Claudia melangkah mendekati Bruno, sosok pria bertubuh kokoh yang duduk di singgasananya, dilingkupi amarah yang membara. Mata pria itu gelap seperti lautan di malam tanpa bulan, sarat dengan bara dendam atas kematian Argus yang menguap di tangan Samuel. Aroma tembakau yang terbakar memenuhi udara, menyatu dengan aura kematian yang selalu menyelimuti ruangan ini. “Aku menemukan sesuatu tentang Julia,” ucap Claudia, suaranya terdengar lirih namun menusuk, seperti pisau tipis yang siap mengiris ketenangan Bruno. Pria itu mengangkat wajahnya, matanya yang tajam memancarkan kemarahan yang belum reda. Ia mengisap batang rokok di antara jarinya, lalu mengembuskan asap pekat ke udara, seakan menghembuskan sedikit dari emosinya yang membuncah. “Apa?” tanyanya, suaranya berat dan dalam, me

