20. Moza house
Tak ada yang janggal dari tempat itu, namun melihat wajah kebingungan dan terkejutnya itu pasti membuat orang yang melintas penasaran dan bertanya tanya.
Royyen masih menampilkan raut itu setelah setengah jam sampai dan masih duduk di atas motornya. Dia bahkan menatap alamat yang tertera di kertas lalu menatap alamat bangunan itu hampir 20 kali. Namun raut kebingungan itu bahkan belum menghilang dari wajahnya.
Sesekali dia bahkan menatap papan bertuliskan kata “Panti Asuhan” terkejut.
Namun Royyen lebih terkejut lagi saat seorang wanita menghampirinya dan bertanya. “Ada yang bisa saya bantu?” dengan nada yang sedikit ragu.
“A, apa ini, rumah Moza?” tanya Royyen setelah menatap kehadiran wanita itu terkejut.
“Iya benar, temannya Moza ya? Kenapa disini, ayo masuk kalau begitu” ucap Moni sambil mempersilahkan Royyen untuk masuk kedalam bangunan itu.
Wanita itu tersenyum kecil kearah Royyen lalu membukakan gerbang untuknya. Royyen membalas senyum itu lalu turun dari motornya dan menitih motor besar itu masuk kedalam.
“Namanya siapa?”
Setelah menepikan motornya Royyen mengaruk tenguknya canggung. Dia tidak tau dan tidak kenal dengan wanita ini.
‘Apa dia pemilik panti ini?’ batin Royyen kebingungan.
“Royyen, tan” balasnya sambil memberikan cengiran tak jelasnya.
Wanita itu hanya tersenyum, lalu menepuk pundak Royyen pelan. “Tidak usah terlalu formal, semua temannya Moza wajib panggil bunda. Okey?” tuturnya lalu berjalan mendekati bangunan itu dan membuka pintu.
Royyen hanya terdiam, dia hanya mendekati wanita itu. Mempersilahkannya masuk ke dalam dan duduk di sofa empuk diruang tamu.
“Ngomong ngomong, kamu teman Moza yang pertama kali kesini loh. Bunda kira, Moza disana gk punya teman kerena gk pernah cerita apa apa soal sekolahnya” ucap wanita itu terdengar sedih di akhir kalimat, ingat dengan Moza yang memiliki arrhenphobia dan skizoafectif.
Royyen mulai panik, keringat dingin mulai keluar di sudut pelipisnya. Tidak mungkin bukan kalau Royyen bilang Moza memang tak memiliki teman satupun di sekolahnya selama 2 tahun ini. Dia tak ingin melihat wajah kecewa wanita itu, karena wanita itu sangat baik dan lembut kepadanya.
Dia tak berani menajawab ucapan wanita itu, Royyen hanya diam membisu sambil mengalihkan pandangannya.
“Eh, ayo diminum tehnya. Bunda panggilin Moza dulu ya”
Wanita itu pergi dari hadapan Royyen, membuatnya yang sedari tadi seperti menahan nafas sekarang bisa bernafas dengan tenang.
Royyen mengusap dadanya sambil sedikit bersyukur. Tak menyadari jika ada bocah kecil yang berdiri di samping tempatnya duduk sambil menyeruput tehnya hingga habis tidak tersisah.
Royyen yang baru saja menoleh kekanan langsung terkejut melihat ada sosok bocak kecil yang dengan santai meminum teh untuknya.
Clak...
Bocah itu menaruh cangkir kosong tadi di atas piring kecilnya lagi. Lalu tatapannya mengarah ke Royyen dengan wajah kebingungan.
“Capa?” ucap bocah itu dengan polosnya.
Tanpa merasa bersalah setelah menghabiskan teh yang seharusnya untuk dirinya. Royyen hanya bisa tersenyum maklum.
“Kakak temannya kak Moza” jawab Royyen lembut.
Gadis kecil itu mengangguk antusias sambil bergumam kata oh yang panjang. “Namaku Lia” ucapnya.
Royyen ikut tersenyum, dia jadi gemas melihatnya. Selagi menunggu Moza datang, pada akhirnya Royyen bertanya tanya sambil beberapa kali bergurau dengan Lia yang terlihat senang dengan kehadirannya.
“Rafa?” panggil Moza yang barusaja datang, gadis itu menatap Royyen lalu Ria secara bergantian lalu tersenyum senang.
“Kalian kelihatannya sudah akrab ya, kenapa Ria tidak memanggil kakak” ucap Moza gemas sambil mengambil Ria untuk digendongnya.
“Dia tiba tiba datang dan meminum tehku” ungkap Royyen seketika membuat anak kecil tersebut cemberut.
“Tidak, Lia menemukan tehnya” sangkal anak itu menggeleng gelengkan kepalanya.
Sontak hal itu membuat Moza juga Royyen tertawa. “Lain kali jangan mengambil milik orang, oke. Itu tidak baik” jelas Moza membuat Ria mengangguk pelan.
“Oh, benar. Bagaimana kau bisa tau aku tinggal disini, Rafa?” tanya Moza melupakan sesuatu yang ingin dia tanyakan melihat Royyen tiba tiba berada dirumahnya.
“Aku menanyakannya kepada bu Riska saat disekolah tadi” jawab Royyen membuat Moza terbelak tidak percaya.
Jika bu Riska berani memberikan alamat rumahnya kepada Royyen begitu saja, itu berarti wanita tersebut percaya dengan Royyen.
“Sungguh, aku senang jika bu Riska percaya kepadamu” ucap Moza senang.
“Kak Moca mau kemana?” tiba tiba Ria menyela perkataan Moza sambil menatapnya bertanya tanya.
Tersenyum, Moza menjawab. “Tidak kemana mana Ria, cuma disini saja. Main sama yang lain”
“Ria kalau mau, bisa panggil yang lain. Sudah waktunya istirahat” imbuh Moza sambil menurunkan Ria dari gendongannya.
“Um, Lia mau” anak itu langsung berlari bergi begitu saja, masuk kedalam sambil meneriaki anak anak lain.
Membuat Moza dan Royyen lagi lagi tertawa dengan tingkahnya yang lucu menurut mereka.
Beberapa menit setelahnya semua anak dipanti datang menatapi Royyen dengan wajah kebingungan, pada dasarnya mereka memang sangat jarang melihat seseorang pergi hanya untuk mengunjungi panti ini.
“Perkenalkan ini teman kakak, Rafa” ucap Moza memperkenalkan Royyen kepada semua anak dipanti.
Pada awalnya tidak ada satupun dari mereka yang berani mendekati Royyen kecuali Ria, namun karena Moza tidak menyukai suasana canggung seperti ini. Gadis itu menggandeng tangan Reno dan menuntunnya menuju ketempat dimana Royyen berdiri.
Royyen yang awalnya kebingungan kenapa Moza menuntun anak itu untuk mendekatinya akhirnya mengerti, Royyen pun juga mendekati anak itu lalu berjongkok dihadapannya. Setelah benar benar sampai dihadapan Royyen, Moza membiarkan Reno meraba raba wajah Royyen.
“Bisa kakak jaga kak Moza saat disekolah?” pinta Reno setelah meraba raba wajah Royyen.
Mengangguk, Royyen menjawab. “Tentu saja, aku akan menjaga kakak kalian ini. Apapun yang terjadi” ucap Royyen dengan wajah penuh keyakinan.
Tanpa diduga Reno tersenyum. “Terima kasih” ucapnya lembut.
Setelah itu anak anak lain baru berani mendekati Royyen sambil menanyakan banyak hal dan mengajaknya bermain.
Mereka semua bermain dihalaman belakang panti dengan senang, bahkan tidak hayal sikembar sampai memperebutkan Royyen untuk diajaknya bermain. Membuat Moza yang memperhatikan dan duduk disamping Reno tertawa kencang.
Reno yang mendengar tawa kakaknya pun ikut tersenyum senang, dia sangat senang dengan kakaknya yang terus tertawa bahagia. Bukan merenung memikirkan berbagai macam ingatan kelamnya dimasa lalu.
Ia pun tau, jika saat dirinya sudah besar nanti pasti ada kemungkinan kakaknya itu akan takut kepadanya. Jika arrhenphobia yang kakaknya derita belum juga sembuh, selain itu apa yang bisa dilakukannya saat tidak bisa melihat apapun.
Maka dari itu dia sangat senang saat tau kakaknya memiliki teman yang dapat dipercaya, Reno hanya berharap satu hal kepada Royyen. ‘Semoga kakak tidak mengingkari janji’ pikir Reno.