Jenaka membeku sesaat, pertama dia penasaran siapa calon jodoh yang Rangga maksud? Yona kah? Kalau iya, dia akan sangat senang, haruskah sekarang dia mendaaftar untuk ikut di barisan si Jule yang akan mencie cie kan Yona di setiap kesempatan? Meski dia agak khawatir dengan keselamatan mental Yona kalau nanti menjadi istri dari serangga yang suka menggigit dengan kata-katanya ini. Ah tidak, kalau sama Yona sepertinya level ketajaman kalimatnya bisa ditawar-tawar sedikit. Yang kedua, kenapa Pak Rangga senyum-senyum sendiri sejak tadi? bukannya membukakan kunci otomatis untuknya, seindah itukah bayangan tentang si jodoh sampai dia lupa masih terlalu siang untuk berkhayal yang bukan-bukan. “Saya pamit, Pak, terimakasih tumpangannya.” Jenaka merapikan rambutnya dan menyandang kembali ransel

