Be Lost
Suara dentingan sendok yang membentur piring terasa menggema diruang makan, tidak ada satupun celotehan yang terdengar seperti biasanya. Sambil memakan sarapannya, sepasang suami istri itu melemparkan tatapan bingung kepada putra sulung mereka, Aland.
Entah kenapa setiap anak itu diam, mereka menjadi sangat kebingungan dengan Aland. Mungkin karena anak itu selalu membuat masalah dan tidak ada henti membuatnya mengomel marah.
Bukannya karena apa, tetapi anak itu mendadak seperti orang bisu sejak sepulang dari sekolah.
"Al, kenapa diam saja?” tanya Alanzo kebingungan.
Mengangkat kepalanya, anak itu hanya menatap papanya sejenak tanpa mengatakan apapun dan kembali memakan sarapannya yang tinggal sedikit. Tidak ada satupun kata yang pria itu dapatkan sebagai jawaban, lantas dia menatap istrinya kebingungan.
“Aland, kenapa sayang? Apa lukanya masih sakit, mau kedokter?” tanya Amira lembut setelah bangkit dari duduknya dan berdiri disamping putranya itu, menatap Aland yang tidak memberinya jawaban.
Tiba tiba Aland menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, dia bangkit dari kursinya dan pamit untuk pergi sekolah begitu saja tanpa rutinitasnya mencium pipi adiknya yang menggemaskan.
Sebenarnya Aland hanya merasa sedikit kesal. Kemarin setelah dirinya keluar dari ruang bk, Aland berniat mendatangi kelas Moza untuk memastikan foto yang dia lihat diponsel Giro. Namun alangkah bodohnya dia tidak tau dimana kelas gadis itu, dan karena teman temannya pun juga tidak tau, akhirnya Aland mendatangi semua kelas dengan memanggil nama gadis itu.
Namun lagi lagi tidak ada satupun yang tau dimana kelas gadis itu berada, seolah Moza tidak bersekolah ditempat ini dan hal itu cukup membuatnya bingung. Sewaktu dijalan dia kembali bertemu dengan bu Novi yang meninggalkan ruang bk.
Kerena memang tidak tau harus mencari dimana lagi dia menanyakan gadis itu kepada bu Novi, wanita itu menjawab jika Moza adalah murid khusus disekolah ini, dan sekarang gadis itu sudah pulang keumahnya. Setelah itu berakhirlah Aland diseret kedalam kelasnya dan dihukum oleh guru mata pelajaran, dan kembali kabur dari sekolah.
Tapi entah kenapa hari itu tampaknya menjadi hari tersialnya, dia tiba tiba diserang oleh anak sekolah lain hingga punggungnya cidera cukup parah. Dari sana dia mulai kesal.
.
.
.
Terlihat seseorang yang duduk diatas motornya tanpa atasan, dia sedang memandangi luka yang ada ditubuhnya dengan seksama sambil sesekali mendengus kesal. Ditangannya terdapat p3k yang dia tidak tau bagaimana cara menggunakannya.
Karena tidak mau berlama lama, Aland mengeluarkan obat merah didalam kotak itu dan meneteskannya pada semua luka ditubuhnya. Tidak peduli benar atau salah, Aland tetap melanjutkan kegiatannya. Sampai tidak sadar jika beberapa anak yang memarkirkan motornya lari ketakutan setelah melihatnya.
Aland memang nol besar jika menyangkut dengan obat obatan, itu juga karena dirinya hampir tidak pernah sakit. Jika pun sakit, dia mungkin hanya akan mengalami demam sehari saja.
"Ck, sial banget kemarin. Jatuh ketimpa tangga, ketimpa lagi” gumannya kesal sambil berdecak.
Mremmnng
Aland menoleh kebelakang saat mendengar suara deru motor yang tidak asing ditelinganya. Benar saja, Royyen datang dan menghentikan motornya. Namun anak itu tidak henti henti menatapnya setelah melepas helm, membuat Aland semakin terbawa kesal.
“Kenapa?” tanya Aland ketus.
“Aku kira penampakan loh dari jauh” jawab Royyen dengan wajah melongo, Aland seketika menjitak kepala temannya itu sambil tersenyum.
“Serius, gk bercada Al” imbuh Royyen memegangi kepalanya.
“Hem” sahut Aland dengan dehaman dan kembali sibut mengobati lukanya.
Royyen yang melihat suatu kejanggalan pun pada akhirnya tau apa itu. “Al, ini lebam kok dikasih obat merah?” tanya Royyen menatapi lebam ditubuh temannya yang penuh obat merah.
Menoleh, Aland pada akhirnya bertanya. “Emang beda?” dengan wajah bodoh, sontak Royyen ganti menjitak kepala temannya itu karena kesal dengan pertanyaannya.
“Iya memang beda, kalau gk tau itu minimal tanya google. Kalau gini kan sayang obatnya, Aland” ucap Royyen dengan nada kesal penuh penekanan. Dia merebut kotak p3k yang Aland bawa juga obat merah tersebut, Royyen pada akhirnya membersihkan obat merah itu ditubuh Aland menggunakan kapas dan air hingga bersih lalu mengobati punggungnya.
“Lebam semua gini, habis ngapain?” tanya Royyen menatap tajam Aland yang sekarang ganti terpojok.
“Dikeroyok anak sekolah lain kemarin” jawab Aland sambil mengalihkan matanya.
“Terus, ini kenapa?” tanya Royyen lagi sambil memukul punggung Aland sedikit keras dengan sengaja.
“Kena, batangan besi yang mereka bawa” jawab Aland mencoba untuk tetap sabar dengan Royyen. Kalau tidak, anak itu akan pergi dan tidak membantunya mengobati lukanya dengan benar.
“Bodoh, kenapa kau tidak panggil aku atau siapa buat bantu” marah Royyen.
“Gimana loh aku mau panggil, telefon? Mereka udah kayak begal aja tiba tiba aku lewat digebukin” ucap Aland kesal sambil membela dirinya sendiri. Karena dia memang tidak salah apapun disini.
Pada akhirnya Royyen hanya menghela nafas melihat temannya itu, dia kembali melanjutkan pengobatannya. Karena luka dipunggung Aland cukup parah, namun anak itu bersih keras tidak mau dibawa kedokter untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut, Royyen terpaksa hanya melingkupinya dengan kain kasa yang ada didalam kotak p3k tersebut.
Beberapa menit setelahnya terdengar suara motor kembali memasuki parkiran, dan itu adalah Arga. “Ngapain nih kalian?” tanya Arga dengan polosnya, membuat Aland ingin sekali mencubit mata anak itu sekarang juga karena kesal.
Masalahnya, bagaimana Arga masih bertanya saat dia sendiri tau apa yang Royyen lakukan adalah mengobatinya.
“Hitung bulu kambing” jawab Royyen dengan ketus, ikut mewakili rasa kesal Aland.
Seketika Arga tertawa setelah mendengar jawaban Royyen yang sangat ketus kepadanya. “Iya tau, lagi ngobatin Aland. Habis kenapa ini” ucap Arga berbalik tanya.
“Habis dibegal anak sekolah lain dia” jawab Royyen, menjelaskan semua luka yang ada ditubuh Aland.
“Kenapa gk dibawa kerumah sakit aja Al?” tanya Arga ikut melihat lihat luka milik Aland yang terlihat serius.
“Ogah, nanti pasti bakalan dijahit” ungkap Aland.
“Iya, biar diobati bener bener ini luka. Kalau perlu dijahit pun ngak papa, ini lebar banget lukanya” sahut Royyen mengikat ujung kain kasa itu erat agar tidak terlepas.
Arga yang sedari tadi tidak mengatakan apapun, diam diam menatapi motor Aland yang baik baik saja tanpa lecet. Yang artinya Aland dihentikan, tidak langsung diserang begitu saja.
“Tumben banget sih Al, cidera sampai gini. Biasanya juga selalu menang meski dikeroyok” ucap Arga mulai kasihan.
Namun Aland hanya diam tidak menjawabnya, sebenarnya dia sedang memikirkan Moza sewaktu itu. sampai tidak sadar jika dia lengah.
Tidak mau terus membahas luka luka ditubuhnya, Aland bangkit dari duduknya lalu memakai kemeja sekolahnya. Tanpa mengatakan apapun, dia pergi dari sana meninggalkan dua temannya.
.
.
.
Aland membuka matanya perlahan, sedari tadi ia hanya tidur di uks. Karena lukanya juga, ia kembali bebas tanpa seretan bu Novi. Namun ada 1 hal yang membuatnya sangat kebosanan sekarang, tidak ada seorang pun di uks sedari pagi dirinya datang.
"Bosen amat, ini uks sepi juga " ucapnya pada diri sendiri.
Tak ada yang menyahut, bu Riska yang biasanya menjaga uks pun juga tak berada ditempatnya sedari pagi.
"Ngapain ya biar gk bosen?" pikirnya