Samuel tidak langsung kembali ke rumah setelah tiba di New York. Kota itu masih berselimut malam, lampu-lampu neon berpendar di sepanjang jalan layaknya bintang yang tersesat di bumi. Namun, pikirannya tak tertarik pada keindahan metropolitan yang gemerlap. Ada satu hal yang lebih mendominasi relung hatinya—kerinduan yang mencekik d**a. Alih-alih pulang, ia memilih langsung menuju ruang meeting di lantai tertinggi kantornya, tempat Afrod dan Pram telah menunggunya sejak dua hari yang lalu. Aroma kopi dan dokumen berserakan menyambutnya begitu ia melangkah masuk. “Selama satu minggu ke depan, aku tidak bisa masuk kantor,” Samuel membuka suara, suaranya tenang namun tegas, membuat kedua anak buahnya refleks mengangkat kepala. “Afrod, kau yang akan menangani semua pekerjaan yang harus

