Malam itu, hawa malam yang lembap menyelimuti kota, membawa aroma debu dan asap yang membaur di udara. Samuel, Afrod, dan Pram melangkah dengan mantap menuju bar yang gemerlap oleh lampu-lampu neon, seolah tempat itu adalah panggung bagi sebuah konfrontasi yang tak terelakkan. “Jangan membunuhnya di sini, Sam,” bisik Afrod dengan nada yang tegas namun terkendali, matanya menyapu sekitar untuk memastikan tidak ada ancaman mendekat. “Meski kau punya kuasa di kota ini, anak buah Bruno masih bertebaran seperti serigala lapar.” Samuel hanya menghela napas panjang, menatap puntung rokok di tangannya sebelum melemparnya ke tanah dan menginjaknya dengan perlahan. Tanpa sepatah kata, ia melangkah memasuki klub itu, meninggalkan jejak intensitas yang menggantung di udara. Di dalam, alunan m

