bc

Pernikahan Palsu (Aku Bukan Istri yang Diinginkan)

book_age18+
253
IKUTI
3.3K
BACA
love-triangle
contract marriage
HE
drama
city
secrets
like
intro-logo
Uraian

"Tandatangani perjanjian ini, jika tidak ingin kubuat hidupmu hancur!"

***

Awalnya Tsania sangat bahagia karena dipersunting oleh pria yang selama ini ia cintai.

Namun, semuanya berubah ketika Jovan dengan tanpa dosanya memberikan surat kesepakatan pernikahan padanya.

Dalam surat itu tertanda, ia hanya menginginkan anak dari Tsania dan silakan pergi setelah melahirkan anak untuknya.

Perih yang Tsania rasakan. Cinta tulus yang ia berikan dibalas dengan pengkhianatan yang menyakitkan.

Mampukah Tsania melewati cobaan yang menyakitkan ini?

Akankah Tsania bertahan dalam pernikahan palsu itu?

chap-preview
Pratinjau gratis
Awal Pernikahan yang Menyakitkan
“Are you ready for tonight, Honey?” bisik Jovan, suaranya bagai angin sepoi yang menyusup ke dalam relung hati, sementara tangannya yang lembut menyentuh pipi Tsania dengan penuh kehangatan. Mata penuh hasratnya menatap wanita itu, seolah menyelami lautan cinta yang dalam dan tak bertepi. Tsania mengangguk lembut, seulas senyum menghiasi bibirnya yang ranum. Mendapat izin dari sang istri, Jovan mendekatkan wajahnya, bibirnya yang hangat menyentuh lembut bibir Tsania. Tangan-tangannya menjelajahi setiap lekuk tubuh indah Tsania yang tertutup kain tipis, kain yang tampak rapuh di hadapan api hasrat yang berkobar di dalam d**a Jovan. Setiap sentuhan, setiap desiran kulit yang bersentuhan, bagai irama yang mengiringi simfoni cinta mereka. Desahan dan lenguhan berpadu menjadi melodi, mengisi ruang kamar yang diselimuti cahaya remang. Permainan liar mereka menjadi tarian penuh gairah di bawah naungan malam, di mana setiap detik terasa abadi, dan setiap sentuhan menciptakan kenangan yang tak akan pernah pudar. Kamar itu menjadi saksi bisu cinta yang terjalin erat, di bawah cahaya gelap yang memeluk mereka dalam hangatnya. ** Malam itu terasa dingin dan sunyi, hanya terdengar gemericik air hujan yang jatuh membasahi jendela. Tsania berdiri di sudut ruangan, memandangi map yang baru saja diberikan oleh pria yang dicintainya setelah mereka melakukan malam pertama mereka. Tangannya bergetar saat membuka map tersebut. “Apa ini, Mas?” tanyanya dengan suara bergetar, penuh kebingungan dan harapan yang samar. Jovan, pria yang selama ini membuat hatinya berdebar-debar, menatapnya dengan tatapan dingin. "Kesepakatan pernikahan," ucapnya datar dan tegas. Bukan lagi pria yang lembut dan penuh kasih, seolah semua kehangatan itu lenyap dalam sekejap. Tsania tertegun, hatinya mencelos seiring kata-kata Jovan yang terdengar begitu asing dan jauh. “Ma—maksud kamu?” Tsania terbata-bata, kemudian membuka map tersebut dengan pelan. Ia membaca isi dari kesepakatan yang tertera di lembar kertas itu. Matanya membola, bulir air mata mengancam jatuh di sudut matanya. “Apa ini, Mas? Kamu … kamu jebak aku?” tanya Tsania dengan suara gemetar setelah membaca isi dari kesepakatan dan perjanjian tersebut. Jovan menatap datar wajah Tsania. “Perlu aku jelaskan padamu, Tsania. Ini bukan keinginanku. Tapi, keinginan orang tuaku yang berisik bertanya kapan aku menikah. Untuk itu, aku memilih kamu menjadi perempuan yang aku nikahi. Aku tahu dari beberapa orang kalau kamu mencintaiku.” Dengan jelas dan terang-terangan, Jovan rupanya terpaksa menikah dengan Tsania karena tuntutan kedua orang tuanya. “Mereka mengira aku menyimpang. Lebih baik menikah denganmu daripada dikatai menyimpang oleh mamaku. Tapi, jangan pernah sekalipun kamu memberi tahu hal ini kepada orang tuamu bila tidak ingin