kamu pegawai baru, kan?” “Eh?” Keyshia tampak kaget sebelum dia mengangguk dengan cepat mengiyakan ucapan itu. “Kalau begitu ayo masuk ikuti aku.” Karena terlalu pagi, di dalam hanya ada satu orang pegawai yang sudah datang. “Siapa perempuan cantik di sampingmu?” sapa pria yang datang lebih awal itu. “Dia pegawai baru yang akan dikatakan bos.” Pria besar itu menatap Keyshia. “Dia London, dia juru masak di sini. Sama denganku.” “Tapi kamu siapa?” tanya Keyshia. “Aku belum memperkenalkan namaku?” Keyshia mengangguk membenarkan. “Namanya Hugh, beruang yang ahli menggunakan pisau. Jadi kamu harus hati-hati dengannya,” jawab London memperkenalkan pria besar yang ternyata bernama Hugh. “Tutup mulutmu itu London.” Hugh melempar tatapan tajamnya ke London, lalu berubah menjadi lembut saat menatap Keyshia. “Masih ada satu lagi yang belum datang, dia perempuan, namanya Vivi. Dia akan ada di bagian depan bersamamu.” “Apa hanya kalian bertiga di sini?” “Sebenarnya masih ada satu lagi, tapi tidak lama ini dia baru saja kecelakaan, jadi kamu masuk menggantikannya.” “Ah… begitu.” Penjelasan Hugh membuat Keyshia berpikir jika cara dia masuk bekerja karena Sheena sengaja membuat salah satu pegawai di tempat ini mengalami kecelakaan. Jika ini benar, Sheena adalah orang yang sangat berbahaya karena berani melakukan apa saja demi rencananya berhasil. “Selamat pagi semuanya?” suara nyaring menyapa mereka. “Nah, itu Vivi,” ucap London. “Ada apa?” Vivi berdiri tepat di samping Hugh. Sadar akan keberadaan asing, dia mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat Keyshia dengan jelas. “Kamu pegawai baru itu, kan?” Keyshia mengangguk. Vivi yang awalnya ada di samping Hugh segera berpindah ke samping Keyshia. Dia mengulurkan tangannya ke Keyshia. “Perkenalkan, aku Vivi. Kamu?” Hugh dan London tampak tersentak karena sedari tadi mereka belum mengetahui nama dari pegawai baru yang bersama mereka ini. “Keyshia Miller. Salam kenal semuanya.” “Jangan sungkan pada kami. Jadi, anggap saja kami temanmu karena di sini tidak ada senior atau pun junior,” ucap Hugh. “Terima kasih, aku pasti akan bekerja keras.” “Santai saja Keyshia. Di sini kita juga santai-santai, kecuali di jam makan siang,” ucap London yang diakhiri tawa kerasnya. “Dia memang kadang gila,” bisik Vivi. “Aku dengar itu.” London merengut. “Bos sebentar lagi datang, jadi kita harus segera membersihkan semuanya,” tegur Hugh. “Vivi, antar Keyshia ke belakang,” perintahnya. “Ini juga aku mau ke sana. Yuk, Key.” Vivi merangkul Keyshia dengan natural. Keyshia bahkan tampak kaget karena Vivi yang tanpa segan melakukan kontak fisik dengannya. “Maaf ya karena membuatmu langsung beres-beres.” “Tidak apa-apa. Akukan datang untuk bekerja.” Masih dalam suasana canggung, Keyshia mulai bekerja dengan membersihkan meja-meja. Restoran ini tidak begitu besar, tapi tidak begitu kecil. Sangat pas sekali dijalankan oleh sedikit pegawai dan bos yang juga merangkap sebagai juru masak. Bos di restoran ini bernama Arthur. Kesukaannya pada memasak membuatnya membuka restoran sunshine ini. Terlepas dari rasa tidak relanya berhenti bekerja, Keyshia tidak pernah menyangka jika dia akan disambut dengan ramah oleh bos dan juga rekan kerjanya. Keyshia berharap keramahan ini bukan tipuan semata. Karena pegawai baru, Keyshia banyak mendengarkan arahan dari Vivi yang bersamanya di meja depan untuk melayani pelanggan. Yang membuat Keyshia takjub, baru saja papan tutup dibalik menjadi buka, pelanggan sudah datang. Pelanggan mulai sepi saat jam masuk kantor. Karena sepi, Keyshia yang berjaga di kasir mencoba untuk beristirahat dengan memejamkan matanya. Tapi hanya sesaat sebelum lonceng pintu berbunyi dan sosok pria bertopi muncul. Pria itu bertopi, tapi entah kenapa Keyshia seakan bisa langsung menebak itu siapa. Dia