4. Pain

1869 Kata
Pain   Begitu hening, lorong koridor itu begitu sepi. Di saat murid yang lain tengah berada di dalam kelas sambil mengikuti pembelajaran pada jamnya, gadis itu malah diam meriuk disudut sana.   Mencoba meredam rasa takutnya itu sendiri. Bisikan bisikan itu mengganggu telinganya, menghantuinya. Ia berhalusinasi, karena pria itu disana.   Memandangnya dengan wajah yang penuh dengan seringai. Membawa sebuah pisau yang siap melukainya jika melawan.   Moza mengatur nafasnya perlahan. Karena gadis itu yakin, pria itu tak nyata. Pria itu sudah teramat jauh darinya. Ia sudah aman, dia sudah berhasil kabur. Pria itu hanyalah sebuah halusinasinya yang tampak sangat nyata.   "Aku harus berani, aku harus sembuh" ucapnya pelan, menyemangati dirinya sendiri agar berani melawan rasa takutnya.   ‘Kemarilah Moza, datanglah kehadapanku’   “No!” teriak Moza ketakutan, ingatan tentang betapa kejam pria itu terulang secara cepat dikepalanya.   Dia tidak bisa mengatasinya, dia terlalu takut. Semua ketakutan itu seakan membelenggunya, tak membiarkannya untuk sedikitpun memeberikan perlawanan balik.   ‘Kemarilah boneka manisku’   “Tidak!” dia mulai menangis, ketakutan melihat pria itu semakin mendekatinya.   ‘Kemarilah, kenapa kau tidak menuruti perintahku?’   "Tidak! Aku tidak mau. Pergilah dari pikiranku!"   ‘Gadis nakal’   ‘Kemarilah atau aku akan menyakitimu’   ‘Mendekatlah sebelum aku mendatangimu’   “Aku tidak mau!” teriaknya lagi.   Moza berteriak dan berbicara sendirian disana seolah ada seseorang yang menakutinya. Berniat mencelakainya bukan dengan fisik melainkan mentalnya. Tidak ada yang pernah tau bagaimana rasanya menjadi dia sehari saja dengan semua halusinasi mengerikkan itu.   Bahkan saat terkadang beberapa orang berpikir jika Moza dapat melihat sesuatu yang mistis, dan sedang berinteraksi dengan mereka. Namun tidak, mereka salah besar mengenai hal tersebut.   Itu semua dikarenakan halusinasinya, skizofrenianya kambuh. Dan karena yang dideritanya lebih akut, skizofrenia itu berubah menjadi skizoaffectif.   Membuat Moza mengalami gangguan afetif. Seperti yang terjadi sekarang. Cemas, depresi, halusinasi, dan mendengar bisikan bisikan yang tampak nyata. Dan semua itu terasa nyata, hingga terkadang membuatnya lupa kalau itu hanyalah sebuah halusinasi belaka.   Moza sendiri baru mengetahuinya 1 tahun yang lalu. Saat dimana ia mencoba bunuh diri karena terdorong halusinasinya itu sendiri. Dimana perbuatannya terlihat oleh bu Riska dan segera membawanya untuk diperiksakan. Yang mana bisa dibilang, Moza cukup terlambat mengetahui kondisi mentalnya sendiri setelah bertahun tahun.   "Tidak!" teriak Moza sambil memberontak.   Seakan dirinya tengah dicekal seseorang, semakin memberontak dan gadis itu semakin kacau.   Beberapa guru mendatangi gadis itu setelah mendengar teriakannya dengan wajah terkejut dan segera membawanya ke uks dengan kesusahan karena gadis itu terus memberontak.     . . .   Deru nafasnya sudah teratur. Tak ada cara lain selain memberikan gadis itu dosis obat penenang yang dimiliki bu Riska.   Wanita itu bahkan meminta maaf saat membiarkan Moza tanpa pengawasan, dan juga memberikan arahan kepada guru lain semisal jika dirinya memang tak dapat mengawasi gadis itu mereka bersedia menggantikannya untuk keselamatan.   