3. Crazy Someone

1348 Kata
Crazy Someone   Dia menghela nafas panjang setelah terpaku didepan jendela sana selama berjam jam. Gadis itu sedang menyambut pagi, bukan pagi yang menyambutnya. Melihat sang mentari yang mulai naik ketempatnya, membuat semburat jingga yang memukau mata.   Moza bangkit dari sana. Sudah sedari pukul 2 dini hari dia duduk didepan jendela, tidak bisa tidur setelah mengalami mimpi buruk.   Mungkin lebih tepatnya bukan sebuah mimpi, tetapi kilasan ingatan masa lalunya yang sekarang meneror dirinya.   “Aku harus sekolah” gumannya.   Ia sedikit kacau sekarang, dan dia sudah terlalu banyak minum obat malam tadi. Moza tidak akan bisa meminumnya pagi ini, pengganti obatnya hanya 1 yaitu adik adiknya. Namun dia tak tega membangunkan mereka semua hanya untuk keperluannya.   . . .   Sudah setengah jam yang lalu dia sampai di sekolah, diantar oleh bu Riska seperti biasa. Namun Moza tidak menampakkan batang hidungnya sedikit pun dikelas.   Dia berada di roof top, duduk sendirian tanpa melakukan apapun disana. Mungkin hanya menatap semburat awan putih yang mewarnai langit biru, menutupi sang mentari yang sedang bersinar.   Moza menikmati itu semua sambil meminum sirup merah yang dibelinya dikantin, menyesap rasa manis itu sambil merasakan hembusan angin semilir yang menerpa rambut juga wajahnya.   Gadis itu memejamkan matanya, menyandarkan punggungnya ke dinding sambil menaruh minumannya. Lama dia duduk disana sambil diterpa angin semilir membuatnya sungguh mengantuk, pikirnya mungkin tidur sebentar disana tidak akan apa apa.   . . .   Moza membuka matanya, samar dia mendengar suara derap kaki yang mengganggu tidurnya. Derap itu tidak jauh darinya, bahkan terdengar tepat disebelahnya. Dia menguap, merasa belum tuntas dengan tidurnya.   Gadis itu sebenarnya masih mengantuk, tapi saat mendengar sebuah suara. Mau tidak mau dirinya harus tau siapa yang naik keatas sini, dia takut jika ada anak anak nakal yang naik. Karena jika benar, dia akan terjebak disini sampai bel pulang sekolah berbunyi.   Namun setelah mengintip sedikit dari balik tembok, dia hanya menemukan seorang siswa dan siswi disana. Mereka berdua sama sama berdiri, namun tampaknya siswa itu termasuk dalam kriteria nakal dimatanya.   Lihat saja pakaiannya yang berantakan, kemejanya itu terlihat keluar dari cardigan, sepatu merah, memakai gelang, dan rambutnya lumayan panjang.   Moza kembali bersembunyi, melihat siswa itu sekilas dia sudah menelan ludahnya susah payah. Ia takut salah satu dari mereka tau jika dirinya berada disini.   “Aland, aku menyukaimu. Kau mau jadi pacarku?” ucap gadis itu terdengar gagap.   Bahkan Moza yang baru saja meminum sirupnya terkejut, namun bukan terkejut dengan pernyataan gadis itu. Melainkan karena semut hitam mati yang masuk kedalam minumannya, dia memuntahkannya. Rasanya benar benar berbeda jika semua semut itu masuk dalam mulutnya.   “Maaf, tapi kau bukan tipeku” jawab seorang siswa bernama Aland itu.   Sambil mencoba membersihkan cipratan sirup merah itu dari cardigannya, Moza tetap mendengarkan percakapan mereka. Walau dia tau menguping itu bukan hal yang baik, tapi mau bagaimana lagi. Dia bisa mendengar semuanya dari sini, haruskah ia menutup telinganya.   “Kau tau aku ini brandalan, dan kau juga tau aku ini m***m. Kujelaskan sekali lagi, tipeku yang punya d**a besar, wajah cantik, dan tubuh seksi. Anggap saja seleraku serendah jalang” ucapnya lagi sambil tertawa.   Moza mendengarnya horror, siswa itu bahkan lebih buruk dari yang dia bayangkan. Dengan cepat, Moza langsung saja merapal semua doa agar dijauhkan dari laki laki semacam siswa itu.   “Maaf sudah mengganggu” ucap siswi itu lalu pergi, dia dapat mendengar suara derap langkah yang sedang menuruni tangga saat ini. Namun bukan hal itu yang membuat wajahnya pucat pasih seperti sekarang.   Gadis itu menelan ludahnya, dia ketakutan. Dia belum mendengar derap langkah lain yang ikut turun dari roof top ini, dan asumsinya siswa itu masih berdiri disana.   Keheningan itu membuat perasaannya semakin tidak enak, dia merasakan dirinya mulai memburuk. Semua keadaan ini terasa familiar.   “Hey, penguping. Keluarlah dari sana, aku tau kau disana” ucapan itu mengintrupsinya, menyuruhnya untuk keluar dari balik tembok tempatnya bersandar.   Seketika bulu kuduknya meremang, degup jantungnya mulai tidak normal. Moza sangat ketakutan, bahkan hanya untuk sekedar bernafas, dia tak dapat melakukannya dengan normal.   “Cepatlah keluar atau aku akan menghampirimu” ancam siswa itu, membuat Moza semakin takut.   Moza mulai berdiri dengan kaki gemetaran, tidak mungkin dia tetap disini membiarkan siswa itu menghampirinya. Sebisa mungkin dia memasang wajah galaknya, menyembunyikan wajah ketakutannya.   Dia keluar dari persembunyiannya perlahan, alisnya yang menukik itu ditautkannya dalam dalam hingga ingin menyatu. Wajahnya mengeras dan tatapannya setajam pedang. Moza berjalan mendekat sambil bersedekap, memberikan kesan angkuh dan menantang. Padahal dia hanya menyembunyikan tangannya yang gemetaran hebat.   ‘Tolong aku’ batinnya menangis.   Siswa itu terdiam seribu kata ditempatnya, tampak bisu melihat kedatangan Moza. Apalagi dengan raut garang yang diberikannya, sungguh membuatnya berpikir jika inilah wujud dari singa betina yang sering Royyen ceritakan.   ‘Typeku banget’ batin Aland terkagum kagum.   “Ngapain lihat lihat! Minta dicolok ya matanya” celetuk Moza sinis. Sebenarnya dia risih dengan tatapan menelisik yang Aland berikan kepadanya.   “Minta hati kamu aja, boleh gk?” rayu Aland sambil tersenyum manis.   Membuat Moza tanpa sadar selangkah memundurkan dirinya, memberikan jarak lebar diantara dirinya dan Aland. Namun lain dengan wajahnya yang menunjukkan raut jijik, tidak sama dengan apa yang dirasakannya sebenarnya.   “Perkenalkan, namaku Aland Wiliam Dikson, kamu siapa?” tanyanya sopan sambil mengulurkan tangan.   Namun Moza hanya melihat uluran tangan itu sejenak lalu membuang muka. “Aku tidak butuh namamu” ucapnya ketus.   Aland hanya bisa tersenyum, dia menarik tangannya kembali. Baru kali ini dia dipertemukan oleh gadis yang benar benar bisa menolaknya, dan jikapun ini karma bagi Aland. Aland akan menerimanya sebagai karma terbaik.   Moza hanya menatap Aland dengan mata memincing, dia pergi dari sana menuju tangga turun dari roof top. Namun semua itu tidak semudah perkiraannya karena Aland menahan pundaknya. Bahkan secara reflek tangan Moza melayang menghantam pipi Aland sedetik setelah tangan itu menyentuh pundaknya.   Bug!   “Jangan menyentuhku, bahkan sehelai rambut saja! Atau aku akan memukulmu!” ancam Moza sedikit berteriak sambil menunjukkan tangannya yang terkepal.   Aland terdiam sambil mengusap pipinya yang nyeri, untuk seukuran gadis itu. Pukulan Moza terasa menyakitkan, dia tak menyangka kalau tangan kecil itu bisa memukulnya hingga terasa nyeri seperti ini.   ‘Dia jahat sekali’ batin Aland.   “Tapi aku hanya ingi-“ ucapannya terpotong saat dia kembali merasakan pukulan Moza.   ‘Dia lagi pms ya?’ pikir Aland sambil mengusap usap pipinya lagi, sungguh dirinya yakin pipinya akan lebam sebentar lagi.   Aland hanya menunjuk lalu memberanikan diri untuk berbicara setelah menerima 2 pukulan. “Merah merah dicardiganmu, kupikir itu bercak darah” ucapnya dengan cepat.   Moza menunduk, menatap cardigannya itu. Benar, bercak merah dari minumannya terlihat sangat mencolok. Padahal dia sudah berusaha menghilangkannya, tapi masih ada saja bekas yang menempel disana.   Disaat Moza sibuk menatapi cardigannya. Tanpa diduga, Aland melepaskan cardigan miliknya. Moza yang melihat itu menjadi waspada seketika.   "Apa yang kau lakukan? Berhenti!" ucap Moza ketakutan sendiri.   Namun Aland sepertinya tak berniat mendengarkan Moza. Setelah terlepas dari tubuhnya, Aland melempar cardigannya ke Moza.   “Cepat pakai itu, semua pasti akan bertanya tanya bercak apa itu nantinya” ucapnya sambil besedekap.   “Tidak mau, biarkan saja. Lagipula itu bukan urusanmu” tolak Moza sambil melempar cardigan Aland ke lantai.   Lagi lagi Moza hendak meninggalkan tempat itu namun Aland menahannya lagi, bahkan sebelum reflek pukulan gadis itu mengenai wajahnya untuk ketiga kali. Aland menangkap tangan Moza.     “Bawa saja cardiganku, guru kedisiplinan pasti bertanya tanya nanti” ucapnya sambil memungut cardigan itu, membersihkannya lalu memberikannya kepada Moza.   Gadis itu menaikkan sebelah alisnya tidak paham, bahkan Moza tampaknya sedikit melupakan rasa takut yang sedari tadi menggelayutinya.   "Lalu kau? Apa yang akan kau pakai?" tanya Moza bingung.   "Aku bebas disini, jadi tidak usah dipikirkan” ucapnya terlihat membanggakan dirinya.   Moza kembali menautkan alisnya, tetap berdiri disana sambil menjaga jarak. Aland membalikkan badannya dan pergi kesisi lain roof top. Moza sedikit merasa jengah diantara rasa takutnya.   Gadis itu menghela nafas lalu berjalan menuju tangga turun sambil membawa cardigan Aland, tidak mau mendengar lebih jauh semua ocehan Aland.   “Oh iya, aku belum tau namamu” dia berbalik dan hanya menemukan dirinya di roof top.   “Kejam sekali” komentarnya saat menyadari gadis itu meninggalkannya.   “Baru tau kalau efek pms bisa jadi seperti itu..." guman Aland pada dirinya sendiri.   Ia berjalan menuju tangga turun dari roof top. Namun berhenti sejenak dan tersenyum, dia memikirkan ide gila yang tidak disukai siapapun pastinya.   "Lagi pula, cardiganku ada padanya bukan? Tapi kalau tidak dikembalikan tak apa juga. Lagipula wajahnya sangat mencolok, tidak akan sulit menemukannya di sekolah ini”  . . . Tbc Cerita ini bisa aku update ulang sewaktu waktu jika aku lihat ada typo:)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN