14. Angry
Brakk!!
Pria itu seketika berdiri sambil menggebrak mejanya sangat keras. Tertelan oleh amarhnya sendiri yang meletup hebat.
"Useless! I’m just asking you to watch him, and you lose it?” teriak pria itu marah hebat.
(Tidak berguna! Aku hanya meminta kalian untuk mengawasinya, dan kalian kehilangannya?)
Rahangnya mengeras, alisnya menaut, matanya terlihat memerah, dan uratnya mulai keluar semua.
Semua orang yang berada disana seketika berlutut ketakutan. Serentak kepala mereka menunduk, tak berani menatap sedikit pun wajah mengerikan pria itu.
Gigi pria itu bergemeletuk, seakan ingin memakan semua orang itu sekaligus.
"Quickly do a search!” perintah pria itu namun tampak tak diubris.
(Cepat lakukan pencarian!)
Mereka semua berlutut ketakutan disana, mematung seakan ada paku yang menancap di kaki mereka.
Doorr?
Bruk..
Seketika salah satu dari orang orang itu tergeletak. Kepalanya mengucurkan darah setelah 1 peluru lepas dari senapan pria itu.
Tak akan ada yang menangkap apalagi menahan pria itu. Negara yang di tempatinya itu terlalu bebas. Bahkan sudah menjadi hal umum jika semua warga disana memiliki senapan, jadi pembunuhan adalah hal yang wajar.
"If you keep silent, you will die right now here too" ancam pria itu tak main main.
(Jika kalian tetap diam, kalian akan mati sekarang juga disini)
"Yes sir" ucap mereka serempak dengan gelagapan dan langsung berlari keluar dari ruangan itu.
Pria itu membuang nafasnya kasar lalu kembali duduk di kursinya. Ia menyimpan senapan itu kembali didalam laci mejanya.
Lumayan lama mata tajam pria itu mengamati salah satu bodyguardnya yang tewas ia tembak sendiri. Pria itu tersenyum miring sejenak, ditekannya sebuah intercom di mejanya.
"Good night, sir. Is there anything I can help?”
(Selamat malam, tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?)
"Clean my room, make sure there is no fishy odor left. And burn the corpse in the factory burning"
(Bersihkan ruanganku, pastikan tidak ada bau amis yang tertinggal. Dan bakar mayat itu dipembakaran pabrik)
"Yes sir, I’ll do it"
(Baik Tuan, akan saya laksanakan)
"Yes, is there information about all our signals? There’s no way my doll can escape from me, unless there is a freat person who helps him"
(Iya, apa ada informasi tentang semua sinyal kita? Tidak mungkin bonekaku itu bisa melarikan diri dariku, kecuali ada orang hebat yang membantunya)
"I got word 1 minute ago. 2 of our informants were killed, dan 2 others disappeared. That caused our signal there to be disconnected, sir"
(Saya mendapat kabar 1 menit yang lalu. 2 informan kita terbunuh, dan dua lainnya menghilang. Itu yang menyebabkan sinyal kita di sana terputus, Tuan)
"But the lastest news arrived here. Miss is rampaging in her isolation cell"
(Namun, kabar terakhir yang sampai kemari. Nona sedang mengamuk di sel isolasinya)
Dahi pria itu sedikit berkerut mendengarnya. Tampak sedikit tidak suka dengan informasi dari asistennya.
"Isolation?" tanya pria itu lagi.
(Isolasi?)
"Yes sir. They put the miss in a solitary cell. Miss relapsed very badly at that time"
(Iya, Tuan. Mereka menaruh Nona di ruang sel isolasi. Nona kambuh sangat parah waktu itu)
"How dare they put my doll there! And why are there no reports of isolation? They are not honest with me!"
(Berani sekali mereka menaruh bonekaku di sana! Dan kenapa tidak ada laporan mengenai isolasi? Mereka tidak jujur kepadaku!)
"I’m sorry sir, sorry if they lie to you. We will immediately find new, more reliable informants"
(Maafkan saya Tuan, maaf jika mereka berbohong kepada anda. Kami akan segera mencari informan baru yang lebih handal)
"Once again forgive me also those who are useless sir"
(Sekali lagi maafkan saya juga mereka yang tidak berguna itu tuan)
"Ok, but if there is something like this again. I’ll kill them now! They could have made my doll wretched!"
(Baiklah, tapi jika sampai ada kejadian seperti ini lagi. Akan kubunuh dia sekarang juga! Dia bisa saja membuat bonekaku celaka!)
"Yes sir, I understand. Thank you for the opportunity, excuse me"
(Iya Tuan, saya paham. Terima kasih atas kesempatannya, saya permisi)
Pria itu melepaskan jarinya dari tombol intercom itu. Lagi lagi giginya bergemeletuk, menahan amarahnya agar tidak meledak hebat.
Tak lama tawa mengerikan terdengar. "Really dare you now, you drive me crazy"
(Sungguh berani kau sekarang, kau membuatku gila!)
.
.
.
Moza bangun dari tidurnya dengan keringat yang membasahi pelipisnya. Nafasnya tersenggal senggal, pria itu kembali datang dalam mimpinya.
Tubuhnya meremang ketakutan, sungguh takut. Mimpi yang mengingatkan dirinya akan pemberontakannya waktu itu, hingga tanpa perasaan pria itu langsung mendorongnya jatuh dari balkon lantai 2.
Ia meringis saat mengingat betapa sakit lengan tangan kanannya yang patah waktu itu. Bahkan saat ia menangis merasakan lengannya itu, pria itu malah tersenyum melihatnya dari balkon. Tidak berniat menolongnya sama sekali.
Seolah menunggu lukanya itu sampai membusuk. Lalu datang sambil mengatakan “My doll, I can help you”.
Moza meraba raba sekitar, tidak ada orang atau benda apapun. Perlahan ia membuka penutup matanya. Kini Moza melihat sekitar dengan bingung, ia tidak tau sekarang berada dikamar siapa.
Apalagi hanya ada dirinya di kamar, membuatnya semakin linglung. Ia turun dari tempat tidur itu lalu berjalan keluar dari kamar bernuansa serba kayu ini.
Matanya menatap sekeliling takjub, rumah ini terasa dingin juga sejuk walau hanya ada beberapa jendela yang bisa terbuka.
Namun langkahnya berhenti tiba tiba saat melihat sepasang kaki dengan kaos kaki yang masih menempel itu dari balik sofa. Perlahan ia mendekatinya, ia jadi penasaran akan siapa yang mau mengajaknya jalan jalan seperti ini.
'Tidur?' batin Moza.
Cowok itu tidur dengan posisi miring, tangan yang bersedekap juga kepalanya sedikit menunduk. Moza ikut menunduk, ingin melihat siapa dia.
Aneh, ia tak takut sama sekali. Moza malah menatap linglung cowok itu.
'Sepertinya pernah lihat, siapa?' pikirnya bingung.
Jangan salahkan Moza jika gadis itu memang pelupa akut. Bahkan dia terkadang melupakan nama nama adiknya di panti.
Panti?
Mengingat rumahnya itu, ia jadi ingat Reno. Sudah berapa lama ia tidak pulang, pasti Reno sangat mencari carinya.
Ia jadi ingat betapa manja namun pemalunya Reno jika bersamanya. Selalu meminta dibuatkan camilan, meminta menungguinya tidur, terkadang berbohong karena malu ingin mengatakan apa yang dia inginkan.
Moza jadi tersenyum sendiri mengingat adiknya yang satu itu. Terlihat cuek namun sangat manja dengannya.
Matanya kembali melirik cowok itu yang tertidur sangat pulas. Kini pandangannya pada jam dinding yang menunjukkan pukul 03:15. Diluar masih gelap, dan Moza tidak mungkin keluar pada jam seperti ini.
Bahkan dimana ia berada saja Moza tidak tau. Moza pergi dari ruangan yang ia ansumikan sebagai ruang tamu itu. Ia berjalan menjelajahi semua ruangan dari rumah yang ternyata sangat luas itu.
Hingga pada akhirnya, kakinya itu berhenti tepat di dapur. Disana juga ada meja makan kayu dengan taplak putih juga bunga lily didalam vas penuh air.
Moza jadi haus sekarang, dengan hati hati ia mengambil gelas itu lalu mengisinya dengan air matang yang ada dibeberapa botol diatas meja makan.
Swis..
Moza terkejut saat tiba tiba saja pria itu muncul dari balik gorden. Dengan reflek ia juga melemparkan gelas beserta airnya itu ketembok.
Pyar!
Tubuhnya mulai gemetar ketakutan lagi, wajahnya mulai memucat bersamaan dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya.
Moza langsung jatuh terduduk dengan ketakutan. Ia memeluk dirinya sendiri sambil meremat lengannya masing masing, tangannya terlihat bergetar hebat bersamaan dengan tubuhnya yang seakan menggigil.
"Pergi!"
‘Let’s go home, my doll’
"Aku tidak mau! Pergi!!" ucap Moza ketakutan sambil menangis sesenggukan.
‘You’re not sorry for me? What if I just kill you friend?’
"Tidak, pergilah..." ucap Moza putus putus. Ia benar benar ketakutan, bahkan saat pria itu mulai mendekat dengan bekal gunting di sakunya.
‘The longer, you are getting naughty! Go home or this scissors huet you’
Moza beringsut mundur melihat itu, pria itu tiba tiba mengeluarkan gunting disakunya. Yang bisa dipastikan jika gunting itu akan menggores kulitnya perlahan, membuat cairan merah kental berbau anyir itu menetes.
"Tidak!!!" teriaknya sambil memejamkan mata.
Bahkan sebelum ia memejamkan mata, pengelihatannya sudah menghitam. Ia masih tetap menangis, dapat dia rasakan tangan seseorang telah menutup matanya rapat rapat.
"Shuut, Mocha disini aman. Tidak perlu takut dia akan datang menyeret Mocha pulang" ucapan bernada lembut juga panggilan aneh itu kembali memasuki pendengarannya.
"Mocha disini aman..."
Kata itu mengiang di benaknya, ia masih tetap menangis. Ia tak menyangka semua akan jadi serumit ini, padahal masalah sebenarnya adalah dirinya.