Dosen Pembimbing I

1666 Kata
Dengan tampang malas, Jenaka kembali ke mobil Dirga, rasanya ingin sekali menangis sekencang-kencangnya tapi tidak bisa, karena dia hanya labil bukan cengeng. Mau mengumpat pun tidak akan mengubah keadaan, salahnya sendiri satu tahun tidak memberi kabar dan baru datang saat waktu sudah tinggal sebentar. “Udah, Sayang. Justru bagus loh, kamu enggak perlu bimbingan tatap muka. Kamu kirimkan saja file itu segera ke email Pak Rangga, aku yakin pasti dia baca,” hibur Dirga. “Bukan masalah baca atau engga, tapi kenapa dia mempermainkan kita? Kan cuma lima menit telatnya. Jangan karena aku butuh dia sekarang, dia bisa seenaknya mempermainkan aku.” Jenaka hanya bisa bicara panjang lebar begini di depan Dirga, mumpung yang dihadapi adalah Dirga dia ingin mengomel sepuasnya. “Mungkin emang waktu dia Cuma segitu. Nggak bisa samain dia sama kamu.” Kemudian Dirga menyesal mengucapkan itu, lihat saja mata Jenaka sudah siap memakannya. “Enggak, maksud aku waktu kita, sayang. Sabar … sabar … aku tau kamu kesal, jangan aku dong jadi pelampiasan.” “Huh, Aku mau cari kerja, Dir. Kamu nggak boleh ngasih infaq sadaqoh lagi pokoknya.” “Iya … iya enggak, tapi kalau traktir makan siang masih boleh dong?” Jenaka tampak berpikir, mau ditolak tapi perutnya berontak, sepagi tadi hanya minum soya sisa tadi malam, belum makan. “Boleh deh tapi hitungannya menyantuni ya ini, bukan sadaqoh?” “Terserah kamu aja deh, Jenaka … Jenaka …” Dirga menempelkan telapak tangannya ke kening Jenaka yang lebar. “Apa aku melamar kerja jadi kasir indomaret aja, Dir?” kata si Jenaka saat melewati minimarket biru kuning. “Jangan, nanti bawaanya aku pengen isi pulsa,” seloroh Dirga. “Serius, Dirga!” cebik Jenaka. “Kenapa sih mau kerja segala, ini skripsinya selesaikan dulu.” “Ya buat bayar semester sama daftar sidang lah, belum lagi nanti wisuda. Kerja apa yang cepet dapat duitnya, Dirga?” Jenaka mulai mendorong-dorong lengan Dirga yang sedang menyetir. “Apa Aku open BO aja?” celetuknya tak sengaja, Dirga menarik tuas rem sekuat tenaga sehingga tubuhnya juga Jenaka terguncang. “Jenaka!” “Ya … ya … ya canda, Dirga. Maaf … maaf,” sesal Jenaka menarik nafas berat, tidak menyangka reaksi Dirga tentang rencana gilanya. “Jalan, Dir … jalan, jadi mau ngasih santunan nggak?” Dirga menghela nafas berat melajukan kembali mobilnya. “Kalau kamu butuh pekerjaan, aku bisa rekomendasikan di kantor Ayahku. Atau kantor perusahaan Pamanku di Tanjungpinang, mereka berdua sama-sama pengusaha perhotelan.” “Ardhi grup maksud kamu?” Dirga mengangguk, Ardhi grup adalah perusahaan keluarga Dirga yang bergerak di bidang perhotelan, saat ini Dirga menjadi salah satu pengelola. “Aku nggak mau nepotisme. Pokoknya mau usahaku sendiri.” “Entahlah, aku bingung menghadapi kamu.” “Kamu nggak lupa kan? bahu anak perempuan pertama itu sekuat apa?” ucapnya sok bijaksana, padahal bahu itu rasanya udah lama mau tumbang karena standar yang disandarkan keluarga. “Aku udah masukan email ke bursa kerja, semoga aja ada panggilan dalam waktu dekat, kerjaan yang bisa aku kerjakan sambil menyelesaikan laporan penelitian. Memperbaiki hidup ini perlahan.” Kilat mata Jenaka optimis menghadap ke depan. “Aku tunggu kamu pokoknya.” Kalimat pamungkas yang akan membuat mereka berdua kembali saling mendukung. Hidung Jenaka kembang semakin lebar. “Eh sini aku kirimkan email kamu ke Pak Rangga, mumpung masih ingat.” Dirga meminta ponsel Jenaka saat mereka sudah tiba di parkiran sebuah resto. Dengan senang