5. Dikson Family

762 Kata
Dikson Family Hening, ruangan bernuansa abu abu itu terasa sepi. Padahal didalam sana terdapat seseorang yang tengah serius menggambar.   “Hah, susah sekali” ucapnya membuang nafas dan melempar buku gambar itu disamping tubuhnya, Aland berbaring ditempat tidurnya setelah itu.   Sambil beberapa kali mendengus, Aland menatapi gambarnya sendiri. Gambar itu terlihat tidak sama dengan apa yang dia inginkan, terlihat berbeda dan aneh.   Tok tok tok   Ia menoleh saat mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.   "Aland, ayo makan. Ikan asam manisnya sudah jadi” ucap seorang pria dari balik pintu kamarnya. Namun Aland hanya menanggapinya dengan dengusan, terlihat tidak mood dengan apa yang papanya ucapkan.   "Aland gk lapar, makan aja semua” jawab Aland kembali menatapi gambarnya dengan wajah serius.   Beberapa menit setelah mendengar jawaban putranya, pria itu membuka pintu dan mendapati Aland yang sedang memandangi buku gambar dengan serius.   “Siapa ini?” tanya pria itu tiba tiba menyahut buku gambar yang Aland pegang. Ikut menatapi seorang gadis yang Aland coba gambar wajahnya.   Dan saat Aland hampir menyahutnya kembali, pria itu menjauhkan buku tersebut dari jangkauan Aland. Lalu menatap putranya sambil tersenyum senyum.   "Papa, apaan sih. Balikin, Aland belum selesai gambarnya" ucap Aland sambil menatap kesal pria itu.   “Berapa nih mantannya hari ini?” tanya pria itu mengundang kesal putranya.   “Gk ada mantan hari ini” jawab Aland mendudukan dirinya sambil menatap kearah lain dengan wajah kesal.   “Wah, apa ini? Kamu suka sama gadis ini kan?” tebak pria itu dan tentunya tepat sasaran, namun Aland hanya terdiam tidak menjawab.   “Cantik, papa suka kok. Boleh jadi menantu” lanjut pria itu memandangi gambar tersebut, dan Aland tiba tiba menyahutnya dengan paksa.   “Gk mungkin” elak Aland menyembunyikan buku gambar itu.   “Oke, papa aduin mama” ucap pria itu menarik perhatian Aland lagi sambil berjalan menuju pintu.   “Iya” jawab Aland singkat dengan wajah kesal.   Pria itu tertawa mendengar jawaban putranya itu, tentunya ini adalah berita bagus. Lagi pula sudah waktunya Aland berhenti menjadi playboy. “Baiklah, papa tunggu di meja makan. Semangat” ucap terakhir pria itu sebelum benar benar menutup pintu kamar Aland.   Sedangkan Aland kembali merebahkan dirinya, masih tidak puas dengan hasil gambarnya. Padahal kalau dipikir, ekspresi gadis itu memang seperti ini. Tapi kenapa jika diperhatikan lagi terlihat takut dan ingin menangis, jikalau ada sesuatu yang dilewatkannya itu tidak mungkin.   Ia ingat dengan sangat jelas bagaimana jahatnya gadis itu saat berbicara, apalagi saat dia tak sengaja menyentuh pundaknya.   “Ini aneh, aku harus melihat gadis ini besok” ucap Aland dengan tekat menggebu, sampai tidak sadar kalau ada seorang gadis kecil yang masuk kedalam kamarnya.   Terdiam sebentar, Aland menoleh kearah Collie yang menatapnya kebingungan dengan mulut terbuka. Aland tersenyum kikuk ditatap seperti itu oleh adiknya yang berumur 8 tahun tersebut.   “Um, Collie mau apa?” tanya Aland menghampiri gadis kecil itu lalu menggendongnya.   “Kakak bicara dengan siapa?” tanyanya tidak mengerti, membuat Aland lagi lagi terdiam dan malu.   Aland menggeleng. “Tidak dengan siapa siapa” jawab Aland.   Collie yang awalnya menatap wajah kakaknya itu beralih menatap wajah didalam buku gambar yang tergeletak di tempat tidur Aland.   “Kakak cantik siapa?” tanya Collie menunjuk gambar tersebut.   Melihat itu, lekas Aland menempelkan telunjuknya dimulut. “Ssth, ini rahasia” ucap Aland membuat Collie mengikuti gerakannya sambil mengangguk angguk.   Setelah bercanda beberapa menit dengan kakanya, Collie menarik hoodie hitam yang dipakai Aland. “Collie lapar” ucapnya dengan wajah memelas.   Aland yang mendengar itu seketika tau kenapa Collie tiba tiba masuk kedalam kamarnya, itu karena pasti disuruh oleh papa ataupun mamanya.   “Kakak antar sampai bawah tangga ya” ucap Aland yang sudah menggendong adiknya itu.   Terlihat wajah adiknya yang cemberut seketika. “Meja makan” tolak Collie mencengkram hoodie Aland kuat.   “Tapi kakak gk lapar” jawab Aland, tau jika dirinya sudah sampai disana pasti akan disuruh makan juga.   “Lapar!” timpal Collie tidak mau kalah.   Menghela nafas, akhirnya Aland mengangguk. “Baiklah, 10 menit atau 5 menit”   Menunjukkan kelima jarinya sambil tersenyum, Collie menjawab. “Lima” dengan semangat.   “Oke, pegangan yang erat” ucap Aland membuka pintu kamarnya dan berlari cepat menuju pembatas lantai 1 dengan lantai 2.   Aland melonjatinya begitu saja sambil menggendong Collie yang tampak sangat senang diajak loncat. Dan hal itu menjadi kebiasaannya saat sudah terburu buru.   Dap!   “Aland!” jerit mamanya setelah melihat Aland lagi lagi loncat dari lantai dua sambil membawa Collie.   "Aland! Sudah mama bilang jangan lompat dari balkon lantai dua! Gimana kalau kakimu patah! Gimana kalau adikmu jatuh! Gimana kalau kau memecahkan guci! Itu berbahaya!” ceramah wanita itu pada akhirnya kembali keluar.   “Collie suka” sela gadis kecil itu membuat mamanya terkejut. Aland hanya tertawa mendengarnya,  dia tidak akan jatuh karena sudah terbiasa.   “Dengarkan mama, jangan cuma tersenyum seperti itu. Lain kali jangan diulangi okey?” dan Aland hanya mengangguk, tidak berniat memecahkan rekor mamanya yang mengucapkan semua itu dalam 1 nafas.  . . . Tbc Aku harap kalian suka:)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN