17. What
Ramai, bahkan bertambah ramai dengan aksi mereka yang tak kalah mengundang perhatian. Makan bakso bu Yun 5 mangkok dengan sambel legendaris nya.
Lihat saja mereka yang merekam, menfoto, atau menonton dengan segala teriakan mereka.
Entah itu untuk Royyen yang sudah berkeringat deras dengan bibir yang seperti memakai lipstik karena tak tahan dengan pedasnya sambel bu Yun ini.
Atau Aland yang hampir habis dengan keadaan tak kalah dari Royyen. Bahkan wajahnya ikut memerah karenanya.
Mereka memang konyol, sudah tau kalau sambel bu Yun itu sangat pedas. Tapi dimakan juga dengan 5 mangkok bakso panas. Padahal Aland sendiri juga sudah pernah merasakan tersedak dengan sambal itu, gara gara ia membuat Moza terjungkal dulu.
Aland menaruh mangkoknya yang sudah bersih dengan nafas putus putusnya. "Hah... Aku selesai. Kau kalah Roy" ucapnya, tak sadar jika bibirnya itu sudah seperti darah warnanya.
"Sialan lu! Lu ajak tanding gue, ya pasti gue kalah lah... Secara lo itu Setan, ya tahan aja ama bakso pedes nih. Orang sama judesnya Moza aja kuat kok..." ucap Royyen sedikit menyindir kearah Moza.
"Moza kan judesnya manis, ini bakso pedes doang bro.." timpal Aland membela Moza.
"Udahlah, kalo lo beneran tahan... Nih habisin 2 bakso gue juga. Gue kasih lo 50 ribu kalo habis" ucap Royyen menantang, memutus perdebatan yang sebenernya sangat seru jika terjadi.
"Oke..." sanggup Aland lalu menggeser 2 mangkuk bakso Royyen yang merah dan masih utuh.
Royyen mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan sebuah timer kepada Aland. "Gue kasih waktu setengah jam" ucapnya sambil menyeringai.
"Woy, gila' ini pedes gin..."
"Mulai" ucap Royyen memotong protesan Aland.
Tanpa mau mengatakan apapun lagi, Aland segera melahap isi bakso itu. 'Sialan! Ditambahin nih sambelnya! Sialan kau Roy' batin Aland setelah memakan isi bakso itu.
Sesekali ia berdecak saat selesai menelan isi bakso itu. Royyen memang berniat menjebaknya sekarang dan Aland baru sadar akan hal itu.
"Udah..." Aland meletakkan kedua mangkok kosong itu sambil menutup mulutnya yang seakan ingin memuntahkan bakso itu kembali karena terlalu kenyang.
"Woy, kau memang hebat kawan. Ini uangmu" ucap Royyen menepuk nepuk punggung Aland pelan.
Ia bangkit lalu berbisik kepada temannya yang satu ini. "Jangan lupa beli obat diare, kalo gk lo gk bakalan masuk besok. Dan Moza akan nganggur...." ucapnya lalu berlari menjauh dengan cepat menembus penonton.
Aland mengepalkan kedua tangannya kesal. Perutnya memang mulai sakit, dan tujuannya sekarang hanya satu yaitu toilet.
Hari ini memang hari yang sial untuk Aland. Mulai dari berurusan dengan pak Bima sampai lomba konyol yang ia buat sendiri, namun malah senjata makan tuan.
"Minggir!" teriaknya lalu berlari sekuat tenaga untuk ke toilet. Royyen memang sungguh kejam pada dirinya, salah apa ia sampai Royyen seperti itu.
.
.
.
Royyen memperlambat larinya, senyumnya yang mengembang lebar tadi sedikit menyurut. Selalu seperti itu dan tak ada yang tau tentang itu, bahkan Aland atau Arga sekalipun. Selalu mencoba baik baik saja didepan kedua teman baiknya.
Menurutnya, mereka tak perlu tau keadaannya. Cukup hanya kebahagiaan yang akan mereka tularkan padanya. Memang benar kata orang.
"Orang yang menyiksa, menghina, dan menyakiti orang lain. Sejatinya mereka tak bahagia dengan hidupnya sendiri"
Itu memang benar benar terjadi padanya, tak tau apa itu kebahagiaan yang sebenarnya. Ia pun melampiaskannya pada orang lain, menjadikan mereka objek untuk membuang perasaan tertekan juga frustasinya.
Royyen melangkahkan kakinya menuju taman belakang sekolah. Memikirkan hidupnya sendiri membuatnya tersenyum miris. Begitu rumit hingga hampir tak ada ujung untuk selesai.
Royyen mendudukkan dirinya dibawah pohon ridang. Kepalanya menunduk, begitu pusing memikir hidupnya sendiri.
Tap
Tap
Tap
Royyen menoleh saat mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Wajah datarnya bertanya tanya akan siapa yang datang ke sini saat jam pelajaran baru saja berbunyi.
Ia bersembunyi dibalik semak, berjaga jaga kalau yang datang seorang guru.
"Moza, ibu tinggal disini ya... Kamu duduk duduk disini saja. Kamu pasti tertekan setelah masuk ruang isolasi"
'Isolasi?' batin Royyen bingung.
Tak ada jawaban, Royyen semakin penasaran sekarang. Ingin ia mengintip, namun dia juga takut ketahuan.
"Kalau arrhenphobia mu kambuh, tutup matamu dan atur nafasmu ya. Kalau skizoaffectif nya yang kambuh, makanlah sesuatu atau lalukan apapun itu yang menyita perhatianmu. Maaf ibu tidak bisa menemanimu, ibu harus dinas keluar sekolah. Jangan lupa nasehat ibu ya..."
Lagi lagi tak ada jawaban, namun langkah kaki menjauh itu menandakan kalau seorang guru itu sudah pergi dari sini. Ingin rasanya ia mengintip, apa benar ia Moza yang sedang didekati Aland atau Moza lainnya.
'Arrhenphobia? Bukankah itu phobia dengan laki laki? Dan skizoaffectif? Itu penyakit mental bukan? Bagaimana bisa dia punya itu semua?' batinnya bertanya tanya.
Ia mencari tempat untuk mengintip, namun sayangnya suara itu menginterupsi lebih dulu.
"Siapa disana?" tanyanya, suaranya memanglah suara Moza.
Gadis judes yang pernah memarahinya karena memalak uang saku adik kelas.
"Siapa disana? Cepat keluar!" ucap Moza tampak memaksa.
Sedangkan Royyen yang berada dibalik semak kebingungan sendiri harus mengatakan apa. Diantara lain, gadis itu tampak menghampirinya.
"Kau akan takut kalau melihatku..." jawabnya saat bisa melihat sepatu Moza yang tak jauh dari tempatnya bersembunyi.
Tak ada jawaban, namun bisa ia lihat kalau Moza melangkah mundur secara perlahan. 'Jadi benar?' pikirnya.
"Tutup saja matamu jika takut, aku tak akan melalukan sesuatu yang membuatmu takut. Lagi pula aku kesini hanya untuk tidur..." ucap Royyen terus terang.
'Tak kusangka, dibalik sifat judesnya ternyata ia punya penyakit mental yang berbahaya. Hidupnya mungkin lebih rumit dariku' batin Royyen yang tiba tiba buyar karena ucapan santai Moza.
"Kalau begitu keluarlah, aku akan tutup mata..." begitu mudah mengatakannya, tidak memikirkan dirinya yang mungkin akan kambuh kalau melihatnya.
"Tidak usah, aku cukup disini saja..." balas Royyen.
"Aku hanya ingin teman..." ucap Moza, terdengar sedikit kesedihan disana.
Dengan berat hati pun Royyen bangkit dari duduknya. "Baiklah, tutup matamu..." ucapnya setelah itu keluar dari persembunyiannya.
Dihadapannya berdiri Moza yang memejamkan mata. Ia tersenyum miris kembali, tak menyangka kalau gadis populer sepertinya ternyata memiliki penyakit mental yang berbahaya bagi hidupnya.
Ia duduk dihadapan Moza. "Duduklah, aku ada dihadapanmu" ucap Royyen.
Moza pun langsung mengikuti perintah dari Royyen. Dengan penasaran pun gadis itu bertanya. "Siapa namamu? Sepertinya kita pernah bertemu"
"Royyen, tentu saja. Aku temannya Aland, dan kau juga pernah memarahiku kerena mengambil uang jajan adik kelas" cerita Royyen secara singkat.
"Benarkah? Aku tak ingat" ucap Moza santai, seolah dirinya memang tak takut dengan sejenis Royyen.
"Lupakan saja kalau kau tak ingat. Lagi pula aku juga tak penting" timpal Royyen.
Hening sejenak, mereka berdua tenggelam dalam pikirannya masing masing.
"Um, apa arti namamu?" tanya Moza mencoba basa basi.
"Raja, arti namaku Raja" jawab Royyen.
"Wah, artimu Raja? Sempurna sekali"
Royyen tersenyum miris mendengar pujian Moza untuk arti namanya.
"Ya, tapi tak sebagus kehidupanku" ucapnya lirih.
Entah Moza mendengarnya aku tidak, sebenarnya ia tak peduli dengan itu.