terjadi apa pun padamu!” jelasnya lagi seraya mengancam Tsania agar tidak memberitahu orang tuanya maupun orang tua Tsania tentang kesepakatan itu. Air mata itu sudah tidak bisa ditahan lagi. Sembari membuang muka, Tsania memejamkan matanya karena perih atas luka yang dibuat oleh Jovan kepadanya. “Ucapan manis kamu selama ini ternyata hanya bualan semata. Tidak sepenuhnya mencintaiku. Hanya menginginkanku untuk membuktikan kalau kamu bukan pria menyimpang. Jahat kamu, Mas! Sungguh tidak ada bedanya kebohongan dan kejujuran kamu.” Tsania merasa dijebak. Ia tidak menyangka bila lelaki itu hanya memanfaatkan perasaannya kemudian dia jadikan sebagai istri lantaran orang tuanya yang terus menerus mendesak Jovan agar segera menikah. “Apa mau kamu, Mas? Kenapa kamu menjebak aku? Setelah menodaiku dengan segala kekuasaan yang kamu miliki, aku berusaha menahan sakit dan perihnya saat kesucianku kamu renggut. Dengan mudahnya kamu memberikan kesepakatan pernikahan ini tanpa dosa!” pekik Tsania kemudian melempar dengan kasar dokumen itu tepat di wajah Jovan. Matanya memerah tajam menatap Jovan yang bisa-bisanya mempermainkan pernikahan itu. “Egois kamu, Mas. Kamu tidak memikirkan perasaan aku, huh?” Jovan tersenyum miring. “Untuk apa? Aku tidak mencintaimu. Hanya ingin menjadikanmu istriku saja. Terlepas dari itu semua—” Plak! Tsania menampar wajah Jovan dengan bahu bergetar karena isak tangis yang semakin menjadi. Air matanya tak ingin berhenti keluar dari sudut matanya. “Apa yang kamu inginkan, Mas?” tanyanya tanpa menatap wajah lelaki itu. “Tega sekali kamu memperlakukan aku seperti ini,” ucapnya lesu. Jovan hanya diam, tatapannya tak berubah. Hati Tsania hancur berkeping-keping, tak ada lagi yang tersisa dari cinta yang dulu pernah ia rasakan. Malam itu, dalam kehampaan dan luka yang mendalam, Tsania berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah membiarkan hatinya dihancurkan lagi. Malam itu, angin berhembus lembut di luar jendela, namun suasana di dalam kamar Tsania begitu tegang dan penuh dengan kegetiran. Tsania duduk di sofa, wajahnya pucat, sementara Jovan berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam yang penuh determinasi. “Beri aku anak. Setelah itu, silakan pergi dari hidupku. Aku berjanji akan menjamin hidup kamu dan carilah pasangan yang bisa mencintai kamu dengan tulus,” ucap Jovan dengan nada tegas, menghapus segala kelembutan yang pernah ada di antara mereka. “Anak?” Tsania menoleh dengan cepat pada Jovan setelah mendengar ucapan tegas dari lelaki itu. Jovan menganggukkan kepalanya. “Ya. Aku hanya menginginkan anak darimu untuk membuktikan kalau aku normal dan bisa menghamili perempuan. Jangan mengharapkan cinta dariku. Karena itu tidak akan mungkin. Sampai kapan pun, sampai kamu melahirkan. Hanya ada satu nama yang akan aku simpan di sini. Di hatiku.” Setiap kata yang keluar dari mulut Jovan bagaikan pisau tajam yang menusuk jantung dan relung hati Tsania. Semua itu sangat menyakitkan, hingga air mata pun tak dapat dibendung lagi. “Sampai kapan pun aku tidak akan menandatangi kesepakatan konyol itu!” pekik Tsania, menolak perintah Jovan dengan penuh kemarahan. Mendengar penolakan itu, Jovan naik pitam. Ia kemudian menekan keras bahu Tsania dengan sorot mata yang begitu tajam, menatap perempuan itu hingga membuat Tsania meringkuk ketakutan. “Tidak mau menandatangani surat itu artinya kamu telah merelakan orang tuamu hidup melarat. Orang tuamu akan kehilangan usahanya setelah toko yang sudah aku modali, aku tarik kembali. Itu, maumu?” ancam Jovan dengan suara menggelegar.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook