Tulus yang Dimanfaatkan

994 Kata
“Kita program hamil. Sebenarnya tidak ada salahnya bila melakukannya setiap hari. Toh, kamu sudah dibayar mahal olehku. Rasanya sayang sekali bila hanya menjadikan kamu sebagai istri pajangan di rumah ini. Bahkan, semua karyawan di kantor pun sudah tahu kalau kamu sudah menikah denganku,” ucap Jovan dengan nada yang merendahkan. Tsania memijat keningnya kala mendengar ucapan Jovan. “Kamu memiliki pribadi yang baik, Mas. Aku pikir, kamu memiliki hati yang tulus dan baik juga. Ternyata, aku telah salah menilai kamu. Kenapa aku harus mencintai pria sepertimu?” Jovan hanya menyeringai sembari menatap Tsania yang tengah terpuruk atas pernikahan itu. Dijebak dengan mengatakan cinta kepadanya, namun rupanya semua itu hanyalah salah satu langkah untuk meyakinkan Tsania bahwa dirinya ingin menjadikan perempuan itu sebagai istrinya. “Jangan menangis terus, nanti matamu bengkak. Besok, ada pertemuan keluarga besarku. Mereka baru tiba di Indonesia dan ingin melihat pengantin wanita. Jangan memasang wajah murung di depan mereka bila tidak ingin keluargamu aku hancurkan!” ancam Jovan dengan nada yang dingin. Tsania menatap nanar wajah Jovan, matanya berkaca-kaca. “Berapa, uang yang harus aku bayarkan padamu, Mas? Aku akan melunasinya.” Jovan terkekeh pelan. “Tentu saja tidak sedikit, Tsania. Jangan mengkhayal. Lakukan saja tugasmu sebagai istri di atas kertas kesepakatan yang sudah kita sepakati!” Tsania menarik napas dalam-dalam dan menatap Jovan dengan tajam. “Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memberimu anak!” “Apa kamu bilang? Berani-beraninya kamu mengatakan itu padaku. Ingin keluargamu hancur di tanganku, huh?” pekik Jovan naik pitam setelah mendengar ucapan Tsania tadi, matanya menyala dengan kemarahan yang membara. Tsania melepaskan tangan Jovan dengan kasar, kemudian keluar dari kamar tersebut. Langkah kakinya yang lebar menggemakan kepedihan yang membara dalam hatinya, meninggalkan Jovan yang masih berdiri hanya mengenakan celana dalamnya saja. Hawa dingin malam itu menyelimuti tubuhnya, namun ia tak merasakannya, terbenam dalam kekacauan emosinya sendiri. “Bagaimana bisa, pernikahan ini hanya merupakan pernikahan di atas kertas dengan kesepakatan yang bodohnya sudah aku tandatangani. Bagaimana aku bisa bertahan dengan ini semua kalau hanya aku yang mencintainya,” gumam Tsania, suaranya penuh dengan kepedihan dan penyesalan. Tsania duduk di sebuah balkon di lantai dua, menundukkan kepalanya di antara kedua kakinya. Bahunya bergetar sebab isak tangis yang kembali keluar. Hatinya hancur berkeping-keping atas nasib sial yang menimpanya itu. Ia benar-benar tidak menyangka bila pernikahannya hanya sebatas memberi anak kepada suaminya itu. Menghapus air matanya dengan tangan gemetar, Tsania bangun dari duduknya. “Tsania. Hapus perasaanmu itu padanya. Lebih baik kamu bersikap biasa saja daripada harus merasakan sakit yang luar biasa karena Jovan hanya memanfaatkanmu,” bisik Tsania kepada dirinya sendiri, berusaha menguatkan hati yang rapuh. Ia kemudian kembali ke kamar, menghampiri Jovan yang kini mengenakan bathrobe berwarna hitam tebal dan hangat. Lelaki itu menolehkan kepalanya kepada Tsania dan menatapnya dengan datar, tanpa emosi. “Mas! Aku tahu ini gila. Aku akan menyepakati kesepakatan itu dan jangan pernah menyesali semua yang akan terjadi nanti! Kamu pikir, kamu saja yang punya rencana dan juga alasan untuk menceraikanku nanti? Aku pun punya. “Biarkan aku yang mengajukan permohonan cerai itu ke pengadilan. Setelah itu, jangan pernah ganggu hidupku lagi, semua modal yang kamu keluarkan untuk orang tuaku, lunas. Jangan pernah memintaku anak lagi dan jangan pernah mencariku. Aku tidak mau kamu menyentuhku lagi dan cukup di malam ini saja!” Jovan lantas menyunggingkan senyum miring kala mendengar ucapan istrinya itu. “Silakan, Tsania. Dengan senang hati dan jangan terlalu percaya diri kalau aku akan mencarimu! Ingat, Tsania. “Jangan pernah memiliki pasangan terlebih dahulu sebelum kita bercerai! Dan satu lagi. Menyentuhmu. Itu hak aku. Kamu sudah aku nikahi, dan sesukaku bila sedang menginginkan kamu, maka kamu harus mau melayaniku!” Tsania hanya menatap datar wajah Jovan, rasa jijik dan kebencian berbaur dalam hatinya. “Licik sekali otakmu itu, Mas. Kamu melarang aku menjalin hubungan. Dan mau meminta hak kamu setelah kesepakatan itu kamu tulis. Manusia macam apa yang aku nikahi ini?” Tsania kembali menatap tajam ke arah suaminya, matanya berkaca-kaca penuh kemarahan. Jovan menghela napas panjang seraya menatap Tsania dengan lekat, seolah mencoba menembus pertahanan terakhir dari wanita yang kini menjadi istrinya. “Kamu tidak punya pilihan, Tsania. Jangan pernah lupa siapa yang memegang kendali di sini. Kamu milikku sampai aku mengatakan sebaliknya.” Dalam diam, Tsania merasakan hatinya hancur berkeping-keping sekali lagi. Namun, di tengah kepedihan itu, ia tahu bahwa ia harus tetap berdiri tegar. Meskipun cintanya direndahkan, ia tidak akan membiarkan dirinya hancur oleh pria yang tidak memiliki hati, seorang pria yang hanya tahu cara menghancurkan hidup dan perasaannya tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Tsania. Kamu pasti membacanya dengan benar. Di dalam kesepakatan tadi, jangan pernah menjalin hubungan dengan siapa pun sampai kontrak kita selesai. “Aku pun tidak akan pernah melakukan hal itu kecuali kekasihku telah kembali dan juga pelayanan di atas ranjang. Jangan menolak itu! Aku pria normal. Masih menginginkan itu meski tanpa harus adanya perasaan cinta dari hatiku untukmu.” “Itu artinya kamu yang melanggar janji, Mas!” pekik Tsania protes, matanya penuh kemarahan yang terpendam. Jovan kembali tersenyum miring, senyum yang dingin dan menantang. “Hanya sebatas menemuinya. Bukan untuk memilikinya sampai nanti surat cerai dari pengadilan telah kita dapatkan. Aku yang membuat kesepakatan itu. So, terserah aku apa yang ingin aku lakukan. Jangan membantah! Kamu tidak berhak atas itu!” Tsania tidak bisa menjawab apa pun lagi selain hanya menitikkan air matanya. Sungguh, nasib sial ini tidak pernah terbayang dalam dirinya. Menikah dengan Jovan adalah impiannya. Impian itu sudah menjadi nyata, akan tetapi nasibnya tidak seindah yang dia bayangkan. Jovan hanya memanfaatkan perasaannya, memintanya agar mau memberi seorang anak untuk Jovan. Setelah itu, dia akan disingkirkan dari hidup Jovan dan mencari pasangan yang mau menerimanya kelak. Menerima juga status yang akan dia sandang nanti, yakni seorang janda. Tsania kemudian mengusap air matanya seraya membuang muka, tak mau melihat wajah penuh kesombongan di wajah Jovan. “Aku tulus, mencintai kamu, Mas. Tapi, ketulusan itu rupanya kamu manfaatkan hanya demi mendapat seorang anak dan kembali pada kekasihmu itu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN