“Hanya dalam mimpimu, Argus!” suara Samuel menggelegar, menggema seperti badai yang memecah malam. Tangannya menghantam wajah Argus dengan kekuatan beringas, membuat pria itu memuntahkan darah yang merembes di sudut bibirnya, bercampur dengan deru napas penuh kesakitan. “Sam, berhentilah! Jangan membunuhnya di sini!” jerit Afrod, suaranya pecah di antara desing kekerasan yang menguasai ruang. Ia menarik lengan Samuel dengan gentar, seolah memohon pada amukan api yang hampir melahap segalanya. Napas Samuel memburu, seperti binatang buas yang baru saja mencicipi darah. Ia menepis tangan Afrod dengan kasar, tatapannya tetap terpancang pada Argus yang tergolek tak berdaya, wajahnya kini hanya gumpalan luka dan penghinaan. Mata Samuel menyala, penuh bara dendam yang belum terpuaskan. “

