“Apa kau tidak mengerti dengan yang namanya cuti, huh?” suara Samuel meledak di udara, tajam bak sembilu yang siap menyayat kesabaran. Rahangnya mengeras, jemarinya menggenggam ponsel seakan ingin meremukkannya. Setelah sepuluh hari mengembara di tanah asing, ia hanya ingin menenggelamkan diri dalam keheningan, tetapi ketenangan itu direnggut paksa oleh suara sialan yang memenuhi telinganya. Di seberang sana, Afrod tak gentar. “Aku tidak akan menghubungimu jika ini bukan hal mendesak, Samuel,” suaranya terdengar tenang, meski samar-samar terselip kejengkelan yang ditahan. “Marah-marah terus kerjaanmu, Sam. Apa kau tidak mendapat jatah semalam, huh?” Samuel mendengus tajam, napasnya mendesir seperti hembusan angin yang siap membakar segalanya. “Ada apa? Cepat katakan. Aku tidak pu

