Kita buktikan saja!

1024 Kata

Nafas Bima memburu, tangannya terus memegang bagian pipi yang terasa kebas, dan mengeluarkan sedikit darah. Bogem mentah Arman, benar-benar terasa sakit sekaligus membuatnya malu. "Apa yang kau lakukan hah? Dasar pengembala sialan!" pekik Dania, menerjang Arman. Bukannya jatuh, Arman hanya sedikit terhuyung. Maira tak banyak bereaksi. Dia masih sangat syok menghadapi masalah ini. Semua pihak terseret karena keegoisan Dania yang begitu membencinya. "Dania! Cukup!" sentak sang ibu, menarik kasar tangan Dania, menjauh dari Arman. "Kamu kenapa? Kenapa senang sekali membuat keributan? Ini bukan di rumah, yang kamu bebas membuat keributan apapun. Ini rumah orang tua Arman, mertua Maira, adik kamu. Apa kamu mau membuat keluarga ini malu dan tidak ada muka lagi?" bentak sang ibu, suaranya ter

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN