2. Orphanage

1204 Kata
Orphanage   Sinar mentari menyambut Moza yang baru saja membuka matanya, gadis itu terbangun dari tidur panjangnya. Dia mendudukkan dirinya sambil memijat pelipis yang terasa pening dan tanpa repot repot lagi memikirkan bagaimana dirinya bisa sampai dirumah.   Tentu saja bu Riska lah yang mengantarnya pulang kerumah. Jika sekolah sudah usai dan dirinya masih tertidur di uks, wanita itu pasti akan selalu membawanya untuk dipulangkan.   Cklak   Pintu terbuka, dan tampak seorang anak kecil muncul dari sana. Yang sebelumnya menyembulkan kepalanya lebih dulu untuk memastikan, mungkin memastikan dirinya yang sudah terbangun atau belum. Namun gadis kecil itu tidak masuk kedalam kamar Moza begitu saja, dia menghilang lagi disana.   Moza tau karena mendengar suara derap langkah kecilnya yang berlari menjauhi kamarnya sambil berteriak nyaring.   “Bundaaa... Kak Moja udah bangun!” teriaknya, membuat Moza yang mendengar itu tak dapat berkata apapun karena gemas.   Moza mengulas senyum, pagi hari ini terlihat sedikit berwarna dari hari lainnya. Anak itu adalah adiknya yang paling bungsu, namanya Ria. Sejak pertama kali kedatangannya di panti, Mozalah yang mengurusnya sampai tumbuh menggemaskan seperti itu.   Tak lama pintu kembali terbuka, dan seorang wanita muncul disana. Senyum lembut terlukis diwajahnya, wanita itu berjalan mendekati Moza lalu duduk dipinggiran tempat tidurnya.   “Apa kamu sudah baikan Moza?” tanya wanita itu lembut.   Moza mengangguk mengiyakan. Melihatnya, wanita yang diketahui bernama Monica itu mengusap pucuk kepala Moza lembut tanpa melunturkan senyumnya. “Bunda senang kalau kamu baik baik saja, tidak usah kemana mana ya. Bunda akan bawa sarapanmu kesini” pesan Monica setelah itu meninggalkan kamar Moza untuk mengambil sarapan yang dimaksudnya tadi.   “Ria, ayo mandi sekarang” ucap Monica saat mendapati gadis kecil itu bersembunyi dibalik pintu kamar Moza.   Terlihat Ria sedang mempoutkan bibirnya mendengar kata mandi yang diucapkan oleh Monica. “Tapi bunda, Lia mau mandi sama kakak Moja” celetuk gadis kecil itu sambil melayangkan tatapan memelasnya.   “Ria, kakak Moza sedang sakit. Ayo bunda mandiin” jawab Moni mencoba memberi pengertian kalau Moza baru saja siuman hari ini setelah mendapat obat tidur.   Sambil memeluk tedy bearnya erat, Ria sekilas menatap Moza yang masih duduk diatas kasurnya lalu beralih menatap Monica yang ada dihadapannya. Gadis kecil itu mengangguk. “Lia mandi sama bunda Moni saja” celetuknya.   Akhirnya mereka pergi dari ambang pintu kamar Moza, Moza tersenyum simpul lagi. Ria sangat lengket dengannya, seolah semua keperluannya hanya Moza yang berhak membantunya.   . . .   Beberapa jam berlalu, Moza sudah menyelesaikan sarapannya, mandi bahkan membersihkan kamarnya. Karena jengah terus berada didalam kamarnya, Moza membuka pintu kamarnya dan keluar dari sana. Ditatapnya kesekeliling rumah yang terlihat sepi tidak seperti biasanya.   “Kemana mereka?” guman Moza sambil menyusuri rumah mencari adik adiknya.   Karena tidak lekas menemukannya dan kebingungan sendiri, Moza berhenti sejenak untuk duduk disebuah kursi diteras belakang. Namun sesuatu yang janggal tertangkap oleh matanya.   Moza kembali bangkit dari duduknya, menghampiri keranjang baju yang terlihat sedikit bergoyang tadinya. Dibukanya penutup keranjang itu dan ditemukannya Ria yang memandangnya dengan tatapan terkejut.   “Ria, sedang apa disana?” tanya Moza namun membuat gadis kecil itu malah menangis.   Tentu Moza kebingungan akan hal itu, diangkatnya Ria keluar dari dalam keranjang itu lalu digendongnya. Dia mencoba menenangkan Ria yang sedang menangis entah karena apa.   “Kenapa kakak Moja tau Lia disini!” ucap Ria disela tangisannya.   “Ha?” Moza benar benar kebingungan. Namun suara derap langkah yang didengarnya dari dalam rumah bisa menjelaskan semuanya.   “Wah! Ria kalah” celetuk Aly yang datang sambil tertawa.   “Lia mau menang!” rengek Ria mengeraskan tangisannya, membuat yang lain semakin tertawa.   “Kalian kemana saja?” tanya Moza sedikit khawatir.   “Kami main petak umpet, kak Moza” ucap Nika.   “Dan Ria sudah tertangkap!” lanjut Aly.   Moza menggeleng gelengkan kepala melihat itu, lihat bagaimana usilnya si kembar itu. Mengerjai adik bungsu mereka sampai seperti ini.   “Yang lain kemana?” tanya Moza lagi.   “Yang lain sedang mengerjakan tugas dilantai 2 bersama bunda Monica” jawab mereka serempak.   Moza menaikkan sebelah alisnya mendengar jawaban mereka. “Kenapa kalian tidak ikut belajar juga?”   Seketika si kembar itu terdiam, terlihat tidak bisa menjawab pertanyaan yang Moza berikan. Moza tersenyum melihat itu. “Baiklah, ayo kalian ikut belajar juga” ajak Moza yang berjalan memasuki rumah, si kembar tentu saja mengikutinya dengan raut wajah cemberutnya.   Ingatkan pada Moza kalau sebenarnya si kembar itu sama sekali tidak akrab seperti yang terlihat. Mereka selalu bertengkar tentang apa saja, dan itu terbukti saat Moza melirik kebelakang. Dua anak itu saling membuang muka disisi yang berlawanan dan saling menyalahkan satu sama lain untuk situasi ini.   Gadis itu hanya bisa menahan tawa, tinggah nakal mereka terlihat menggemaskan dimatanya.   . . .   Moza duduk termenung didepan jendela kamarnya, entah sudah berapa kali gadis itu melakukannya. Mungkin duduk termenung di depan jendela sudah menjadi kebiasaannya. 2 hari sudah dirinya meninggalkan sekolahnya karena secara mental dia belum siap melakukan itu.   Semua adiknya melakukan rutinitas masing masing, entah itu berangkat sekolah atau berlajar dirumah. Sedangkan dirinya hanya bisa duduk diam didalam kamarnya, mungkin dia akan sesekali membuka bukunya untuk dibaca.   Moza teramat takut keluar dari dalam rumahnya sekarang, takut jika pria itu akan menemukannya. Sudah cukup dirinya dihantui oleh bayangan itu, Moza tidak ingin bertemu atau apapun itu yang berhubungan dengannya.   Moza bertopang dagu menatap luar, langit terlihat sedikit mendung. ‘Mungkin akan turun hujan sebentar lagi’ batinnya.   Cklak   Moza menoleh saat pintu kamarnya dibuka, terlihat disana Reno berdiri diambang pintu.   “Kak?” panggilnya kebingungan.   “Aku di dekat jendela Reno” intruksi Moza sambil tersenyum kecil.   Reno berjalan perlahan menuju Moza dengan tangan yang meraba raba sekitar, Moza bangkit dari duduknya lalu meraih tangan adiknya yang sedang meraba raba itu.   “Kenapa kau mencariku Reno?” tanya Moza sambil menuntunnya sampai dikursi yang didudukinya tadi.   “Ingin menemani kak Moza” jawabnya pelan.   Moza tersenyum, Reno adalah adiknya yang paling istimewa. Dia tak dapat melihat, namun kekurangan itu bukanlah suatu kekurangan untuknya. Meski tak dapat melihat, Reon memiliki otak yang luar biasa cerdas. Bahkan bisa dengan mudahnya menjawab tugas tugas yang tak Moza mengerti.   “Kenapa kakak tidak mau menerima tawaran bu Riska? Bukankah enak, kakak akan punya orang tua” ucap Reno lirih.   “Tidak Reno, kakak tidak akan bisa meninggalkan kalian semua” jelas Moza tersenyum getir.   “Kenapa?” Reno menunduk, membuat mata kosong itu tertutup oleh poninya yang lumayan panjang.   “Karena bagi kakak, kalian lebih dari sebuah keluarga kecil yang kakak punya. Sebahagia apapun nanti kakak bersama dengan bu Riska, tidak akan ada yang bisa menukarnya dengan kalian. Kalian adalah kebahagiaan kakak yang sesungguhnya, keberadaan kalian membuat kakak lupa dengan semua penyakit ini. Memberikan setiap lembaran baru untuk kembali berjuang melawannya” jawab Moza sambil bertekuk lutut didepan Reno yang terduduk di kursi.   Dia tersenyum tulus dihadapan Reno meski ia tau adiknya itu tak akan bisa melihatnya. “Kakak sangat menyayangi kalian, jadi jangan berpikir kalau kakak akan meninggalkan kalian” Moza membawa kedua tangan Reno untuk menakup pipinya.   Dia memejamkan mata, Moza merasakan dirinya baik baik saja meski tau Reno itu juga laki laki. Rasanya sangat berbeda saat dia berdekatan dengan orang lain, dan saat dia berdekatan dengan 6 adiknya. Seolah dia adalah gadis biasa yang tak memiliki riwayat penyakit mental apapun dihadapan adiknya.   “Biarkan kakak sembuh, lalu kita akan keluar dari panti bersama” guman Moza lirih.   Moza merasakan kesunyian itu sejenak, membuat dirinya senyaman mungkin dengan keheningan itu.   “Sebenarnya kakak sakit apa?” namun pertanyaan Reno itu membuatnya langsung membuka mata.   Dia menatap adiknya itu sejenak lalu tersenyum getir. “Nanti Reno pasti tau” jawab Moza seceria mungkin.   Moza bangkit lalu menggandeng tangan Reno. “Ayo main dengan yang lain” ajak Moza.  . . . Tbc Aku harap kalian tidak berharap ini cerita romance, karena bukan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN