“Sepertinya adik kesayanganmu sedang ingin me time dengan istrinya, Sayang,” sindir Stevan, suaranya mengalun lembut bak gesekan senar biola yang dimainkan dengan penuh perasaan. Tatapannya melirik Samuel yang masih memeluk Julia erat, seolah takut sang istri akan menghilang begitu saja jika rengkuhannya mengendur. Di mata Samuel, dunia seakan menciut, menyisakan hanya dirinya dan Julia—tak ada orang lain, tak ada suara selain detak jantung yang berpadu dalam irama kesunyian malam. Clara mengangguk kecil, matanya berpendar menangkap cahaya temaram lampu gantung yang memancarkan kilauan keemasan di ruangan megah itu. Ia menoleh ke arah Stevan dengan senyum simpul. “Kalau begitu, sebaiknya kita pulang saja.” Suaranya lembut, seperti desir angin yang membelai dedaunan di ujung musim gu

