Confuse
Terhitung sudah dua hari setelah Moza mengembalikan rompi milik anak itu, dan dua hari juga dirinya merasakan hal aneh karena tidak pernah sekalipun berpas pasan dengan anak itu lagi. Bukan karena dirinya ingin bertemu, melainkan Moza bingung dengan kondisinya yang baik baik saja saat berbicara dengan anak itu.
Moza penasaran dan ingin mencobanya lagi, apakah jika bertemu lagi dia akan bisa berbicara secara gamblang tanpa rasa takut. Dia sungguh penasaran akan hal itu, meskipun dilain sisi dia tidak menceritakannya kepada bu Riska yang duduk diseberang sana.
‘Mereka kelihatannya memang bukan anak baik, aku tidak menemukannya dimana pun apa itu berarti mereka bolos sekolah?’ pikirnya terdengar masuk akal.
Ruangan yang hening membuat wanita yang sedari tadi sibuk membaca hasil pemeriksaan rutin Moza menoleh kearah gadis tersebut, menaikkan sebelah alisnya saat melihat Moza duduk diam dalam keadaan melamun. Bu Riska bangkit dari duduknya dan menghampiri Moza yang tampaknya sedang memikirkan sesuatu.
“Apa yang kau pikirkan Moza?” tanya bu Riska lembut, tidak berniat membuat gadis itu terkejut.
Tersadar, Moza menoleh kearah bu Riska yang sedang bertanya kepadanya. “Aku tidak merasakan apapun beberapa hari ini, aku juga bisa berinteraksi secara normal. Apa kondisiku membaik?” ucap Moza sambil menanyakan kondisinya.
Wanita itu tersenyum. “Iya, kondisimu membaik. Jika kau mau berusaha sedikit lebih keras lagi, ibu yakin kau akan sembuh” jawan bu Riska dengan perasaan senang, dan untuk pertama kalinya dia bisa melihat senyum lucu Moza.
Gadis itu tampaknya benar benar senang sekarang, karena bu Riska juga tidak ingin gadis itu melunturkan senyumnya, dia mulai menceritakan hal hal lucu yang akan membuat gadis itu tertawa.
Moza sudah berusaha keras untuk bangkit dari traumanya, walau membutuhkan waktu yang tidak sedikit, tetapi gadis itu berhasil melakukannya. Bu Riska turut senang mendengar kondisi Moza yang membaik beberapa hari ini.
.
.
.
Setelah bel istirahat berbunyi, Moza berjalan sendirian menuju kantin sekolah. Kedatangan gadis itu mengalihkan perhatian seluruh pengunjung kantin, kebingungan menatapnya mendatangi kantin. Moza berjalan menuju kesebuah stand penjual dan memesan 1 mangkuk bakso dengan nada lembut.
Tanpa perlu menunggu lama, Moza sudah mendapatkan makanannya. Setelah membayar, gadis itu mencari bangku kosong untuk didudukinya sendirian. Jujur gadis itu tidak pernah ditatap seperti ini sebelumnya, tatapan tajam mereka yang mengintainya seolah ingin menikam dirinya.
Ia jadi semakin kebingungan, apakah salah dirinya berada disini? Tetapi Moza juga ingin terbiasa dengan suasana baru ini, dia juga ingin dekat dengan seseorang yang dapat diajaknya bicara.
Moza memakan makanannya dengan perasaan tidak tenang, tatapan mereka mengganggunya. ‘Apa aku pergi saja dari sini?’ pikirnya bingung.
Namun beberapa saat setelah berpikir seperti itu, beberapa murid menyapanya. Mengembangkan senyumnya, Moza menyahut sapaan mereka dengan ramah. Degup jantungnya sempat terasa beberapa saat, namun setelah itu kembali normal.
Ia pikir, dia memang harus terbiasa dengan sesuatu yang baru mulai sekarang.
Kret?
Mendengar suara tarikan bangku, Moza menoleh dan mendapati Aland yang berada dihadapannya. “Cantik loh kalau senyum” puji Aland tiba tiba membuat Moza terdiam.
“Marah terus bisa cepat tua loh nanti” imbuh Aland sambil mencomot 1 pentol yang ada didalam mangkuk Moza.
Seketika gadis itu menautkan alisnya, saat dia hendak melancarkan protesnya Aland bangkit dan pergi begitu saja. Moza mendengus kesal, tanpa mengatakan apapun dia segera menghabiskan makanannya dan pergi dari kantin.
.
.
.
Duduk dibawah pohon, tatapan Moza fokus permainan sepak bola yang ada ditengah lapangan. Gadis itu bersadar didahan sambil mengeluarkan nafas panjang, merilekskan tubuhnya sambil menikmati angin semilir yang menerpanya perlahan.
Kantuk mulai menghampirinya, dia memejamkan matanya. Moza jadi ingat pertama kali dirinya bertemu dengan Aland, dia tertidur karena angin angin itu membuatnya santai. Dan terbangun mendengar suara Aland yang sedang menolak pernyataan cinta seorang gadis.
“Diam aja nih” ucap seseorang sontak membuat Moza membuka matanya.
“Akh!” dan betapa terkejutnya gadis itu melihat wajah Aland yang berada tepat didepannya. Bahkan sempat membuat Moza terantuk dahan pohon yang disandarinya.
Terlihat Aland yang menertawakannya saat dia mengusap kepala belakangnya dengan wajah masam. Dengan kesal Moza berniat menendang Aland agar jatuh berguling kelapangan, namun kakinya sudah lebih dulu tertangkap.
“Jahatnya, kan aku ngak sengaja” ucap Aland tau maksud Moza yang hampir menendangnya.
Tangannya terulur, ikut mengusap kepala Moza. “Maaf, masih sakit?” tanya Aland dengan tatapan yang seperti berkata. ‘Maafkan aku’ dengan nada memelas.
Kembali menghela nafas Moza mengangguk, melepaskan tangan Aland dari kepalanya dan kembali bersandar melihat pemain sepak bola itu berganti.
“Kalau mau tidur jangan disembarang tempat, jangan diulangi” ucap Aland dan lagi lagi hanya diangguki oleh Moza.
Aland yang sudah berpindah tempat dan duduk disamping Moza menoleh kebingungan, gadis itu hanya mengangguk sedari tadi dan itu membuatnya bingung.
“Kamu dengarkan aku bilang apa?” tanya Aland kebingungan dengan jawaban gadis itu.
Melirik, Moza hanya menjawab. “Dengar” setelah itu kembali menghadap depan.
Aland membatin betapa cueknya gadis itu saat diajaknya bicara, bisakah dia memilih Moza tetap sebagai gadis pemarah yang banyak bicara.
“Namamu siapa?” tanya Aland membuka percakapan lagi, meskipun dia sudah tau nama gadis itu dari Royyen dua hari yang lalu.
Moza menoleh menatap Aland. “Moza Anastasya”
Dengan semangat Aland juga memperkenalkan dirinya kepada gadis itu. “Aku Aland Wiliam Dikson, aku harap kau masih mengingat namaku” ucap Aland melempar senyum.
“Iya, aku mengingatnya” balas Moza sambil tersenyum.
Pada akhirnya Aland menanyakan banyak hal kepada Moza, meskipun jawaban Moza terbilang singkat. Setidaknya Aland memiliki kesempatan untuk mengobrol dengan gadis itu selagi tidak marah.
“Oh iya Moza, apa kau murid baru? Aku tidak pernah melihatmu disekolah ini” tanya Aland menyuarakan rasa bingungnya.
“Tidak, aku bukan murid baru. Aku juga tidak pernah melihatmu disini”
Menddengar jawaban Moza, Aland berkesimpulan jikalau mungkin dia terlalu sering membolos. Memang aneh jika gadis itu murid baru dan pernah bertemu Royyen 1 tahun yang lalu. Mungkin dia harus mengurangi jadwal bolosnya mulai sekarang.
Sedangkan diujung sana, Arga mengawasi dengan wajah kebingungan melihat Moza tampaknya baik baik saja. Bahkan sudah hampir 1 jam mereka berbicara, dan Moza tidak menunjukkan tanda tanda apapun. Ini aneh, apa dia harus bertanya ke bu Riska langsung tentang keadaan gadis itu. Bisakah wanita itu mempercayainya nanti.
.
.
.
Tbc