Mysterious Man
Beberapa menit setelah sampai disekolah, Aland sempat dikejar oleh satpam sekolah. Bukan hanya karena acara kaburnya tadi, tetapi karena dia memarkirkan motornya tepat didepan gerbang. Setelah mendapatkan omelan dari pria paruh baya tersebut dan memindahkan motornya, Aland pergi kebeberapa kelas hanya untuk menanyakan kelas Moza.
Namun ternyata aksi bodoh Aland membuat dirinya sendiri terjebak didalam ruang dingin bernama bk. Bertopang dagu, Aland menatapi seorang wanita yang menyeretnya ketempat ini. Wanita itu terlihat sibuk mencatat perbuatan nakalnya untuk hari ini.
“Bu, saya keluar ya” ucap Aland sambil mendengus bosan.
Wanita itu mendongak, menatapnya dengan wajah kesal dan alis yang naik sebelah. “Kamu tau perbuatanmu hari ini?” tanya wanita itu melepaskan kacamatanya.
“Bolos bu” jawab Aland dengan wajah tidak minat.
“Kamu tau itu salah, tapi kamu tetap melakukannya” timpal wanita itu dengan wajah kesal. Sedangkan Aland hanya diam sambil mencuri lirik kearah lain.
Wanita tersebut menghela nafas melihat Aland yang sepertinya tidak memiliki niat untuk mendengarkannya. “Jujur, saya sudah tidak tau bagaimana cara mendisiplinkan kamu lagi. Point kamu sudah melewati batas, dan jika saya melaporkan ini. Kamu akan dikeluarkan dari sekolah” imbuh wanita itu memandang Aland dengan lembut.
Aland memang termasuk anak yang cukup nakal, namun dilain sisi dia juga pintar dan bertalenta. Akan sangat disayangkan jika dia membiarkan anak itu dikeluarkan sekolah karena ulah nakalnya, apalagi saat anak itu sudah dekat dengan kelulusannya.
Saat wanita itu pusing memikirkan jalan keluar untuk Aland, sebuah pertanyaan dari Aland membuatnya mendongak dengan wajah terkejut. Bagaimana bisa dia menanyakan hal seperti. “Apa poin saya bisa diperbaiki?”
Wanita itu terbelak menatap Aland tidak percaya. “Berapa jumlah poin saya, apa bisa saya perbaiki?” tanya Aland lagi karena tidak mendapat jawaban.
Sontak dengan semangat wanita itu menghitung poin yang Aland miliki, dan menjelaskan apa yang harus dia lakukan untuk menguranginya. “Total poinmu 250, sedangkan maksimal point adalah 100. Jika kau memang ingin memperbaikinya, kau bisa mulai dengan mengikuti kelas secara penuh dan mengerjakan semua tugasnya” jelas wanita itu senang.
“Hanya itu?” tanya Aland tidak percaya jika dirinya hanya perlu melakukan itu saja.
“Kau harus aktif dalam kegiatan sekolah, datang pagi, perbaiki penampilan, perbaiki sikap, dan jika mau kau bisa membantu beberapa guru atau staff”
Aland mengangguk anguk menyetujui ucapan wanita dihadapannya. “Baiklah” ucapnya lalu melepaskan 2 tindik ditelinganya. Aland juga memperbaiki penampilannya, memasukkan kemejanya dan mengancingkannya.
“Sudah bisa dikurangi bu?” tanya Aland dengan penampilan sedikit rapi. Wanita itu tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
“Kalau begitu saya keluar sekarang ya bu, selamat siang” pamit Aland dengan sopan pergi dari ruang bk.
Kalau saja bukan karena Moza, dia tidak akan mungkin melakukan itu semua. Lebih baik dia pindah kesekolah lain untuk menikmati kelulusannya.
.
.
.
Menghembuskan nafasnya perlahan, Moza merasakan ketenangan melingkupinya. Aroma segar didalam ruangan itu membuatnya hampir tertidur.
“Semuanya normal, kau tidak merasakan apapun Moza?” tanya seorang wanita yang selalu menemaninya menjalani therapy, Niya adalah namanya.
Moza menggeleng lalu membuka matanya. “Aku bisa berinteraksi dengan orang lain beberapa hari ini” ucap gadis itu senang. Karena tidak ada satupun bayangan yang menghantuinya, dia merasa aman, dan baik baik saja.
“Wah, itu kemajuan yang bagus. Kau berusaha dengan keras, aku harap kau segera sembuh” ucap Niya senang sambil memberikan semangat untuk Moza.
Merapikan tempat tersebut, Moza bangkit dari berbaringnya sambil menatap wanita itu berjalan mendekatinya. “Ini adalah obat barumu, kau bisa meminumnya saat merasakan skizoafectifmu muncul. Dan ini hadiah dariku, aku lihat kau menyukainya” Niya memberikan obat baru kepada Moza dan memberikan 1 bungkus bunga kering yang aromanya sangat harum.
“Terima kasih” gadis itu menerimanya dengan senang dan keluar dari ruangan. Terlihat bu Riska langsung berdiri dari duduknya begitu melihat Moza keluar.
“Bagaimana?” tanya bu Riska terlihat begitu penasaran.
“Dokter Niya memberiku obat baru, dan hanya diminum saat skizoafectifku muncul” jawab Moza membuat bu Riska tersenyum lebar. Apa yang barusaja Moza katankan memberikan tanda bahwa kemungkinan gadis itu untuk sembuh semakin besar.
Dia harus membuat gadis itu agar tetap bersemangat untuk sembuh.
.
.
.
Sedangkan disebuah tempat yang jauh, terlihat seorang pria yang tengah sibuk menatapi kertas kertas ditangannya sambil beberapa kali melirik kearah komputernya yang menyala. Dengan dinding kaca dua arah, ruangannya terlihat sangat terang dengan sinar matahari yang leluasa masuk.
Sunyi, hanya terdengar beberapa kali ketikan keyboard, gesekan penanya, dan jam dinding yang berdetik. Namun pria itu tiba tiba tersenyum dengan sendirinya, menghiasi wajah berumurnya yang masih tetap tampan.
Bangkit, pria itu menghampiri sebuah almari kaca yang penuh dengan foto seorang anak kecil tengah tersenyum begitu manis. Pria itu tersenyum semakin lebar.
"Sudah berapa lama aku membiarkanmu pergi, my sweet doll” ucapnya, membuka almari itu dan mengambil semua foto yang ada disana. Pria itu memeluknya seperti dia memeluk seseorang, namun karena pelukannya semakin mengerat, bingkai bingkai foto itu retak dan patah.
Remahan kaca berhamburan memenuhi tuxedonya yang berwarna abu abu. “Oh my sweet doll, maafkan aku. Kau sangat cantik hingga membuatku gemas” ucap pria itu mengembalikan bingkai foto tersebut yang sudah rusak kedalam almari.
"Memandangi fotomu sedari jauh membuatku tidak sabar, sehebat apa teriakanmu nanti saat melihatku berdiri dihadapanmu” pria itu tertawa kecil, setelah itu kembali duduk dikursinya seolah tidak terjadi apapun.
Dengan wajah datar, pria itu mengambil telfon kantornya dan menghubungi seseorang. “Bagaimana kondisinya, masih ketakutan?” tanyanya kepada orang diseberang.
"..."
"Jadi keadaannya membaik?”
"..."
Sebuah seringai tercetak diwajah pria itu. “How great, aku akan menunggu kabar terbarunya” tanpa perlu menunggu jawaban dari seberang, pria itu langsung menutup telefonnya.
"Wait for me, my sweet doll" guman pria itu sambil tersenyum kecil.
.
.
.
Tbc