Pagi itu menyapa dengan cahaya lembut yang menyusup melalui tirai tipis kamar. Ivy terbangun perlahan, matanya menyesuaikan diri dengan sinar matahari yang mengintip dari celah jendela besar. Di sampingnya, Gatha masih terlelap, wajahnya tenang tanpa beban. Ivy terdiam, menatap pria itu dengan seksama. Tangannya sempat terangkat, ingin meraba pipi Gatha, merasakan hangat kulit yang selama ini hanya ia lihat dengan penuh kebencian. Namun, ia menahannya. Bibirnya bergetar samar, hatinya berbisik pelan. Rasa benci yang dulu membara kini telah padam. Surat dari Jenna telah membuka segalanya, menghancurkan tembok dendam yang ia bangun selama ini. Yang tersisa hanya kelegaan bercampur sesal. Dengan hati-hati, Ivy bangkit dari ranjang, memastikan gerakannya tidak membangunkan Gatha. Ia melangk

