Arman menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kata-kata ibunya, benar-benar membuatnya malu, apalagi saat di depan kedua mertuanya. "Masa iya Arman melihat sampai ke dalamannya, Ma? Aneh-aneh saja!" Bela sang ayah. "Kan nggak papa Pa. Maira istrinya, sah-sah saja dong. Iya nggak bu Besan?" ujar ibu Arman, meminta dukungan dari ibu Maira. Ibu Maira hanya mengangguk lalu tersenyum. Ia tak menyangka mempunyai besan yang begitu narsis dan heboh. Berbeda sekali dengan besannya dari mertua Ilham yang pendiam. "Nah, ibunya saja tidak masalah," Sambung ibu Arman, merasa benar. "Sudahlah Ma, aku mau ke kamar dulu bujuk Maira!" sahut Arman, setelah berpamitan, ia menyusul Maira ke kamar. Sesampainya Arman di depan kamar, pintu kamar dalam keadaan terkunci dari dalam. Beberapa kali ia mengetuk pi

