Ancaman itu menghantam Tsania seperti gelombang besar. Jovan telah memberikannya semua fasilitas mewah: rumah, kendaraan, usaha orang tuanya di Bogor, dan juga fasilitas lainnya.
Tsania tahu, ia tak bisa berkutik bila sudah membahas orang tuanya. Hanya bisa menurut dan terpaksa menandatangani kesepakatan pernikahan tersebut. Ia tahu bahwa setelah melahirkan, ia harus rela diceraikan oleh Jovan karena pria itu hanya menginginkan seorang anak darinya.
“Kalau memang kamu hanya menginginkan seorang anak, kenapa harus menikahiku? Cari saja perempuan yang ingin menyewakan rahimnya untukmu, Mas!” ucap Tsania seraya menatap Jovan penuh dengan kebencian.
“Mama tidak ingin punya cucu hasil dari luar nikah. Untuk itu, lebih baik aku nikahi kamu, setelah itu kita berpisah. Kamu jangan khawatirkan anak kita kelak. Dia akan baik-baik saja dan segera melupakan kamu,” jawab Jovan dengan suara dingin.
Begitu menusuk jantung mendengar bahwa Jovan hendak memisahkan dia dengan anaknya kelak.
Rencana itu sudah direncanakan dengan sangat matang oleh lelaki itu. Tsania sudah dijebak, dan akting Jovan begitu sempurna hingga membuat perempuan itu masuk ke dalam perangkapnya.
“Sejahat dan sebusuk itu hati kamu, Mas. Hanya menginginkan seorang anak dariku, kemudian meninggalkanku tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.” Tsania geleng-geleng kepala, air mata tak henti-hentinya mengalir.
“Lebih baik kamu ceraikan aku sekarang juga, Mas!”
Jovan tersenyum menyeringai. “Oh, yaa? Kalau ingin aku ceraikan sekarang juga, bayar semua utangmu, biaya pelatihan, rumah, dan tempat usaha orang tuamu. Jabatan kamu akan jadi taruhannya. Di mana pun kamu bekerja, jangan harap ada yang mau menerimamu. Namamu akan aku blacklist di semua perusahaan!” ancamnya dengan suara yang penuh kebengisan.
Tsania terdiam, hatinya hancur berkeping-keping. Tidak ada jalan keluar yang mudah dari mimpi buruk ini.
Namun, di tengah kepedihan dan kekecewaan, ia tahu bahwa suatu saat, ia harus menemukan cara untuk bangkit dan melepaskan diri dari cengkeraman Jovan.
Malam itu, dalam kesedihan yang mendalam, Tsania bertekad untuk tidak membiarkan dirinya terus-menerus terperangkap dalam kejamnya permainan cinta palsu ini.
Di hadapannya, Jovan James Harden, pria dengan banyak perusahaan yang tersebar di berbagai bidang—dari properti, konstruksi, tekstil, baja, batu bara hingga perhiasan—berdiri dengan angkuh. Dengan kekuasaannya, ia mampu memerintahkan semua pengusaha untuk tidak pernah menerima Tsania sebagai karyawan di perusahaan mereka, apa pun bagiannya.
Tsania kembali tak berkutik, hanya menatap nanar wajah suaminya itu. Perasaan tak berdaya menyelimuti hatinya, membuat air mata menggenang di sudut matanya.
“Jangan menunda kehamilan. Lebih cepat lebih baik!” ucap Jovan tegas, suaranya dingin dan tanpa kompromi.
“Lalu, kalau aku tidak bisa memberimu anak, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Tsania seraya mengusap air matanya yang mulai jatuh. “Kamu akan menceraikan aku? Iya?”
Jovan menatapnya dengan tatapan yang penuh ejekan. “Kenapa tidak bisa hamil? Semua perempuan bila sudah digauli, pasti akan hamil. Kecuali kamu mandul!”
Tsania menelan salivanya dengan pelan, perasaan sakit dan marah berbaur menjadi satu. “Aku baru sadar. Kamu menggauliku terlebih dahulu agar aku tidak bisa berkutik dan pergi setelah diberikan surat kesepakatan itu. Agar aku hamil, kemudian memberimu anak.” Tsania tersenyum getir seraya mengusap air matanya.
“Pintar. Kamu memang perempuan paling pintar yang aku kenal. Jadi istri yang baik dan sekretaris yang baik. Jangan pernah memberi tahu hal ini kepada siapa pun sampai kita cerai nanti. Aku sudah punya alasan kenapa kita bercerai nanti.”
Tsania menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah suaminya itu, hatinya terasa hancur mendengar kata-kata yang begitu dingin dan tanpa perasaan. “Bahkan hal itu pun sudah kamu persiapkan? Seolah-olah semuanya akan berjalan dengan mulus?” Tsania kembali berlinang air mata.
“Mas. Siapa yang hingga saat ini masih ada di dalam hati kamu? Kenapa sulit untuk melupakan dia?” tanya Tsania ingin tahu.
“Selama ini, selama aku menjadi sekretaris kamu lima tahun ini, tidak pernah melihat kamu kencan dengan perempuan apalagi melihat kamu menghubungi perempuan.”
Jovan menghela napas panjang, tatapannya kosong menatap jendela. “Dia kekasihku yang pergi meninggalkanku tanpa sebab.
Karena itulah, aku merasa kami belum ada status yang jelas dan aku masih mencintainya hingga saat ini.
Aku tegaskan sekali lagi, jangan pernah mengharapkan cinta dariku. Aku tidak pernah berniat mencintai siapa pun termasuk kamu.”
Tidak ada yang lebih hina dari ucapan Jovan kepadanya. Kata-kata itu merendahkan, menghina, dan memanfaatkan Tsania tanpa ada rasa bersalah dalam diri lelaki itu.
Tsania merasa hatinya hancur berkeping-keping, terombang-ambing dalam kegelapan dan keputusasaan.
Namun, di balik kesedihan yang mendalam, ia tahu bahwa ia harus menemukan cara untuk bertahan dan mungkin suatu hari nanti, melepaskan diri dari cengkeraman pria yang telah menghancurkan semua harapannya.
Tsania duduk dengan kepala tertunduk, memijat keningnya yang terasa berat. Jovan berdiri di dekat jendela, memandang keluar dengan tatapan kosong. Udara di antara mereka begitu tegang, penuh dengan kata-kata yang belum terucapkan.
“Aku juga tidak berharap menjalani pernikahan gila seperti ini, Mas. Seandainya kamu tidak menjebakku seperti ini aku tidak akan pernah mau menikah dengan cara seperti ini!” Tsania menyesali semuanya, suaranya penuh kegetiran.
Jovan tidak menunjukkan emosi apa pun, wajahnya tetap datar. “Aku tidak peduli dengan perasaan kamu itu, Tsania. Silakan mencintaiku sesuka hatimu. Yang jelas, patuhi semua perintahku dan rahasiakan kesepakatan pernikahan ini sampai kamu melahirkan nanti.”
Tsania menelan ludah, merasakan sakit yang mendalam.
“Aku mencintai kamu dengan tulus bahkan sudah menyimpannya sejak lama. Dan … balasan perasaan ini sangatlah menyakitkan. Kamu memberi luka yang cukup dalam di hati aku,” ucapnya dengan suara lemas.
Jovan tetap tak peduli. Yang penting baginya, dia sudah menjadikan Tsania istrinya. Memberi bukti bahwa dirinya lelaki normal yang mencintai seorang wanita—bukan seperti yang dipikirkan oleh sang mama, Ayu, yang menganggap bahwa dirinya menyimpang.
“Belum tentu orang tua kamu menyetujuinya, Mas. Kamu tidak pernah berpikir ke arah sana? Kenapa tidak kamu ajak nikah perempuan itu kalau memang berat untuk ditinggalkan?” Tsania meminta penjelasan pada Jovan mengenai perempuan itu.
Jovan menghela napas kasar, matanya berkilat dengan ketidaksabaran. “Tidak perlu ikut campur dengan urusan pribadiku. Tugasmu hanya menjadi istriku sampai nanti kita berpisah setelah kamu melahirkan seorang anak untukku!”
“Kalau hamil. Kalau tidak? Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Tsania lagi, matanya menyipit penuh kebencian