Sania terdiam di balkon kamarnya. Ia menatap nyalang pada langit yang malam ini tampak mendung. Jika dipikir-pikir, ia benar-benar tidak bisa mencintai Pram karena memang sejak awal tidak pernah ada ketertarikan. Hubungan yang terjalin hanya sebatas formalitas karena ia butuh sosok ayah untuk Saga. Nahasnya, yang dekat dengan bocah itu malah Saka. Entahlah. Sekarang, ia dan Pram akan bercerai. Saka pergi ke Amerika untuk kembali bersekolah, aah ... tidak. Pria itu pasti memutuskan untuk pergi karena dirinya. Bukankah itu yang Saka katakan sebelum pergi? Sania mengusap wajahnya dengan gusar. Sejenak saja, ia ingin menghapus Saka dari pikirannya. Namun, makin ke sini, ia makin tidak bisa melakukannya. Keduanya menjaga diri sampai akhirnya benar-benar terpisah seperti ini. Ya, mungkin ini

