12. Silent
Aland semakin hari semakin aneh, hanya duduk, diam dan linglung setiap saat. Tidak melakukan sesuatu yang berarti, tidak melakukan kerusuhan, bahkan guru dan orang tuanya pun dibuat bingung.
Ini sudah hari ketiga Moza tidak masuk sekolah. Hingga Aland jadi bingung dengan dirinya sendiri yang tiba tiba tidak minat melakukan apapun.
"Aland, kamu dengerin aku ngak sih? Dari tadi kamu kaya' ngelamun terus" keluh seorang gadis cantik yang duduk tepat di samping Aland.
"Iya nih, entar kesambet loh" celetuk gadis satunya lagi yang ada di hadapan Aland.
Gadis itu tampak bertopang dagu di atas meja kantin. Menatap Aland bosan karena tidak ada pujian atau gombalan ala playboy untuknya. Bahkan nasi gorengnya tetap utuh sepiring.
Aland tidak bereaksi, hanya diam dan melamun. Gadis disampingnya jadi kebingungan sekarang, sedari tadi tidak ada reaksi yang berarti.
Ia balik menatap gadis lain yang duduk di hadapannya. Alisnya sedikit berkerut dan mendongak sedikit, bertanya pada temannya yang ada dihapannya. Yang malah mendapat jawaban kedikan bahu semata.
Keduanya sama sama terdiam hingga tepukan dan sapaan keras itu terlontar untuk Aland.
"Woy, Tan..." sapa Royyen dengan senyumnya yang lebar.
Aland hanya menoleh, tidak menjawab sepatah kata pun. Bahkan tatapannya terlihat sayu dan kosong, apalagi wajahnya yang sedikit pucat.
Bahkan Royyen yang baru sampai di samping Aland sampai membatin setelah menelan ludahnya susah payah.
'Makin serem aja nih muka Setan. Apa kesambet beneran kali ya?' batinnya sedikit merinding.
Royyen tersenyum kikuk sambil mengusap tenguknya yang meremang. Ia kehilangan kata kata saat melihat wajah seram sahabatnya juga wajah zombie 2 gadis itu.
"Apa?" tanya Aland membuka suaranya setelah sekian lama menatap wajah Royyen yang kikuk dan bingung.
Lagi lagi Royyen hanya tersenyum kikuk, ia hanya mendekat dan membisikkan sesuatu pada Aland. Sesuatu yang bisa membuat alis Aland hampir menyatu, dan diakhiri senyum lebar yang sebenarnya tak pernah tampak.
"Heh, yang bener lu? Awas aja kalo php..." ucap Aland tampak tak percaya, kembali pada dirinya sendiri.
"Terserah lo aja kalo mau percaya ato gk, orang nih kuping denger sendiri..." gerutu Royyen dengan mimik kesalnya.
Aland sedikit tertawa kecil sambil bangkit dari duduknya. "Ululu, iya sayang... Pacarmu yang setia ini percaya..." canda Aland sambil menepuk nepuk pipi Royyen pelan.
Royyen mencebik mendengarnya, ia semakin kesal. "Pacar kakimu!" celetuk Royyen.
Aland tertawa keras, sungguh. Sahabatnya yang 1 ini memang yang paling enak jika di usilli. Tidak seperti Arga yang selalu datar dan sangat hobi tidur.
"Nih, kalo kaki" ucap Aland mengangkat sebelah kakinya.
Royyen hanya diam sambil menatap Aland nyalang.
"Iya, iya. Sabar dong..."
Aland merangkul Royyen sambil membawanya pergi. Royyen melirik 2 gadis tadi yang tampaknya terkejut melihat kejadian ini.
"Heh, gk lo pungut tuh dua cewek. Tinggalin gitu aja..." ucap Royyen.
"Pungut? Lo kira mereka tuh sampah apa?" bela Aland.
"Ya kirain..." jawab Royyen acuh sambil mengedikkan bahunya.
"Mereka tuh terlalu cantik. Kalo gue bawa, bisa bisa 1 sekolah demam tawa liat muka tuh cewek. Secara muka mereka kaya ondel ondel, sama badut kalah" ucap Aland sambil tertawa keras lagi.
Royyen menjadi tertular, ia sama sama tertawa bak orang gila di kantin sekolah.
"Bener, bener" sahut Royyen sedikit menahan tawanya.
.
.
.
Arga membuka matanya, angin semilir itu tidak bisa membawa pergi rasa takut juga kekhawatirannya. Ditatapnya dedaunan rimbun dengan sedikit sinar mentari yang menyela.
Suasana tenang hutan yang membuat hatinya malah tidak tenang. Bergejolak bagai ombak pantai yang mengamuk. Ia marah pada dirinya, dia tak bisa menjaganya. Pikirannya kacau berantakan seperti puzzle yang berserakan.
Arga mengacak rambutnya frustasi, sungguh ia ingin melihatnya. Lalu mengatakan maaf sebanyak yang ia inginkan.
"Aarrgh!!" erangnya sambil memukul angin.
Diraihnya batu batu kecil disampingnya dengan kasar, lalu dilempar begitu saja ke danau sambil berteriak.
"Kau BODOH!"
"BODOH!!"
"TIDAK berguna!!"
Nafasnya tersenggal senggal, Arga sudah tertelan emosinya sendiri yang berlarut larut. 3 hari ini bagaikan neraka, sungguh bodoh dirinya tidak bisa memikirkan hal lain untuk menyelamatkannya.
Namun, perlahan wajahnya melembut. Sungguh sakit hatinya jika mengingatnya, bahkan tanpa sadar ia kembali menangis. Tubuhnya langsung lunglai tak berdaya mengingat kejadian itu. Masa lalu indah yang berubah kelam dalam sekejap mata.
Arga yang sekarang, tetap lah Arga yang dulu. Tetap bodoh karena hanya bisa berteriak dari jauh sambil melihatnya.
Perlahan ia merogoh tasnya, mengambil boneka beruang kecil yang sudah usang. Boneka itu selalu ada di tasnya, selalu ia bawa. Benar benar usang, tangannya sudah hilang 1 dan Arga menambalnya.
Arga kembali menangis melihat boneka itu, perlahan dipeluknya sambil menangis. Hatinya tak akan kuat jika dihadapannya, salahkan ia jika terlihat seperti pahlawan dari belakang.
Arga mengambil secarik kertas juga 1 foto berukuran kecil didalam baju boneka itu. Terlihat tulisan yang masih berantakan terpampang disana.
"Arga thank you very much, this is the last day we met. I'm sorry, because I don't want you hurt. Enough of me, not someone else. He was too cruel when torturing people, but not with me"
Arga menggeleng setelah membacanya, ia selalu mengorbankan diri. Tidak membiarkan orang menolongnya, hingga ia menjadi gila sampai sekarang.
"Tidak! Aku tak akan membiarkan manusia keji itu menemukanmu lagi. Biarlah kali ini aku menolongmu, aku ingin kau berhenti menjadi korbannya" ucap Arga dengan suara tertahan, kembali menahan amarah.
Arga mengusap wajahnya kasar, menghilangkan bekas tangisnya yang berubah menjadi wajah dingin tak tersentuhnya.
"Aku akan menjengukmu nanti malam, Moza... Tenang saja. Kali ini aku yang berkorban" ucap penuh tekadnya.
Ia menyahut ranselnya kasar lalu menelfon seseorang.
"Siapkan mereka secepatnya, apa ada pergerakan?"
"Baik Tuan, sejauh ini mereka hanya mengintai. Tidak ada pergerakan lain..."
"Baiklah, aku tunggu kabar terbarunya. Ingat, seleksi secara ketat dan benar. Bukan hanya kekuatan, tapi otak... Jika bisa carikan aku orang psychopath!"
"Baik Tuan, akan kami laksanakan"
"Hm, iya..." putus Arga sambil memasukkan hpnya ke saku bajunya.
"Kita lihat, siapa yang akan mati duluan.." gumannya.
Setelah menaiki motor, ia langsung lepas landas dari dalam hutan itu. Arga memang mengejutkan, tujuannya hanya 2 saat ini. Menyelamatkan dan membalas orang itu.