8. Change

1269 Kata
Change   Beberapa hari berlalu dan Moza mulai berubah, gadis itu mulai sedikit aktif untuk menerima pembelajaran seperti murid lain. Bukan hanya itu, Moza juga mulai bisa bergaul walaupun tatapan aneh yang tertuju padanya masih dia rasakan.   Bahkan jadwal keberangkatan gadis itu juga berubah, dari yang datang sangat pagi untuk menghidari kerumunan. Moza datang lumayan lambat untuk beberapa hari, gadis itu memang sengaja melakukannya agar dapat menyapa murid murid lain yang dia kenal maupun tidak.   Ia tersenyum disepanjang jalan, senyumnya yang terlihat begitu manis itu tidak surut sedikitpun. Dia benar benar senang sekarang, setidaknya dia bisa mengukir kenangan sebelum benar benar pergi dari sekolah ini.   Meskipun prilakunya mengundang tanda tanya besar dibenak murid lain, karena mereka tau bagaimana Moza selama ini, yang tentunya sangat jahat terhadap mereka. Namun dia tetap melakukannya sambil berharap kalau mereka bisa memaafkan sifatnya selama ini, dia cukup bisa mengendalikan dirinya sekarang, tidak seperti dulu.   ‘Aku bisa membalas senyum dan sapaan mereka sekarang’ pikirnya senang.   Jdug!   Moza menoleh kebelakang melihat apa yang membuatnya hampir terjatuh, sebuah kaki mencuat dari dalam semak. Menaikkan sebelah alisnya, dia mendekati semak semak itu dan menyibaknya. Seseorang yang terbaring disana bangun dari tidurnya, membuat gadis itu kebingungan.   “Apa kau baik baik saja? Apa kau terluka?” tanya Moza khawatir melihat anak itu tergeletak dibelakang semak semak tidak sadarkan diri.   “Apa kau sehabis dibully?” tanya Moza lagi dengan sedikit panik.   Arga mengedip ngedipkan matanya melihat Moza dihadapannya, dia menahan tawanya melihat gadis itu. Bagaimana tidak, dia barusaja bangun dari tidurnya dan gadis itu bertanya apakah dirinya dibully atau terluka.   Ia tersenyum setelahnya. “Aku baik baik saja, aku juga tidak dibully. Aku tidur dibelakang sini karena sunyi dan dingin” jawab Arga membuat gadis itu membuang nafas lega sambil ber oh ria.   Hening beberapa menit, masing masing dari mereka tidak tau harus mengatakan apa. “Um, apa yang kau lakukan disini? Aku pikir pelajaran sudah dimulai dan kau tidak terlihat seperti gadis yang suka membolos pelajaran” tanya Arga mencairkan suasana yang mulai canggung.   “Ah, benar. Aku harus ke uks, jadi ya-” jawab Moza teringat dengan tujuan awalnya, yaitu menuju ke uks.   Arga lagi lagi tersenyum menanggapi ucapan Moza. “Jadi?” tanya nya, ingin tau apa yang akan gadis itu katakan.   Tiba tiba gadis itu bangkit dengan wajah merah sambil menunduk. “Maaf tentang kakimu, dan maaf aku harus pergi sekarang” ucap Moza dan segera pergi meninggalkan Arga yang tersenyum senyum melihat tinggah gadis itu.   Sebenarnya ini bukanlah kali pertama Moza berjalan menyandung kakinya, dan biasanya gadis itu akan marah dan berlari pergi tanpa meminta maaf. Sedangkan sekarang, gadis itu terlihat begitu baik dan hangat untuk diajak bicara.   “Kupikir dia tidak mengingatnya” ucap Arga melipat tangannya keatas sebagai bantalan kepala dan kembali berbaring.   Terdiam disana beberapa saat, Arga kembali teringat kembali dengan Moza yang memang terlihat baik baik saja. Dia tersenyum senang, gadis itu akan sembuh sebentar lagi. Moza tidak akan sakit atau ketakutan dengan hal yang tidak jelas lagi.   “Aku harap kau sembuh secara total” harapnya, Arga tidak tau lagi harus mengatakan apa melihat gadis itu sudah hampir terbebas dari Arrhenphobia juga Skizoafektifnya.   . . .   Aland menaikkan alisnya kesal sambil mengetuk ngetukkan jarinya di helmnya sendiri. Beberapa kali dia juga melihat kearah jam tangannya yang terus berputar, sudah 2 jam dia berada ditempat ini hanya untuk menunggu Arga yang tidak kunjung datang.   Dan disaat Aland tengah menahan marahnya, anak anak lain terlihat santai duduk di bawah pohon sambil memainkan ponsel mereka. Sejujurnya mereka juga ingin marah, tapi itu hanya buang buang tenaga. Jadi mereka memilih untuk memainkan ponsel sambil tetap menunggu.   “Sialan, ini anak kemana?” kesal Aland lalu menoleh kearah teman temannya yang terlihat santai, tidak emosi sepertinya.   “Ada yang bisa telfon Arga?” tanya Aland kepada mereka.   “Gk diangkat, Al. Kayaknya dia tidur lagi” jawab Royyen sambil menguap bosan. Lagipula jika pun Arga datang, balapan liar yang ingin mereka datangi itu pastinya sudah bubar sekarang.   Dak!   Aland melempar helmnya keras hingga kacanya retak, setelah melampiaskan emosinya dia turun dari motor dan ikut duduk didekat teman temannya. Menatap mereka yang memainkan ponselnya masing masing, sedangkan ponselnya sendiri tertinggal di sekolah.   Tidak mungkin juga dia mengambilnya, dia pasti akan terkena hukuman karena membolos. Pada akhirnya Aland hanya bisa menghela nafas sambil mencomot makanan teman temannya yang entah kapan mereka membelinya.   Giro yang duduk disebelah Royyen terbelak menatap foto yang terpampang dilayar ponselnya, dia menyenggol Royyen hingga menoleh dan menunjukkan foto tersebut.   Tau siapa yang ada difoto itu, Royyen menyahut ponsel Giro dan memperlihatkan foto itu kepada Aland. “Gila, ini anak benar benar udah gk jahat lagi” ucap Royyen setelah menunjukkan foto itu.   Disana terlihat Moza tersenyum begitu manis, dengan rambutnya yang dikepang. Foto yang diambil tanpa permisi itu menampilkan betapa cantiknya gadis itu sekarang.   Aland terlonjak dan terus menatapi foto itu. “Ini anak kayaknya suka nih sama aku, sebelum ketemu kan dia jahat banget. Setelah ketemu dia senyum terus”   “Apa gegara waktu itu ya” ucap Aland teringat saat dirinya mengatakan kepada gadis itu kalau marah terus nanti cepat tua. Apa gadis itu menurutinya untuk tersenyum terus karena dia puji cantik.   Seketika mood Aland yang tadinya down menjadi up, dia tersenyum senyum menatap foto itu sambil memikirkan ucapannya tempo hari.   "Kalo soal cewek aja lo bahagia, dasar” kesal Royyen kembali menyahut ponsel itu dan dia kembalikan kepada Giro.   “Lah, kirim fotonya” pinta Aland dengan wajah memelas kearah Giro, dan dengan cepat Giro mengangguk mengiyakan.   “Nurut aja, sekali kali bilang. Download sendiri, kuota ini beli sama uang bukan daun” kesal Royyen melihat Giro yang terlalu menuruti Aland selama ini.   Royyen sampai tidak habis pikir dengan Giro, dia tau anak itu terobsesi dengan Aland dengan semua tingkahnya, tapi Aland selalu menggunakan kebaikan anak itu sesuka hatinya. Dan itu membuatnya jengkel.   “Kan cuma 1 foto doang” sahut Aland membela dirinya sendiri.   Royyen membalas pembelaan Aland dengan tatapan tajam. “Yang kemarin kemarinnya juga cuma 1” sindir Royyen mengingatkan Aland dengan ucapannya yang terus sama.   Mendengus, Aland pada akhirnya mengalah. Karena yang Royyen katakan memang benar, tapi sekarang ponselnya memang tertinggal disekolah.   “Ah, benar juga” celetuk Aland lalu bangkit dan berjalan cepat menuju motornya.   Aland memungut helmnya yang sedari tadi tergeletak mengenaskan ditanah, mengarahkan kacanya keatas karena retak dan naik keatas motornya. Dia berencana untuk kembali kesekolah, daripada memandangi gadis itu lewat sebuah foto, kenapa dirinya tidak menemuinya langsung.   Namun sesaat Aland berangkat, sebuah motor datang mendekatinya dan berhenti dihadapannya. Aland sontak menatap kesal pada Arga yang nyatanya barusaja datang saat dia akan kembali kesekolah.   “Mau kemana, Al?” tanya Arga dengan wajah polos.   Aland menatap wajah polos Arga dengan kesal, tanpa mengatakan apapun dia pergi begitu saja. Membuat Arga menatap kepergiannya penuh tanya lalu menatap teman temannya yang lain.   “Al sepertinya masih kesal denganmu Arga, kita sudah menunggumu 2 jam disini tanpa kabar” ucap Royyen menjawab tanda tanya besar dibenak Arga.   “Terus sekarang?” tanya Arga lagi dan turun dari motornya.   “Dia balik kesekolah, mau lihat Moza kayaknya” jawab Royyen sambil memainkan ponselnya.   Arga kembali menoleh kearah perginya Aland setelah mendengar jawaban Royyen, sempat terbesit dalam pikirannya yntuk menyusul Aland yang pastinya belum sampai disekolah. Tapi Arga mengurungkannya, dia percaya dengan Moza bisa mengendalikan dirinya.   Semoga saja, Aland tidak melakukan sesuatu yang dapat memicu sakit gadis itu untuk kembali kambuh. Jika memang Aland benar benar menyukai Moza, dia akan dengan senang hati membiarkannya berkeliaran disekitar Moza. Karena gadis itu juga membutuhkan orang yang dapat dipercayainya tanpa perlu takut saat mengatakan sesuatu.  . . . Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN