11. Blank
Suasana yang sejuk untuk hari yang panas ini. Bagi Aland ini adalah tempat yang sangat nyaman untuk istirahat sambil menenangkan pikirannya. Namun tidak bagi wanita itu, wanita yang sedari tadi menatapnya tajam.
"Aland, kamu ini. Ibu kan sudah bilang, kalau mau istirahat di uks sana. Kenapa kamu malah tidur di ruang bk? Mau saya skors?" ucap bu Novi yang tampaknya sudah kesal sedari tadi.
Aland membuka matanya, ia menatap wanita itu sejenak lalu tersenyum. "Shuutt, jangan berisik ya bu. Aland bosen di uks, kan gk sedingin ruang bk" jawab Aland santai dan kembali menutup mata.
Lagi lagi bu Novi harus mengalah. Sebenarnya ia ingin sekali memberi sanksi pada murid ajaibnya ini, tapi selalu tidak ada alasan yang tepat dan benar untuk menangkapnya.
"Kamu juga! Itu karma buat kamu karna sering ikut tawuran" ucap bu Novi yang tau jika punggung Aland terluka parah.
"Berarti buat hari ini saya adalah karma buat bu Novi, dan karena saya sebuah karma. Saya pengin tidur disini seharian" ucap Aland asal, ia ingin membalik ucapan gurunya itu.
Bu Novi tercengang, ia tampaknya terkejut dengan penuturan Aland. Bu Novi membuang nafas lalu menggeleng geleng kecil. Ia kembali duduk di kursinya, mencoba tidak memperdulikan Aland. Membalas perkataan Aland bisa saja membuatnya darah tinggi dadakan.
Aland membuka sebelah matanya untuk mengintip reaksi gurunya itu. Dia tersenyum kecil saat melihat bu Novi tak memperdulikannya.
'Nah, begini baru bisa tidur...' batin Aland penuh kemenangan.
.
.
.
"Land, land!"
Aland terusik dari tidurnya yang nyenyak, panggilan beruntun itu tak kunjung berhenti sedari tadi.
Ia membuka perlahan matanya yang sulit terbuka itu, mencoba melihat siapa yang mengusik tidurnya.
"Woy, ngantin gk lo?" tanya Royyen dengan sedikit keras.
"Hah?"
"Ck, mau ngantin kagak?" ulang Royyen.
Aland memposisikan dirinya untuk duduk dari tidur tengkurapnya. Direnggangkannya otot tangannya yang kaku sambil menguap.
"Apaan sih? Ulangin lagi coba?" tanya Aland yang tampak sudah sadar sepenuhnya.
Royyen menjitak kepala Aland, lama lama kesal juga. "Ck, telinga lo tuli banget sih Tan! Gue bilang, ngantin kagak?" ucap Royyen mengulang kalimatnya dengan kesal sambil setengah berteriak.
Aland mengangguk, namun wajahnya terlihat tidak berminat mengunjungi tempat itu.
"Yaudah, ayok. Bengong lagi..." sentak Royyen yang entah kapan sudah berdiri di ambang pintu.
Aland bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Royyen. "Beli apa yak di kantin? Gk ada Moza jadi gk seru nih, gombalanku bakal terbuang cuma cuma dong" gumannya.
Royyen yang mendengar itu melirik Aland tak percaya. "Lo beneran suka si Moza, Tan?"
"Gk tau juga, tapi beneran deh. Hari ini sepi banget gara gara Moza gk masuk, biasanya kan kita udah siapin rencana biat dia" ucap Aland sambil memandang kedepan acuh.
Royyen mengangguk, benar. Sejak Aland menceritakan pertemuannya dengan Moza, mereka selalu bebarengan mengamati menyelidiki gadis itu. Mungkin pengecualian pada Arga yang tidak mau ikut ikutan dengan alasan takut kena karma.
Pak!!
"SETAN!!" umpat Aland dengan kerasnya saat ia hampir sampai di kantin.
Ia menoleh kebelakang, menatap nyalang pada seorang cowok yang tak sengaja menyenggol luka di punggungnya.
"LO! LO GK LIAT APA! MATA LO KALAU JALAN TUH LIHAT MANA!!" teriak Aland dengan semburan amarahnya.
Sungguh, baru saja tadi pagi lukanya itu di obati. Sekarang ada yang menekannya hingga rasa nyeri itu kembali datang.
Cowok itu hanya diam, tampak tak berani berkutik atau menjawab. Sedangkan Royyen yang melihat itu hanya membuang nafas panjang. Ditepuknya pundak Aland perlahan, mencoba menenangkannya.
"Land tenang, dia gk sengaja"
"Tenang? Roy, lo gk tau kalau dia tekan punggung gue tadi" adu Aland sambil menunjuk cowok itu.
Royyeng membuang nafas lalu menggeleng kecil. “Hey, maafkan seniormu ini ya. Dia lagi pms, lagi mode senggol bacok. Cepat pergi sana" ucap Royyen menyuruhnya pergi.
Segera saja cowok itu pergi sambil berlari. Membuat Aland melotot, lalu menatap Royyen nyalang.
"Ngapain lo usir Roy, harusnya hajar dia biar tau rasa"
"Tan, kita kesini buat makan, bukan berantem" jelas Royyen sambil menarik tangan Aland ke kantin.
"Setan!" umpat Aland sambil menatap arah lain. Tampak kesal sendiri setelah mendengar penuturan Royyen.
"Kalau mau ngumpat jangan sebut nama sendiri, Setan" ucap Royyen.
Aland mencebik, ia sangat sensitif hari ini. Bahkan beberapa gadis yang menyapanya ramah saja hanya ia lirik tajam, tatapannya seolah berkata ‘Hilang lo kalo berisik’.
Dia duduk dengan rautnya yang tetap sama. Membuat murid lain menatapnya bingung karena hanya Aland yang biasanya merusuhi kantin, dan sekarang hanya diam bak boneka hidup dengan raut marah.
"Tan, pesen apa? Gue antriin aja sekalian" ucap Royyen menawarkan diri.
"Mie ayam aja 1, gk pakai saos. Nanti enek, kaya' lihat muka mantan" ucap Aland santai.
Beberapa murid yang mendengar itu sempat tertawa pelan dan menahan tawa mereka, tak terkecuali Royyen. Ingin sekali Royyen menimpali ucapan Aland itu, namun mengingat temannya itu sedang tak bisa di sentuh. Ia mengurungkannya daripada suasana ini akan menjadi semakin buruk.
"Oke, minum?" ucap Royyen sambil menetralkan nafasnya.
"Es teh, jangan manis manis tapi. Entar suka, Moza ngangur lagi..." ucap Aland dengan raut tak pedulinya.
Seperti tidak sadar jika ucapannya yang mendrama itu membuat orang hampir 1 kantin tertawa.
"Oke, oke" ucap Royyen dan segera mengelos pergi.
Puk!
"SIALAN!!" umpat Aland saat merasakan ada orang yang memukul punggungnya.
Ia menoleh kebelakang, menatap nyalang Arga yang tengah tersenyum jahil kearahnya.
"Heh, Ga. Udah tau punggung gue gini, di tabok..." marah Aland namun tak semarah pertama.
"Emang sengaja gue tabok, biar cepet sembuh..." balas Arga sambil tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Sialan, lo!!" maki Aland.
Arga tertawa mendengarnya, menurutnya balasan Aland terdengar lucu.
"Si Aland kan nama lu, ngapain manggilnya ke gue?"
"Gue ngumpatin lo b**o" balas Aland sengit.
Arga menggeleng gelengkan kepala. "Ck, ck, ck. Ngumpat kok pake' nama sendiri" ejek Arga.
Aland mencebik. "Ngumpat ini salah, itu salah, marah salah! Pusing gua!" ucapnya sambil menggebrak meja.
"Kapa-"
Aland melirik kesal Royyen yang tiba tiba datang dan menyumpal mulutnya dengan siomay.
"Dah, makan. Marah marah aja mulu dari tadi, gk berbuih apa tuh mulut" ucap Royyen sebelum mendengar protesan Aland.
Dengan sedikit kesal Aland memakannya. Walau mulut itu masih bergumang gumang tak jelas.
"Roy, punya gue mana?" tanya Arga.
Royyen melirik Arga. "Beli sendiri sana, gua bukan babu lu ya.."
"Yah, pilih kasih. Baik cuma sama Setan doang..." komentar Arga lalu bangkit dari duduknya.
Setelah Arga pergi, Royyen mulai berbicara kembali. "Land, lu aneh..."
Sebuah ungkapan singkat itu mampu membuat dahi Aland berkerut karena 1 alisnya yang naik.
"Lu lebih aneh lagi, Roy. Tiba tiba jadi baik, sabar, bicara alus banget lagi. Biasanya kan nggak" komentar Aland.
"Iya juga sih... Tapi beneran, dari kemaren lu beneran aneh"
"Secara gue Setan, jelas aneh"
"Ngak, bukan itu. Argh! Gk bisa ngomong kalo gini!" Royyen mengacak acak rambutnya, terlihat frustasi memikirkan sesuatu.
Aland terdiam. 'Terserah...' batinnya.