Karena saat Moza memasuki fase halusinasinya, gadis itu tidak pernah sadar dengan apa yang diperbuatnya. Mau tidak mau guru guru itu pun menyetujuinya. Sebisa mungkin mereka akan membantu mengawasi Moza.   Setelah semua guru itu keluar dari dalam uks, bu Riska menghela nafas sambil membaca sebuah dokumen yang berada didalam sebuah map. Hasil dari pemeriksaan rutin Moza yang terus naik juga turun secara cepat.   “Jangan bunuh aku!” rancau Moza lirih disela tidurnya. Bu Riska yang mendengarnya tersenyum miris seketika, dia terlampau penasaran dengan sosok pria yang menghantui gadis itu. Namun Moza tidak pernah mau berkata jujur saat ditanya, dengan alasan sosok itu akan muncul saat disebut namanya.   Ting...tung ting Ting...tung ting   Bu Riska terlonjak dari lamunannya setelah mendengar suara nada ponselnya itu sangat keras. Dengan segera bu Riska mencari keberadaannya dan mengangkat panggilan tersebut tanpa sempat melihat namanya.   "Hallo, dengan bu Riska disini..." ucap wanita itu sedikit gelagapan. Melirik kearah Moza yang ternyata masih tertidur.   Tiba tiba wanita itu mengernyit, ia hanya mendengar suara tawa disana. Tanpa mau melihat nama yang tertera di panggilan itu, bu Riska hanya menerka suaranya saja.   "Kenapa tante lucu sekali, tante pikir siapa yang menelfon?"   Bu Riska seketika menjauhkan ponselnya, lalu melihat nama yang tertera disana. Ia tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya sendiri.   "Liam, kamu bikin tante kaget tau!" ucap wanita itu sambil meninggikan sedikit suaranya agar terkesan marah.   "Maaf tante, jangan marah dong. Aku juga gk tau kalau tante lagi sibuk” bu Riska tersenyum kecil mendengar suara memelas keponakannya itu.   "Tante gk sibuk kok Liam, tante cuma lagi nungguin murid sakit"   "Tumben, gk biasanya tante nungguin murid sakit. Biasanya juga ditinggal setelah dikasih obat"   "Yang ini beda, Liam"   Suara disana terdiam sejenak. "Oh, murid yang itu ya. Yang katanya tante punya penyakit mental"   "Iya Liam, kamu sekarang dimana? Kok bisa telefon tante?" wanita itu sejenak menatap kearah jarum jam yang menunjukkan kalau pelajaran masih dimulai, jadi tidak mungkin keponakannya itu menelfon didalam kelas dengan suara keras seperti sekarang.   "Habisnya bosen tante, pelajarannya gitu gitu aja” seketika bu Riska menepuk jidat pelan mendengarkan jawaban yang ponakannya itu berikan.   "Kamu ini, kalau begitu kapan kamu mau pintar"   "Tante bisa aja, aku ini pintar loh tante"   "Pintar apa?"   "Pintar cari pacar” setelah itu terdengar suara tawa menyusul.   Bu Riska terdiam, tidak dapat mengatakan apapun saat mendengarnya. Kenapa sifat playboy milik kakaknya itu turun ke keponakannya, memang apa bagusnya bisa berganti ganti pasangan setiap harinya. Itu hanya akan menyakiti mereka. Tapi dia bersyukur karena pada akhirnya, kakaknya itu berhenti dan menikah.   "Tante masih disana?"   "Iya, kenapa Liam?"   "Aku ke uks sekarang ya, penasaran sama murid itu"   "Apa, jangan Liam!"   "Kenapa tante, aku benar benar penasaran nih. Cantik mana murid itu dengan mantanku"   "Ngak, tante gk ngijinin kamu datang kesini. Kalau sakitnya kambuh gara gara lihat kamu gimana"   "Yah tante, sebentar aja"   "Ngak boleh Liam"   "Yasudahlah, tante aku mau main dulu ya. Bye"   Bu Riska menjauhkan ponsel itu dari telinganya dan kembali menggeleng kecil. Tidak menyangka kalau keponakan nakalnya itu ternyata sudah sampai diluar sekolah.   "Liam, astaga anak ini. Bagaimana bisa sudah sampai diluar" gumannya.   "Emm" keluh Moza sambil bangkit dari baringannya.   Menoleh, bu Riska melempar senyum kepada Moza yang menatapnya dengan wajah linglung. "Sudah merasa baikan Moza?" tanya bu Riska mengambil segelas air dan mengulurkannya ke Moza.   Moza menerimanya lalu mangangguk sebagai jawaban, gadis itu menatap sekitar dan menatap bu Riska kembali.   "Sekarang jam berapa bu Riska?"   "Jam 3 sore, bel pulang sudah berbunyi setengah jam yang lalu" jelasnya sambil gelas yang isinya telah diminum Moza.   "Maaf”   "Apa, Moza?" tanya bu Riska sedikit terkejut juga bingung.   "Maaf..." ucapnya lagi sambil menangis.   "Eh, tidak apa apa. Jangan menangis, ibu jadi khawatir kalo begini..." ucap bu Riska sambil berupaya menenangkan gadis itu.   "Moza selalu ngerepotin dan jadi beban buat bu Riska"   "Eh, apa sih. Gk usah dipikirkan, ibu gk merasa terbebani kok. Lagi pula ibu sudah anggap Moza sebagai putri ibu sendiri"   "Tapi bu Riska"   "Sudah, sudah. Ayo ibu antar pulang saja, hari semakin sore dan kamu masih disekolah"   Moza hanya mengangguk, tidak menolak sama sekali. Lalu mengucapkan banyak sekali terima kasih seperti biasa.   . . .   "Hallo Setan" sapa seseorang sambil menepuk pundaknya.   "Wih, ada yang mau ikut balapan lagi nih" tanya Aland sambil tersenyum setelah menoleh dan mendapati temannya yang siap mengikuti bapalan liar.   "Iya nih, tapi kok tumben kau gk ikut?"   "Bener tuh, biasanya kau yang paling antusias ajak kita kita buat ikut"   "Lagi gk mood aja” jawab Aland singkat sambil tersenyum sekilas dan mengalihkan wajahnya. Bukan tidak mau, tapi ia masih terpikirkan oleh gadis yang ditemuinya di roof top sekolah.     "Udah kayak perempuan aja, pake gk mood segala”   “Ngaku aja kalau habis di tolak, gk usah malu sama kita yang jomblo”   "Apa? Ditolak, coba sebutin aja satu aja. Ngak ada kan?” sahut Aland dengan wajah angkuh dibuat buatnya.     "Sombong nih, kita tau kita cuma rata rata dari kau yang sempurna Al”   Aland tertawa keras mendengar jawaban menyedihkan temannya itu, dia merangkulnya lalu tersenyum.   "Serius amat, bercanda kali. Walau rata rata kalian itu mahal, gk murahan sepertiku” ucap Aland menghibur temannya, tapi pada kenyataan hal itu memang benar adanya. Ia hanya menyukai gadis murahan yang selalu memamerkan tubuh mereka dan wajah mereka.   "Iya deh, terserah”     "Hey sayang..." panggilan nyaring dengan nada dibuat buat itu seketika membuat moodnya kembali hancur setelah mendengarnya.   "Hm” sahut Aland dengan hanya mengguman, tanpa niat untuk menoleh juga. Ia hanya melepaskan temannya itu lalu mengeluarkan wajah jengahnya.   Sedangkan gadis itu tanpa permisi mengamit lengan Aland, seolah Aland adalah miliknya. Dan Aland hanya membuang muka sebagai respon.   "Kristin, masih betah aja sama nih Setan?” tanya Royyen menaikkan sebelah alisnya mengejek.   "Iya, heran"   "Kristin, Kristin"   "Apa sih Roy?"   "Cuma mau bilang. Bentar lagi lo bakalan jadi salah satu warisannya si Aland” ucap Royyen mengejek Kristin.   Seketika yang lain juga ikut tertawa mendengarnya, bahkan tak terkecuali si Aland sendiri. "Tuh, dengerin" tutur Aland pada Kristin.   "Aland, kok kamu belain mereka sih. Emang kamu suka cewek lain, ngak kan?” marah Kristin sambil merapatkan tubuhnya pada Aland.     "Mereka temanku, terus kamu siapa?” bela Aland untuk teman temannya.     “Denger ya Kristin, kita ini gk ada hubungan apapun. Gk usah berharap lebih”     Gadis itu semakin cemberut dengan gaya bak anak kecil, dipikirnya mungkin itu akan terlihat imut. Tapi berbeda dimata Aland, dia ingin muntah sekarang juga setelah melihatnya.   Tin tin   Bunyi klakson itu membuat mereka semua menoleh, menatap kearah sebuah mobil yang entah sejak kapan terparkir disamping mereka. Kaca mobil putih itu terbuka, menampilkan wajah seorang wanita dengan raut kaku juga dingin secara bersamaan.     "Tante, kok bisa disini" sapa Aland sambil tersenyum setelah menyadari siapa wanita didalam mobil tersebut.   "Kamu sendiri kenapa disini?” tanya balik wanita itu menatap Aland juga teman temannya yang terlihat tersenyum kearahnya.     "Tuh, mau lihat mereka balapan" jawab Aland jujur sambil menunjuk teman temannya yang duduk diatas motor masing masing.   "Hallo tante" sapa mereka serempak dan diangguki oleh wanita itu.   "Kalau mau main, ganti baju dulu. Bukan langsung berangkat. Seragammu itu besok masih dipakai" tutur wanita itu lalu menatap tajam gadis disamping Aland.   "Ini, siapa lagi?" ucap wanita itu sambil menunjuk Kristin yang berdiri disebelah Aland.   Menoleh sejenak kearah gadis itu, Aland tiba tiba merangkulnya sambil tersenyum senyum. "Pacar baru" ucapnya sambil tersenyum khasnya. Yang tentu saja membuat Kristin senang ketika mendengarnya.   Wanita itu menelisik Kristin dari atas hingga bawah lalu kembali lagi. "Tipe kamu semakin lama semakin murah ya” sindir wanita itu dengan sengaja, dia memang tidak suka dengan gadis seperti Kristin.   Seketika Aland tertawa mendengar sindiran wanita itu untuk Kristin, hal itu cukup menghiburnya juga memberitahu kepada gadis itu. Kalau dirinya terlihat buruk sekarang.   "Bercanda, tante. Aland sekarang gk selera lagi sama yang murahan” ucap Aland sambil melepaskan rangkulannya.     Sedangkan Kristin yang merasa tersindir langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, membuat gadis itu disoraki dengan teman teman Aland yang sebenarnya juga ikut tertawa.   "Baguslah kalau begitu, kamu sekarang pulang" ucap wanita itu menyalakan mesin mobilnya, lalu kembali menatap Aland yang sepertinya tidak ingin beranjak dari tempatnya.   "Tapi tante, Aland kan mau lihat Royyen dan Arga balapan" ucap Aland memelas, berharap jika tantenya itu akan berubah pikiran dan memperbolehkannya.   "Pulang sekarang atau tante telefon papa kamu" ucap wanita itu menimpali bujukan Aland.   "Iya deh” jawabnya terpaksa, memakai helm sambil menghidupkan motornya. Aland menoleh kearah teman temannya. “Duluan ya, semoga salah satu dari kalian ada yang menang” ucapnya setelah itu lepas landas meninggalkan wanita tersebut.     Yang tak lama wanita itu pun menyusul, berpamitan dan pulang mengikuti Aland.   "Serem, gila” ucap salah satu dari mereka.   "Sadisnya patut di contoh” canda Arga yang sedang mengomentari ucapan sarkastik wanita itu.   “1 jam setelahnya, kau gk ada teman” timpal Royyen sambil memakai helmnya.   “Bercada, lagipula wajah kita gk cocok buat sarkastik” lanjut Arga sambil tersenyum.   “Bukan kita, itu cuma wajahmu bodoh”   Arga hanya bisa tertawa mendengarnya, bisa jadi itu benar. Lagipula dirinya terlalu lembut untuk melakukan hal semacam itu.  . . . tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN