Rangga Fadhila

1077 Kata
Siang ini dia baru selesai rapat fakultas memutuskan beberapa nama mahasiswa yang harus mendapat surat peringatan, ada sekitar sepuluh mahasiswa dari fakultasnya, dan hanya ada satu orang wanita. Setelah dia teliti ternyata gadis itu adalah mahasiswa yang menghilang setahun yang lalu sebelum sempat menyetor BAB IV, Rangga menyesuaikan nama kontak yang pernah dia simpan dengan list nama yang tadi Dekan sebutkan. Tampaklah percakapan terakhir mereka. Mohon maaf, Pak belum bisa mengumpulkan BAB IV karena sedang berduka, kucing saya meninggal dunia. Sebelah alis Rangga yang tebal mencuat, dia baru ingat alasan aneh ini yang membuatnya enggan membalas pesan gadis itu, ternyata satu tahun berlalu tidak juga ada kabar dari gadis yang menghilang bersama d BAB IV penelitiannya. “Coba nanti abis dapat surat peringatan DO dia masih bisa ngarang alasan begini, nggak?” batin Rangga. Benar saja, tidak lama kemudian ponselnya berdering dari nama kontak yang baru saja dia lihat, dengan niat professional sebagai dosen pembimbing, Rangga menjawab panggilan itu dengan tulus, mungkin dicampur rasa iba dan kasihan, biaya semester di kampus mereka tidak murah, kasian kalau enam tahun benar-benar dilewatinya dengan titip absen saja. Rasa iba itu bias setelah Rangga mendengar bahwa yang menghubungi dengan nomor mahasiswi itu adalah pacarnya, selain karena jiwa jomblonya agak rentan, Rangga juga menganggap sejoli itu tidak sopan. Setelah memberi peringatan akhirnya Rangga menerima janji temu dengan Jenaka, sekali lagi karena masih ada rasa iba dan juga karena Jenaka terdengar seperti menyesali tindakannya. “Kamu masih ingat ruangan saya, kan? jangan lewat dari pukul sembilan lewat tiga belas, ya?” “I-iya, Pak. Saya dan Dirga akan datang tepat waktu.” “Kan tadi saya udah bilang, saya pembimbing skripsi, kalau mau bimbingan nikah langsung ke KUA aja. Datang sendiri, kayak mau ambil rapor aja kamu harus ditemenin wali murid.” Rangga tidak sadar yang dia ucapkan cukup membuat mental mahasiswinya tertekan, Jenaka adalah mahasiswi modal nekat, dia tidak punya keberanian yang stabil, ibarat daya listrik mungkin mentalnya hanya setara stabilizer 300 watt yang dipakai untuk banyak alat, jadi jika mau menyalakan tv maka colokan kulkas harus dilepas, ya memang selabil itu, sehingga ucapan Rangga berpotensi menggoyahkan semangatnya. Rangga melirik kalender akademik di mejanya, tidak ada agenda apapun akhir pekan ini, biasanya dia akan mengunjungi kedua putranya di Tanjungpinang dan akan kembali lagi ke Batam hari senin pagi. Kota Batam hanya berjarak 45 menit dari kota Tanjungpinang jika ditempuh dengan kapal Ferry. Dia segera mengambil kembali ponsel dan menghubungi Ibunya. “Razqa mana, Ma?” Rangga sedang bertanya pada Mama Suri, Ibunya. “Ada di kamarnya, Nak, baru pulang sekolah.” Razqa berusia tujuh tahun, kelas dua sekolah dasar. “Kasih tau dia aku pulang sebentar lagi, semoga bisa sampai sebelum shalat jum’at.” “Oh, iya, dia pasti senang. Nanti Mama akan minta Achy ke sini juga membawa Rendra ya biar kamu ketemu sama mereka.” Achy adalah ibu dari Rendra, anak kedua Rangga yang sekarang berusia dua tahun. Sedangkan Razqa adalah anak dari Runa istri sekaligus cinta pertamanya, sekilas orang akan menilai Rangga adalah playboy yang hobi celup dan menanam benih. Benar kata Jenaka, Rangga sudah dua kali menduda dan memiliki dua orang putra. Pernikahan pertamanya kandas karena intervensi orang tuanya sendiri, dia masih sangat mencintai Runa dan berusaha setengah mati untuk kembali mendapatkannya, tapi takdir berkehendak lain, Runa sudah bahagia dengan pilihannya, Rangga terhukum karena sikapnya yang mudah tersulut emosi dan sempat meragukan Runa. Sedangkan pernikahan kedua adalah jebakan dan rekayasa ibunya sehingga Rangga sama sekali tidak bisa mempertahankan rumah tangga yang terjadi tanpa cinta di dalamnya. Kedua mantan istrinya sudah memiliki kehidupan masing-masing, tapi mereka tetap berkomunikasi dengan baik karena terhubung oleh anak-anak mereka. Meski begitu dia adalah seorang ayah yang bertanggung jawab dan sangat menyayangi kedua putranya, apapun akan dia lakukan untuk buah hatinya, ya kecuali yang satu itu … kembali kepada salah satu ibu mereka. Sudah dua tahun sejak perpisahannya dengan Achy, Rangga berusaha menyembuhkan lukanya sendiri. Dia kembali ke Kota Batam dan membunuh waktu dengan semua pekerjaanya. Meski kadang iri dan perasaan jijik bercokol di hati jika melihat pasangan kekasih bermesraan di depannya. Namun, dia juga tidak suka dengan perempuan-perempuan agresif yang coba merayunya. Sudah lima belas menit berlalu dari pukul sembilan, Rangga mengirimkan pesan pada Jenaka dan bersiap untuk keluar. “Mau ke mana, Mas Rangga?” tanya Bu Fanda, dosen cantik teman satu ruangannya, salah satu nama yang Rangga catat sebagai wanita agresif terhadapnya. “Saya mau Pulang, ke Tanjungpinang, Oh ya, Bu. Nanti kalau ada mahasiswa saya datang, bilang dokumennya letakkan di meja saya, ya, tadi saya udah chat orangnya biar kirim email aja ke saya tapi sepertinya belum dibaca, permisi Bu Fanda.” Kalimat Rangga sengaja tidak dijeda agar Fanda tidak punya celah untuk mengajaknya bicara. Lengan kemejanya digulung setengah tiang, kelim di pinggang masih rapi di atas sabuk, dengan slip on kulit hitam mengkilat, Rangga melangkah tegas tanpa melihat ke arah Fanda lagi. Belum lama Rangga berlalu, seorang gadis berambut coklat pendek sebahu agak keriting di bagian bawahnya, ragu-ragu masuk ke ruangan itu. Tatapan matanya menyiratkan keraguan meski tidak ingin dia tunjukkan, dia sendirian, pacarnya dia tinggal di parkiran. Langkahnya pelan harena ada belenggu beban yang cukup berat, semoga dengan menyerahkan BAB IV satu beban bisa terurai, begitu pikirnya. Fanda refleks mengamati gadis itu, “Mahasiswa Mas Rangga, ya?” begitu katanya seolah ingin memberi tahu pada Jenaka bahwa dia memiliki hubungan khusus sehingga memanggil Rangga dengan sebutan ‘Mas.’ Jenaka mengangguk sungkan, “Benar, Bu.” “Mas Rangga udah pergi, letakkan saja di meja, ya.” “Apa?” perasaan takut seketika berubah menjadi jengkel, padahal dia hanya terlambat lima menit dari jam yang dijanjikan. “Kamu pasti telat kan?” "Iya, Bu, iya … udah dua tahun saya telat. Tapi ini kan janjiannya baru lewat lima menit doang. “Tadi katanya beliau ada chat kamu, coba baca dulu.” Sekarang rasanya Jenaka ingin melorot di ubin dan menggesek-gesekkan kakinya. Belum apa-apa Rangga sudah memberikan tanda bahwa dia akan dipersulit, Jenaka tetap membuka ponselnya, benar saja dosennya itu sudah memberi pesan. Usahakan datang tepat waktu, karena kalau kamu terlambat, maaf saya harus segera ke pelabuhan. Dokumennya boleh diletakkan di meja saya, pdfnya kirimkan ke email saya sekarang juga, saya akan koreksi secepatnya. “Allahuma Bariklana Fiima razaqtana Wakina ‘adzabannar,” lirih Jenaka hampir menangis. “Kenapa malah baca doa makan?” “Rasanya emang pengen saya telan aja ini skripsinya, Bu!” “Duh kasihan, mana masih muda,” ucap Bu Fanda menggeleng-gelengkan kepalanya yang bersanggul rapi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN