Ekspresi wajah Arman berubah masa mendengar ejekan kakak iparnya-Ilham. "Kenapa tidak sekalian saja menara Eiffel yang diminta? Kalau cuma kereta api, itu masih gampang," ketus Arman. Maira dan yang lainnya langsung menoleh ke arah Arman. "Kan cuma bercanda, kenapa kamu ketus sekali Man?" tegur sang papa. "Tau nih Om, kayaknya Arman lagi dapet deh," ledek Ilham semakin menjadi-jadi, disertai gelak tawa. Arman beranjak dari tempatnya, ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali. Kakinya terus berjalan menuju kamar miliknya. "Mai, Arman kenapa?" tanya Ilham, tiba-tiba saja merasa bersalah. "Entah Kak, aneh!" sahut Maira, mengerutkan keningnya. Baru beberapa saat mereka menceritakan keanehan Arman. Tiba-tiba saja dari arah kamar terdengar suara Arman, seperti orang yang sedang muntah.

