Kantung mata terlihat jelas di bawah mata Keyshia. Dia tidak bisa tidur semalaman karena harus membuat surat pengunduran diri. Surat pengunduran ini harus dia serahkan secepatnya agar Sheena tidak memarahinya.
“Masih ada waktu, tapi aku tetap saja belum siap,” keluh Keyshia. Dia menyukai pekerjaannya ini, terlebih dia memiliki teman-teman yang menyenangkan walau tidak sedikit yang menyebalkan.
“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.” Keyshia menutup matanya lalu dia mencoba memaksakan dirinya untuk tidur karena ini adalah hari liburnya yang berharga, jadi dia tidak boleh melewatkannya begitu saja.
Hanya satu jam Keyshia bisa memejamkan matanya hingga suara bel di apartemennya terdengar. Dengan langkah gontai dia pun berjalan menuju pintu dan membukanya. Senyum secerah matahari langsung menyambutnya begitu pintu terbuka.
“Ada apa dengan penampilanmu ini?”
“Aku baru bisa tidur satu jam lalu.”
“Padahal aku ingin mengajakmu untuk jogging.”
“Aku tidak punya tenaga untuk melakukannya,” tolak Keyshia.
“Apa kamu akan lanjut tidur?”
Keyshia mengangguk membenarkan.
“Baiklah kalau begitu. Nikmati hari liburmu.”
Keyshia kembali ke atas tempat tidurnya, tapi kantuknya tak kunjung datang. Sambil menutup matanya, Keyshia bergumam, “Ini semua karena Fani.”
Karena sudah terlanjur bangun, Keyshia memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan beres-beres, barulah setelahnya dia memasak. Biasanya dia jarang memasak karena keterbatasan waktu, tapi kali ini Keyshia bisa menghabiskan banyak waktu hanya untuk memasak.
Saat memasak, mendadak dia teringat Ashton. Dia sudah terlalu percaya diri jika Ashton akan menganggapnya berkesan setelah membuatkannya makan malam.
“Orang kaya sepertinya sudah pasti memiliki indera perasa di level maksimal,” gumamnya sedih. “Masakanku tidak akan meluluhkan hatinya.”
Sambil menahan perasaan sedih yang semakin meluap, Keyshia menyelesaikan masakannya secepat mungkin lalu memakannya. Saat tengah makan, kesedihan Keyshia ternyata tidak dapat dibendung lagi.
Keyshia tidak tahu kenapa dia bisa sesedih ini. Dia juga tidak mengerti kenapa dia bisa menangis, padahal dia bukan perempuan yang cengeng. sambil terus melanjutkan makannya, Keyshia mengusap air matanya mengalir.
Barulah setelah sarapan Keyshia mengerti kenapa dia menjadi sangat emosional. Penyebabnya tentu tidak lain tidak bukan karena dia datang bulan.
Perasaan sedih itu perlahan namun pasti tergantikan oleh rasa sakit akibat keram di perutnya. Keyshia hanya bisa berbaring meringkuk menahan rasa sakit di perutnya itu. Dia tidak memiliki cukup banyak tenaga untuk melakukan kegiatan lainnya.
Keyshia tidak melakukan apa-apa hingga malam hari. Di saat dia berniat untuk memesan makan malam, Fani datang membawakannya makan malam untuk mereka makan bersama.
“Seharusnya kamu mengatakan jika tidak bisa bangun dari tempat tidur.” Fani dengan cekatan menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
“Tidak mungkin aku merepotkanmu,” balas Keyshia lemah.
“Merepotkan bagaimana? Kamukan juga melakukan hal ini jika aku sakit.”
Setelah selesai menyiapkan dan menata alat makan, Fani mendekati Keyshia.
“Ayo bangun,” katanya sambil menarik Keyshia.
“Aku merasa seperti anak kecil,” ucap Keyshia.
“Kamukan memang bayiku.”
Keyshia memutar bola matanya yang membuat Fani tertawa terbahak.
Akhirnya Keyshia bisa mengisi perutnya yang terakhir kali di isi saat sarapan. Makanan yang dibawa Fani benar-benar membantunya. Keyshia merasa sangat beruntung karena di tempat yang jauh dari rumahnya ini, dia berteman dengan seorang sebaik Fani.
“Lain kali aku akan mentraktirmu,” ucap Keyshia di sela-sela makannya.
“Lebih baik cepat sembuh saja, baru kamu pikirkan itu.”
Setelah selesai makan malam, Fani tidak langsung pulang begitu saja. Dia membersihkan sisa-sisa makan malam mereka, lalu tidak lupa membuatkan Keyshia kompres untuk meredakan nyeri di perutnya.
“Nih ambil.” Fani meletakkan kompres itu di atas perut Keyshia. Dia kemudian duduk di kursi yang ada di sana.
“Terima kasih.”
“Kalau masih sakit, izin saja tidak masuk.”
“Aku akan tetap masuk besok.”
“Kamu ini.”
Lalu tiba-tiba suasana di antara mereka hening. Fani yang hanya duduk pun gatal untuk tidak melakukan sesuatu yang akhirnya berujung kaget.
“Apa ini?” Fani memperlihatkan amplop yang ada di tangannya.
Keyshia menoleh dan seketika terkejut saat melihat Fani memegang surat pengunduran dirinya.
“Kamu bercandakan?” tanya Fani memastikan.
“A-aku….” Keyshia tidak bisa melanjutkan ucapannya. Kata-katanya seakan tertahan di tenggorkan.
“Tapi kenapa kamu tiba-tiba mau mengundurkan diri? Bukankah kamu suka bekerja di sana?”
Karena ucapan Fani, Keyshia kembali merasa sedih. Dia sendiri juga tidak ingin berhenti bekerja di sana, tapi dia sudah terlanjur terikat dengan Sheena. Terlebih Sheena sangat tahu keadaan keluarganya, jadi akan sangat berbahaya jika dia tidak mempedulikan ucapan Sheena.
“Keyshia….”
“Aku mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.” Keyshia merasa tidak berbohong sepenuhnya dengan hal ini.
“Benarkah?”
“Iya, jadi aku harus segera berhenti bekerja.”
“Kapan kamu mencari pekerjaan itu? Kenapa tidak memberitahukannya padaku?”
“Baru-baru ini. Aku kira aku tidak akan diterima, jadi aku tidak berani untuk mengatakannya.”
“Apa kamu marah karena kejadian waktu itu?” Tatapan mata Fani terlihat sendu.
“Kejadian yang mana?”
“Saat di club.”
“Apa hubungannya?” Keyshia tertawa pelan.
“Karena kamu membenciku, mungkin?”
Kali ini tawa Keyshia semakin kencang dibuatnya. Barulah setelah puas tertawa, Keyshia berucap, “Kalau aku benci kamu karena itu, aku sudah pasti pindah apartemen.”
“Jadi bukan karena aku, kan?”
“Bukan.”
“Apa karena Amore? Dia sering membuat gara-gara padamu, kan?”
“Tidak kok. Aku benar-benar hanya mencoba peruntungan.”
Keyshia tidak peduli dengan orang-orang yang bekerja bersamanya. Selama dia mendapatkan gaji yang sesuai, dia akan melakukannya. Jika dia memikirkan rekan kerjanya yang tidak sedikit membencinya itu, dia tidak akan bisa membayar perawatan Skyla. Walau ada saja titik di mana Keyshia merasa lelah dan ingin menyerah, seperti pada saat ini. Dia ingin menyerah dari Sheena, tapi tidak bisa dia lakukan.
“Aku senang kamu mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus, tapi aku juga sedih karena kamu tidak lagi di kantor. Kita tidak bisa berangkat bersama lagi.”
“Setidaknya kita masih bertetangga, bukankah itu lebih baik? Kita bahkan masih bisa menghabiskan waktu bersama saat weekend, seperti sekarang,” hibur Keyshia.
“Ya, kamu benar juga.”
Setelah perasaan Fani lebih baik, Fani memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Tinggallah Keyshia seorang diri di kamarnya. Kembali meringkuk dengan kesedihan yang menyelimutinya.
Begitu malam berganti pagi, rasa enggan untuk pergi ke tempat kerja itu membuat badan Keyshia terasa berat. Sakit di perutnya masih terasa, tapi Keyshia hanya bisa menahan rasa sakitnya itu.
“Apa kamu akan memberikannya sekarang?” tanya Fani.
“Ya, rencananya seperti itu.”
Fani menghela napas lelah. Dia menatap Keyshia sendu.
“Jangan menatapku seperti itu. Jika nanti kamu menatapku seperti itu, yang lain pasti akan curiga. Aku tidak ingin membuat suasana menjadi buruk.”
“Aku akan berusaha.”
Pada akhirnya Keyshia benar-benar mengajukan surat pengunduran dirinya. Tidak ada yang tahu kecuali Gabriela dan Fani. Gabriela terlihat senang melihat Keyshia yang mengikuti perintah Sheena dengan cepat yang membuatnya semakin bangga dengan pilihannya itu.
Semuanya berjalan seperti biasanya selama dua minggu hingga tiba waktu di mana Keyshia benar-benar keluar dari kantornya itu. Tidak ada yang menyangka jika Keyshia yang selalu bersemangat itu keluar dari kantor tanpa memberitahu sebelumnya.
“Apa ini?!” seru Dylan. “Kamu bercandakan?” tanyanya memastikan.
“Aku serius.”
“Tapi kenapa?”
“Aku mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.”
Dylan terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi beberapa saat kemudian bibirnya tertutup lagi.
“Maaf, tidak mengatakannya padamu.”
“Di mana?” Akhirnya Dylan mengatakan apa yang ingin dia katakan.
“Ya?”
“Di mana tempat kerjamu yang baru?”
“Untuk apa kamu bertanya seperti itu?”
Dylan tampak tertohok mendengar pertanyaan Keyshia. Kenapa dia bertanya seperti itu?
“Apa tidak boleh? Kita teman, kan?” Setelah mengatakan itu, Dylan semakin kuat mengepalkan tangannya. Dia terlalu takut untuk mendengar jawaban Keyshia yang selanjutnya.
“Iya, tapi—”
“Sudahlah, jangan katakan. Pasti rasanya tidak nyaman untukmu mengatakannya.”
“Maaf ya?” Permintamaafan Keyshia secara tidak langsung membenarkan ucapan Dylan.
“Tidak apa-apa. Bagaimana jika kita pergi makan malam sebagai hadiah perpisahan dariku?” ajak Dylan.
“Aku malah baru akan mengajakmu.”
“Dengan yang lainnya juga?” tanya Dylan yang dijawab anggukan Keyshia. Pada akhirnya Dylan tidak bisa makan malam berdua dengan Keyshia.
Begitu jam pulang kantor, tuju rekan kerja yang benar-benar dekat dengan Keyshia pergi makan malam bersama sebagai perpisahan Keyshia. Walau suasananya hangat, tapi beberapa orang di sana, termasuk Dylan, tampak sedih karena harus berpisah dengan Keyshia.
Sepanjang acara makan malam itu, tidak sedikit pun memutuskan kontak matanya dari Keyshia. Dia ingin memuaskan matanya sebelum dia tidak pernah melihat Keyshia lagi. Sebenarnya ada cara lain agar dia bisa terus bertemu dengan Keyshia, tapi Dylan terlalu takut untuk mengambil resiko itu. Tapi jika bukan sekarang, kapan lagi dia memiliki kesempatan yang bagus?
“Dylan,” panggil Fani.
“Ya?”
“Bagaimana jika kamu mengantar kami pulang?” pintanya.
“Fani,” tegur Keyshia. Dia tidak ingin merepotkan rekan kerja yang akan dia tinggalkan lebih dari ini.
“Aku juga berniat untuk memberikan kalian tumpangan.” Permintaan Fani itu tentu saja tidak ditolak Dylan. Kapan lagi kan dia bisa mengantar Keyshia pulang?
Mereka bertiga akhirnya pulang. Fani duduk tepat di samping Dylan, sedangkan Keyshia ada di kursi belakang. Ini pembagian tempat duduk yang tidak diharapkan oleh Dylan.
“Pasti menyenangkan bisa tinggal di apartemen yang sama.” Dylan melirik Keyshia dari kaca spion.
“Sangat menyenangkan bisa memiliki tetangga seperti Keyshia, kamu tahu itu kan?”
“Aku jadi iri.”
Keyshia hanya diam menyimak pembicaraan itu. Dia sudah kehilangan semua tenaganya hari ini. Acara perpisahan yang dibuat membuatnya semakin berat untuk berpisah dengan rekan-rekan kerjanya itu.
Sejujurnya Keyshia sangat tidak rela harus berhenti seperti ini.
Perjalanan panjang itu akhirnya berakhir tepat di depan apartemen Keyshia dan Fani.
“Huaaah, terima kasih ya Dylan,” ucap Fani.
“Terima kasih ya, Dylan,” ucap Keyshia juga.
“Aku senang bisa mengantar kalian.”
“Sering-sering saja,” celetuk Fani yang dibalas tatapan tajam Dylan.
Saat Fani dan Keyshia keluar dari dalam mobil Dylan, Dylan tanpa pikir panjang ikut keluar yang membuat kebingungan terjadi di antara mereka.
“Kenapa?” tanya Keyshia.
“Ada yang ingin kukatakan padamu, Keyshia.”
“Ya sudah, katakan saja.”
Keyshia menunggu dengan penasaran, tapi Dylan tidak kunjung mengatakan apa yang ingin dia katakan.
“Tidak jadi?” tanya Keyshia.
Pandangan Dylan bergulir ke arah Fani yang dengan santai berdiri di samping Keyshia. Fani yang sadar pun langsung merengut.
“Sepertinya aku mengganggu. Kalau begitu aku akan masuk duluan.”
Sekarang tinggallah Keyshia dan Dylan. Walau Fani sudah beranjak dari sana, Dylan tidak kunjung mengatakan apa yang ingin dia sampaikan. Bahkan yang lebih anehnya, saat mata mereka bertatapan, Dylan membuang pandangannya.
“Kamu masih marah karena aku pindah tanpa memberitahumu?”
“.…”
“Aku benar-benar tidak bermaksud untuk menyembunyikannya. Terlebih aku berpikir sesekali kita masih bisa bertemu.”
“Kenapa harus sesekali?” tanya Dylan.
“Karena aku sibuk dan kamu juga sibuk.”
“Apa kamu akan mengatakan hal seperti ini juga pada kekasihmu?”
“Maksudmu?”
Dylan mengambil napas lalu dengan penuh keberanian, dia mengungkapkan seluruh isi hatinya, “Aku tidak ingin sesekali bertemu denganmu, aku ingin kita menghabiskan banyak waktu bersama. Aku ingin menjadi kekasihmu karena aku menyukaimu.”
Ini adalah pernyataan cinta yang tidak pernah Keyshia sangka-sangka. Dia bahkan sampai mundur karena kaget dan bertanya-tanya. Apa benar pria yang di depannya ini Dylan yang dia kenal?
“Jadi bagaimana Keyshia? Apa kamu mau menerimaku? Dan jika kamu bingung, aku akan memberimu waktu untuk berpikir.”
“Tidak.”
“Kamu tidak ingin diberi waktu?”
“Iya, tapi bukan itu. Maksudku, aku tidak bisa menerimamu. Kamu tahu alasannya kan?”