Ashton, kan? batin Keyshia. Walau sudah menebak, Keyshia tetap saja kaget saat dia bisa melihat dengan jelas wajah yang tertutup topi itu. Tidak hanya Keyshia saja yang kaget, pria itu pun tampak kaget karena melihat Keyshia yang ada di meja kasir. “Kenapa kamu di sini?” Itu adalah kalimat yang pertama Ashton ucapkan setelah lama dia tidak bertemu dengan Keyshia. “Aku bekerja di sini,” jawab Keyshia hati-hati. Keyshia yang merasa canggung melirik ke arah Vivi yang langsung membuang pandangannya. “Ini sangat tidak masuk akal. Bagaimana dengan pekerjaanmu yang sebelumnya?” “Aku dipecat, jadi aku bekerja di sini mulai hari ini.” “Tapi kenapa kamu bekerja di tempat yang seperti ini?” Semua hal ini sangat tidak masuk akal bagi Ashton. Seorang seperti Keyshia malah bekerja di restoran, padahal dia bisa mencari pekerjaan yang lebih baik lagi. “Susah untuk mencari pekerjaan yang bagus dan cepat, apalagi untuk orang yang dipecat sepertiku.” Jawaban Keyshia membungkam Ashton yang tiba-tiba mengingatkannya tentang percakapan mereka saat makan malam waktu itu. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Keyshia. Wajah Ashton tampak lesu, seakan Ashton tidak tidur sama sekali. “Aku? Aku baik-baik saja.” “Kamu tampak lesu. Apa kamu tidak tidur hari ini?” Ashton membenarkan posisi topinya agar lebih tertutup lagi. “Aku memang belum tidur hari ini.” “Kamu pasti sangat sibuk sampai-sampai belum tidur. Setelah ini kamu harus istirahat agar tidak jatuh sakit.” “Terima kasih,” balas Ashton canggung. Keyshia balas ucapan itu dengan senyum canggungnya. Lalu dia tersentak jika dia sudah melupakan tugasya. “Oh ya, kamu ingin memesan apa?” tanyanya. “Aku ingin menu sarapan pertama. Lalu setelah selesai sarapan, aku ingin dibungkuskan dua ice americano.” “Baik.” Setelah membayar, Ashton segera pergi ke tempat yang biasanya dia duduki. Karena hanya ada satu ruangan, Keyshia bisa melihat dengan jelas di mana Ashton duduk. Ashton duduk di pojokan yang tidak memiliki jendela hingga tidak ada orang yang bisa mengganggunya. “Kamu mengenalnya?” bisik Vivi. “Dia memang terkenal bukan?” balas Keyshia. “Ya aku tahu, tapi dia sampai mengenalmu. Apa hubungan kalian?” tanyanya penasaran. “Dulu tempatku bekerja pernah bekerjasama dengan dia, jadi kami saling mengenal.” “Pantas saja.” Vivi takjub mendengar penjelasan Keyshia, padahal Ashton bisa dibilang selalu datang ke restoran ini untuk sarapan atau pun sekadar minum kopi saat siang. Dengan ekor matanya, Keyshia memperhatikan Ashton yang terlihat termenung tanpa melakukan apa pun. Keyshia tidak mengenal pribadi Ashton, tapi melihat Ashton yang seperti ini, Keyshia merasa jika Ashton berada dalam tekanan. Apa ini yang membuat Ashton tidak terlihat di tempat-tempat yang biasa dia datangi? “Aku mengantarkan pesanannya dulu,” pamit Vivi setelah pesanan Ashton selesai dibuat. Keyshia masih memperhatikan Ashton dalam diam. Pria itu tampak ramah pada Vivi yang mengantarkan pesananya. Mereka sedikit bercakap-cakap sebelum Vivi kembali dengan senyum yang mengembang lebar. “Dia yang membuatku merasa beruntung bisa bekerja di sini,” ucap Vivi pada Keyshia. “Dia memang selalu ke sini?” “Dia pelanggan tetap di sini. Dia bahkan kadang membawa teman-temannya yang keren-keren itu.” Pandangan Keyshia kembali tertuju pada Ashton yang fokus untuk menyantap sarapannya. Wajah Ashton tampak serius yang membuat Keyshia merasa lelah sendiri dan berharap Ashton sedikit lebih mengendurkan ekspresinya itu. Ashton membuat Keyshia benar-benar penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Ashton selama mereka tidak berhubungan. Lalu, apakah dia bisa menjadikan masalah itu sebagai hal yang bisa mendekatinya dengan Ashton? Atau hal itu malah akan membuatnya sulit untuk mendekati Ashton?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN