Malam merayap pelan, membungkus dunia dengan selimut kelam bertabur bintang. Cahaya bulan menggantung di langit, memancarkan sinar perak yang menari di permukaan gelas-gelas kristal yang tertata di meja. A roma daging yang terbakar perlahan di atas panggangan bercampur dengan wangi angin malam yang segar, menciptakan atmosfer yang menenangkan di rooftop rumah Samuel. Di sanalah mereka berkumpul, menikmati malam dengan gelak tawa yang menggema di udara. “Hh! Hari ini adalah hari yang melelahkan. Tolong beri aku wine, dua botol sekaligus,” keluh Jerico seraya merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang, seolah dunia ini hanyalah miliknya seorang. Suaranya berat dan malas, dipenuhi keletihan setelah seharian menghadapi urusan bisnis yang tak pernah ada habisnya. Afrod, yang tengah menuangka

