Maira meraih kasar handuk itu. Kakinya menghentak, rasa kesal benar-benar membuat suasana hati wanita yang baru saja dinyatakan hamil itu panas. "Sayang, kamu marah?" Arman mencoba mengejar Maira. Namun, pintu kamar mandi sudah lebih dulu tertutup rapat. 'Ah, sial! Maira marah beneran. Bagaimana ini? Aku kan cuma bercanda,' sungut Arman, mengusap wajahnya kasar. Hampir setengah jam berlalu, Arman masih setia berdiri di depan pintu kamar mandi. Pria berusia matang itu sudah terlanjur bucin pada Maira. Semuanya akan dia lakukan, agar istri tercintanya berhenti merajuk. "Sedang apa? Kenapa masih di sini?" tanya Maira, saat pintu kamar mandi terbuka. Handuk melilit menutupi setengah badannya. Melihat itu, Arman hanya bisa meneguk air liurnya kasar. Kakinya melangkah maju, mendekat ke ar

