Hari yang dinanti oleh Gatha akhirnya tiba juga. Bersama Ivy, ia memilih menempuh perjalanan udara menuju rumah orang tua Ivy. Bukan tanpa alasan, kondisi Ivy yang tengah mengandung membuat perjalanan darat berjam-jam terasa terlalu melelahkan. Kini keduanya duduk di kursi belakang sebuah taksi, membiarkan kota dimana dulu Gatha berkuliah dan sempat mengurus kantor cabang perusahaan keluarganya, melintas di balik jendela. Namun, bukannya tenang, Gatha justru gelisah. Ada ketakutan yang menghantui pikirannya yaitu takut bila kehadirannya tak diterima oleh orang tua Ivy. Lebih-lebih, kedatangan mereka ini benar-benar mendadak, tanpa pemberitahuan apa pun sebelumnya. Ivy yang menyadari keresahan itu menggenggam erat tangan Gatha. “Jangan panik,” ucapnya lembut, suaranya penuh keyakinan. “A

