Jenaka Vawa
Namanya Jenaka, namun akhir-akhir ini arti nama itu sendiri sedang tidak berpihak padanya, hidupnya sungguh seram, tidak ada lucu-lucunya. Sepagi ini saja dia harus menghadapi runtut situasi yang kian runyam, Ibu kost menagih uang kos-kosan, Mama mengomel tidak ada ujungnya, dan siang ini mendapat surat peringatan drop out dari fakultas.
“Di mana susahnya, Jen? Ayo kita selesaikan sama-sama.” Itu Dirga, pacar si Jen. Mereka pacaran sudah tiga tahun, kalau kredit motor mungkin sudah lunas, tapi Dirga ini sultan, punya mobil banyak, jadi tidak mungkin beli barang kalau tidak kontan. Ini saja mereka sedang di dalam mobilnya Dirga menuju kampus untuk mengambil surat itu.
Dirga sudah lulus dua tahun lalu, sekarang dia membantu usaha perhotelan sang Ayah, usia mereka hanya terpaut satu tahun, secara finansial Dirga sudah sangat siap menikahi Jen, sudah sering Dirga melamarnya, tapi Jenaka tidak pernah menanggapi, antara sok jual mahal atau takut tidak direstui.
Jenaka diam saja saat Dirga bertanya, di kepalanya berputar omelan sang mama yang mengancam akan mencoret namanya dari kartu keluarga kalau tahun ini Jenaka tidak wisuda. Bagaimana tidak, waktu minta diizinkan kuliah di kota Batam, Jenaka merayu sang ayah dengan begitu manis, berjanji akan menjadi gadis yang baik dan akan sungguh-sungguh berkuliah karena ingin merasakan bagaimana jadi mahasiswa di perantauan, oh ya keluarga Jenaka tinggal Pekan Baru, sekitar satu setengah jam jika ditempuh dengan pesawat dari kota Batam.
Salahnya, selama di Batam bukannya kuliah, dia malah melampiaskan kebebasannya seperti burung yang baru lepas dari sangkar. Melebur dengan hiruk pikuk pergaulan kota metropolitan, hingga kuliah jadi nomor sekian. Dengan fasilitas yang diberikan, uang saku yang rutin dikirim setiap bulan, gadis yang setiap bulan mengganti model dan warna rambutnya itu bersenang-senang, belanja, nonton konser hingga pergi ke luar negeri bersama teman-temannya.
Sekarang teman-temannya itu sudah lulus semua, ada yang sudah berkeluarga, tinggallah Jen dengan skripsi yang tidak juga selesai hampir dua tahun lamanya. Orang tuanya kecewa pada Jenaka, Mama dan Papa sudah memutus semua fasilitas untuk Jen sejak tahun lalu dan meminta Jen kembali ke Pekanbaru, tapi Jen berkeras akan menyelesaikan kuliahnya, bukan karena dia idealis, tapi karena dia lelah kalau harus mengulang dari awal, sedangkan Derana, adiknya Jen yang arti namanya lebih sedih saja sebentar lagi sudah mengambil program master di luar negeri.
“Nggak ada yang perlu disesali, Jen. Ada aku, ayo kita selesaikan sama-sama.” Dirga ini tipe lelaki yang sangat menjaga, lembut dan bertanggungjawab, wajahnya yang berparas agak ketimuran menambah daftar kesempurnaan dalam dirinya.
“Selesaikan sama-sama, aku yang kerjain kamu yang bimbingan, ya?” Akhirnya Jenaka bersuara.
“Kalau dospingmu nggak keberatan sih aku oke-oke aja.” Tuh kan Dirga memang baiknya kelewatan.
“Nah itu masalahnya. Aku aja udah lupa kapan terakhir kali bimbingan.” Jenaka mencari nama dosen pembimbing di kontak ponselnya, masih ada puing-puing sisa percakapan mereka.
“Maret 2019,” gumamnya kecil.
“Udah hampir setahun, tuh. Sudah selesai BAB IVnya?” tanya Dirga, Jenaka mengangguk, BAB IV memang sudah dia selesaikan dengan tempo sesingkat-singkatnya tadi malam.
“Yaudah, ayo ketemu beliau, siapa?”
“Pembimbing satu, Pak Rangga. Kamu tau kan killernya bapak itu.” Jenaka tidak sanggup membayangkan betapa dosen pembimbingnya itu benar-benar hanya bicara secukupnya, tanpa ekspresi seolah mahasiswa bimbingan adalah manusia paling nista di dunia.
“Aku pernah dapat kelas beliau, enggak killer lah, lebih ke tegas dan sungguh-sungguh. Idealis, kaku, memang agak mudah tersinggung sih orangnya, tapi sangat professional. Kalau menurut aku malah beruntung dapat dia sebagai dosping, karena dia akan membaca penelitianmu secara detail, meski berat di awal tapi nanti di meja sidang kamu akan lebih mudah.”
Dirga tau ceramahnya barusan tidak akan ditanggapi dengan benar oleh Jenaka.
“Dahlah, aku pasrah aja. Mana Ibu kos merong-rong, belum jatuh tempo udah nagih uang kosnya, indomie yang kamu beli kemarin tinggal beberapa biji aja.” Kali ini suara Jenaka sungguh menyedihkan.
“Apa aku jual sebelah ginjalku aja ya, Dir?” katanya memelas, tapi ada keseriusan dalam ekspresinya.
“Istighfar, Jen. Mending sekarang kamu telpon Pak Rangga dan janjian ketemuan buat ngajuin BAB IV.”
