13. Response

1086 Kata
13. Response   Sudah 3 hari ini Moza di ruang isolasi, ruangan serba putih yang empuk. Tak ada yang dapat dilihat selain bajunya yang berwarna biru muda itu. Semua benda seperti kalung, anting, dan cincin dilepas semua dari tubuhnya.   Hanya diam dan melamun sepanjang hari. Ia hanya keluar untuk konsultasi, makan, mandi, dan meminum obat. Selebihnya ia hanya boleh duduk atau apapun itu didalam ruangan empuk ini.   Terkadang ia berpikir, kenapa ia bisa sampai seperti ini. Kenapa ia di pertemukan dengan pria itu. Kenapa semua ini hanya dirinya yang merasakan sakit.   Moza bertanya tanya dalam keheningan yang menyelimuti dirinya. Apakah ia tak bisa sembuh?   Kulitnya memutih pucat karena tak terkena matahari sama sekali. Dibawah matanya terdapat warna hitam yang terlihat mengerikan untuk kulit pucatnya. Hanya diam dan bernafas, sesekali ia juga melirik kesamping.   Sungguh tak ada yang bisa dilihat. Bahkan ia tak tau sekarang siang atau malam, jam berapa sekarang, berapa lama ia disini, dan kapan ia akan keluar.   Moza benar benar bosan berada disini, pikirannya semakin keruh setiap jamnya. Bukan sembuh yang ia dapat, malah dia semakin takut jika bertemu seseorang nanti.   Ia tau dirinya gila, dan mereka semakin membuatnya gila dengan mengurungnya ditempat ini. Moza sungguh tak tahan, ingin sekali dia mengamuk seperti kemarin. Namun ia membatalkan niatnya, jika ia mengamuk lagi. Maka ia akan kembali tidur seharian di sini.   Clekk?   Pintu putih yang sebenarnya nyaris tak terlihat itu terbuka. Moza hanya mendongak diam, matanya menatap kosong pada 2 suster wanita yang menghampirinya bersamaan.   Sejenak mereka saling pandang, hingga salah satu dari mereka bertekuk di hadapan Moza.   "Moza?" panggil suster itu lembut.   Panggilan itu hanya terjawab oleh lirikan Moza yang terlihat menakutkan. Tidak menjawab apapun selain mengeratkan pelukannya di lututnya.   "Moza bosan disini?" tanyanya lagi.   Moza hanya mengangguk pelan.   "Moza mau keluar kan?"   Lagi lagi hanya terjawab oleh anggukan.   "Hari ini sampai besok, Moza akan di ajak jalan jalan. Asalkan Moza berjanji tidak akan mengamuk lagi..."   "Iya..." jawab Moza lirih.   Suaranya hampir tidak bisa keluar, setiap hari ia hanya teriak teriak dalam sangkar putih ini.   Suster itu berdiri sambil menepuk pundak Moza pelan. Mengulurkan tangannya sambil tersenyum.   Moza hanya menyahutnya dan ikut bangkit, sebenarnya ia sudah tak sabar keluar dari sini. Jika saja bisa, ia akan kabur hari ini juga.   . . .   Senyuman miris itu terlukis sedari awal ia sampai di tempat ini. Ia melihatnya, melihat gadis itu sangat menyedihkan di dalam sana.   Seandainya kejadian dimana Moza bertemu Aland tak pernah terjadi. Maka gadis itu tak akan kambuh separah ini lagi.   Padahal, sejak awal tahun sekolah disana. Ia dengan cekatan sudah mengamati semua siswa yang berpotensi menjadi pengganggu siswi. Dan yang ia dapatkan adalah Aland, diantara semuanya. Hanya Aland saja yang paling berbahaya.   Ia bahkan sampai menjadi murid nakal agar dapat menjauhkan Aland dari keberadaan Moza. Memanipulasi keadaan seolah Moza tidak pernah ada di sekolah itu. Namun sepertinya ditahun ini semua berkata lain.   Manipulasinya malah berbalik membuat Moza di incar Aland. Sungguh bodoh ia tidak mencarikan gadis lain untuk Aland waktu itu.   "Maaf, nak Arga?"   Arga sedikit tersentak kaget, ia dengan segera menoleh pada dokter itu.   "Tolong jaga Moza ya, tolong segera telefon pihak rumah sakit jika Moza kambuh. Kami tidak mau menerima resiko yang lebih parah. Dan pastikan jika Moza tak membuka sedikit pun penutup matanya..." ucap dokter itu.   Arga mengangguk mantap. "Iya dok, akan saya telfon secepatnya. Maaf bila permintaan saya sedikit merepotkan, tapi Moza juga butuh keluar dari ruangan itu agar pikirannya tidak semakin keruh"   "Iya, kami mengerti. Kami tidak merasa direpotkan jika untuk kemajuan Moza, saya permisi dulu nak Arga. Sepertinya Moza sudah menunggu di ruang konsultasi" ucap dokter itu sopan lalu pergi.   Arga dengan segera menuju ruang konsultasi, ia tak sabar ingin bertemu Moza secara langsung.   Cklekk..   Arga membuka pintu biru muda itu, matanya langsung menangkap Moza yang duduk disana sambil didampingi seorang suster.   Pakaian gadis itu sudah berganti, dress merah marron tanpa lengan yang ia bawakan tadi. Sungguh cocok dan pas saat melekat ditubuhnya.   Di perhatikan nya Moza yang sedari tadi menoleh ke kanan dan kiri kebingungan. Matanya tertutup oleh selembar kain hitam, membuatnya tak dapat melihat apapun.   Arga berhenti tepat didepan gadis itu duduk, perlahan ia raih tangan dingin gadis itu dan digenggamnya. Kepalanya menoleh ke arah suster itu, memberinya isyarat agar bicara sesuatu.   "Moza.." panggil suster itu.   "Suster, siapa ini?" tanya Moza tiba tiba tanpa menjawab panggilan itu.   Suaranya tak seserak tadi, sudah hampir kembali seperti semula. Sedangkan Arga hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan Moza.   "Dia adalah orang yang ingin mengajak Moza jalan jalan cari udara segar..." jawab suster itu.   Moza mengerutkan alisnya sejenak, perlahan ia mencoba menarik tangannya yang berada dalam genggaman orang yang tak dikenalnya ini.   "Tidak, aku tidak mau! Dia laki laki kan?" ucapnya dengan nada sedikit tinggi.   Sejenak senyuman itu menyurut dari wajah Arga, dengan sedikit membuang nafas. Ia membalikkan telapak tangan Moza, ia menuliskan bahasa isyarat disana.   "Moza, kau ingat aku? Aku temanmu, ingat kau yang selalu menghiburku? Ingat kah kau yang selalu mengorbankan diri untukku? Ingat kah kau yang pernah memberiku teddy bear kecil kesayanganmu?"   Alis Moza lagi lagi menaut, ia memutar balikkan ingatannya. Kembali dalam masa kecilnya yang sebenarnya ingin dia lupakan.   Sebentar ia ingat tawa kecilnya bersama seorang anak laki laki. Bagaimana gembiranya ia saat itu.   "Aku tidak ingat" jawab Moza.   "Baiklah, aku tidak memaksamu untuk ingat. Setidaknya bisa kau ikut aku jalan jalan, aku sedih melihatmu tersiksa dalam ruangan putih itu"   Sebenarnya jawaban itu cukup membuat Arga kecewa di dalam hati. Moza melupakannya, cukup untuk menyakitinya lagi.   Moza akhirnya mengangguk, ia percaya pada ucapan itu. Dia memang pernah merasakannya, namun tertutup oleh traumanya.   . . .   Moza di gandeng dan dibawa jalan perlahan setelah keluar dari mobil. Udara sejuk dengan aroma tanah basah itu begitu tercium menyengat.   Moza bingung, ingin ia rasanya membuka penutup mata ini. Namun sedari tadi ditahan oleh orang itu.   "Dimana?"   "Dihutan, kau suka aromanya?"   "Iya, enak..."   "Baguslah kalau kau suka, aku jadi senang sekarang"   "Kenapa kau mengajakku jalan jalan? Kau tidak ada maksud lain kan?" tanya Moza menyelidik.   "Tentu tidak ada maksud lain. Sudah kubilang bukan, aku ini temanmu. Berapa tahun sudah aku tak bisa menggandeng dan mengajakmu bicara seperti ini. Aku sangat senang sekarang, sangat..."   "Siapa namamu?"   Arga tersenyum mendengar pertanyaan itu.   "Nanti kau juga ingat sendiri... Mocha" Ingin sekali Arga tertawa melihat wajah kebingungan Moza. Setidaknya hari ini pertemuannya sangat lancar. Hutan yang ia pesan pun sangat melancarkan segalanya.   Kepalanya mengadah ke atas, menatap bintang juga bulan yang ikut menyaksikan teman kecilnya kembali padanya. Kalau saja bisa, ia ingin menghentikan waktu sejenak agar Moza tak cepat kembali ke rumah sakit itu.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN