“Sam? Apa kau yakin dengan janji yang kau berikan pada warga? Bukankah ini terlalu berbahaya?” tanya Afrod, suaranya dipenuhi kecemasan yang tak ia sembunyikan. Ruangan itu sunyi, hanya ada tiga orang yang tersisa, dan keheningan malam seolah menekan udara di sekitar mereka. Samuel menghela napas panjang, menatap keluar jendela besarnya. Pemandangan di luar tampak kelam, dihiasi bayang-bayang gedung yang menjulang seperti saksi bisu keputusannya. “Aku tidak takut pada siapa pun, Afrod. Dan hanya dengan cara inilah aku bisa menghadapi Bruno dan menghentikan aksinya,” ucapnya perlahan, suaranya serupa badai yang ditahan di ujung horizon, siap menerjang kapan saja. Afrod mengusap keningnya, napasnya sedikit tercekat. “Ya, aku tahu. Tapi, ini masih menjadi wilayah Bruno. Kau baru saja me