“Kamu aja yang teleponin, tolong!” rengek Jenaka, kalau dia berani, sudah dari tadi malam dia lakukan.
Dirga tersenyum mengambil ponsel yang Jenaka sodorkan padanya, panggilan sudah terhubung, tinggal menunggu jawabannya saja.
“Selamat siang,” jawab suara dari seberang sana. Dirga tersenyum lega, sedangkan Jenaka sembunyi dibalik punggung pacarnya, padahal dosen itu tidak akan bisa melihatnya.
“Selamat siang, Pak. Maaf mengganggu, saya Dirga. Saya mau menanyakan apakah Bapak ada di kampus sekarang?” ucap Dirga sopan.
“Dirga? Kamu mahasiswa saya? Rasanya ini kontak mahasiswa di bawah bimbingan saya, atau saya yang salah menamai kontaknya?” tutur Rangga dengan tegas.
“Oh ti--tidak, Pak. Memang benar ini kontaknya Jenaka Vawa, saya pacarnya, Jenaka minta bantuan saya menghubungi Bapak, apa Pak Rangga sedang di kampus? Jenaka mau mengirimkan skripsinya BAB IV, Pak.”
“Oh Cuma pacar, saya pikir Bapaknya. Suruh anak itu menghubungi saya langsung, kalian ini dua sejoli yang sungguh tidak sopan sekali.”
“Ah, baik, Pak. Nanti saya akan suruh Jenaka menghubungi Bapak langsung, Apa sekarang Pak Rangga ada di kampus?”
“Biar pacarmu sendiri yang cari tau, kamu juga mau-maunya diperbudak begitu. Kalian mau bimbingan berdua? Saya dosen, bukan petugas KUA,” ketus Rangga, “Selamat siang.” Rangga memutus panggilan.
“Tuh kan aku bilang juga apa,” cebik Jenaka, semakin cemas dengan nasibnya.
“Kamu liat sendiri kan, aku cuma nanya beliau di mana aja gak mau di jawab, apalagi kalau aku yang bimbingan, kita bimbingan berdua aja ke KUA nanti.”
“Plis, Dirga, bukan saatnya bercanda, aku harus gimana? Lagian dia syirik aja sih, efek jomblo kali ya, aku dengar-dengar Pak Rangga itu kan udah dua kali menduda, makannya dia sirik liat keharmonisan kita,” celoteh Jenaka masih kesal dengan kalimat Rangga.
“Bisa jadi sih, tapi yaudah lah, kamu sedang butuh dia sekarang, mengalah sebentar, ayo telpon lagi, tanyakan baik-baik apa kita bisa ketemu sekarang untuk bimbingan BAB IV. Waktu kamu hanya beberapa bulan, Jen,” jelas Dirga.
Jenaka menghela nafas seberat penyesalan yang sedang dia pikul sekarang. Tidak terlalu buruk, Rangga menyambut panggilan dengan normal tanpa ada sindiran atau sejenisnya, meski suaranya masih sangat dingin dan menyeramkan bagi Jenaka, setidaknya bisa sedikit lega karena Rangga menyetujui untuk bertemu siang ini pukul sembilan lewat tiga belas menit.
“Alhamdulillah, Semoga lancar ya, Sayang. Setelah ini kita belanja dan bayar kos kamu, ya.” Sejak fasilitas dari keluarga tidak Jenaka dapatkan, Dirga lah yang membiayai semua kebutuhan pacarnya, tapi sejak pekan lalu entah hidayah dari mana, Jenaka merasa dia sudah terlalu banyak menerima pemberian Dirga.
“Enggak mau ya, Dirga Shayuda, aku nggak mau berhutang lebih banyak lagi ke kamu. Udah cukup infaq dan sadaqohnya,” protes Jenaka.
“Sadaqoh?”
“Lalu apa? Nafkah? Kita belum nikah!”
“Yaudah ayo nikah aja, biar kamu nggak usah mikirin semua biaya lagi, biar aku jadi wajib bantuin kamu keluar dari semua ini.” Dirga memelankan laju mobilnya, digenggamnya tangan Jenaka, tatapannya teduh tapi mampu menembus pertahanan hati Jenaka.
Hal ini juga yang membuat Jenaka nekat memutus tali asupan materi dari pacarnya ini, karena semakin hari, Dirga semakin gencar mengajaknya kawin, Jenaka tidak mau menambah masalah baru, kuliah saja terbengkalai apalagi menjadi istri, bisa dibayangkan ekspresi papanya kalau Jenaka pulang-pulang minta kesediaan menjadi wali.
“Dirga, aku selesaikan masalahku satu persatu dulu, ya,” ucap Jenaka frustasi, sebenarnya dia luluh kalau mengingat pengorbanan Dirga selama ini, mungkin saja hidupnya akan baik-baik saja dengan menjadi istri dari lelaki ini, tapi bukan itu yang dia cari, Jenaka harus memberi pembuktian pada keluarganya, sebagai anak perempuan pertama, dia tidak mau membuat orang tuanya kecewa lebih dalam lagi.
“Semangat ya, Jen. Aku nunggu kamu sampai hari itu nanti.”
“Makasih, Sayang. Kamu masih mau sayang aku bahkan di saat aku aja udah mulai benci sama diri aku sendiri.”
“Saat kamu sedang benci sama diri kamu, ingat kamu gak sendiri, masih banyak orang yang benci kamu juga,” seloroh Dirga.
“Sialan kamu, Yang.” Jenaka mencubit kecil perut Dirga.