Keesokan harinya. Masih terlalu pagi, ketika Gatha berdiri di depan pintu apartemen Ivy. Suasana koridor masih sepi, cahaya matahari bahkan baru saja menyingkap dari celah gedung-gedung tinggi. Di dalam, Ivy yang baru saja bangun tidur masih diselimuti kantuk. Rambutnya berantakan, matanya setengah terpejam ketika langkah malasnya membawanya menuju pintu. Ia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan tamu sepagi ini. Begitu daun pintu terbuka, rasa kantuk itu seketika sirna. Sosok Gatha berdiri tegak dengan setelan jas rapi, kontras dengan dirinya yang masih berantakan. Ivy nyaris tak percaya, tapi sebelum sempat berkata apa-apa, Gatha sudah lebih dulu meraih tubuhnya ke dalam pelukan hangat. Dengan satu gerakan, pria itu mendorongnya masuk, sementara kakinya menutup pintu di belakang