hati, Jenaka menyerahkan sepenuhnya tugas itu kepada Dirga. Belum sempat menulis alamat tujuan email itu, Dirga terkejut melihat barisan email yang ada di kotak masuk. “Pasar gelap jual beli organ,” ejanya perlahan sambil menghujam tatapan ke arah Jenaka. Merasa tertangkap basah, Jenaka segera merebut kembali ponselnya. “Jen, kamu beneran kepikiran mau jual ginjal?” “Em … he … Ya enggak, itu … aku … riset.” Jenaka menjentikkan jarinya, “Iya, Sayang … itu bagian dari riset, aku kan jurusan pendidikan biologi, wajar aja dong riset hal-hal begituan, ya untuk data-data pendukung, lah,” ujarnya membela diri. “Jangan macam-macam kamu, Jenaka!” ancam Dirga serius. *** Kota Tanjungpinang Rangga baru selesai menidurkan Razqa, sedangkan Rendra sudah dibawa pulang oleh mamanya karena masih menyusui. Achy menolak untuk menginap di rumah Mama Suri. Setelah memastikan anaknya terlelap, Rangga keluar menemui Ibunya. “Udah ketemu guru privat buat Razqa, Ma?” Rangga menghampiri Ibunya di ruang tengah sedang mengawasi ART menurunkan bingkai-bingkai foto keluarga karena akan interior ruangannya sebentar lagi akan diganti, Mama Suri merasa tata ruangnya sudah terlalu klasik. “Belum ketemu yang cocok, Nak, tapi sudah minta tolong temen mama mencarikannya.” Mata Mama Suri tetap mengawasi pekerjaan asistennya. “Oke, Rangga masuk dulu kalau gitu.” Tanpa menunggu jawaban Ibunya, Rangga menuju ruang kerja yang terhubung dengan kamarnya, dia langsung memeriksa email dari mahasiswi bimbingan yang seharusnya sudah dia terima, beberapa saat kemudian dokumen itu berhasil diunduh. Sudah jadi kebiasaannya membaca dengan hati-hati setiap laporan yang masuk, sehingga sudah pasti banyak coretan noda dan dosa di atas lembar digital itu. Rangga mencari data lama atas nama Jenaka untuk melihat BAB satu sampai tiga yang pernah dia terima, sebenarnya dia hanya ingin melihat judul yang sebenarnya. “Efektifitas penggunaan media animasi untuk materi sistem reproduksi manusia.” Sekilas tidak ada yang salah dengan judul itu, tapi yang Rangga bayangkan justru animasi alat reproduksi manusia, dia jadi menertawakan isi kepalanya sendiri. Apakah saya masih ingat cara manusia bereproduksi? Haha *** Sejak mengirimkan email itu, Jenaka tidak berhenti memeriksa kotak masuk secara berkala demi menunggu secercah ACC yang diberikan dosennya, tapi jangankan kata setuju, chat konfirmasinya saja hanya dibaca oleh dosen itu. Hingga minggu malam yang dingin dan bisu, dirinya dilanda resah tidak berkesudah, Ibu kos sudah menyalakan mode sindir keras, belum lagi Mamanya tidak juga berhenti mengirim chat ancaman sosial, maka Jenaka memutuskan untuk memastikan hasil laporan penelitiannya, mumpung tekanan hidup bisa memantik semangatnya. “Bismillah aja dah!” Selamat malam, Pak Rangga, maaf mengganggu, saya Jenaka, NIRM 11.45.2891 ingin menanyakan BAB IV penelitian yang saya kirimkan jumat lalu apa sudah bisa diterima? Jika sudah apa saya sudah bisa menarik kesimpulan? Soalnya Bapak tau sendiri, kan? hidup saya hanya tinggal menunggu jadwal sidang. Pesan itu langsung terbaca, jantung Jenaka beradu dengan denyut nadinya, ramai mengalahkan suara personil gen halilintar yang biasa dia dengar. Saat baris atas percakapan menunjukkan Dosen Pembimbing satu sedang mengetik, dia semakin tidak karuan. Seketika dia menyesal nekat menanyakan hal itu, padahal bisa ditunggu saja sampai Pak Rangga mengabarinya. Selamat malam, berikut saya kirimkan hasil reviewnya, Rasanya dari BAB I sampai BAB IV masih harus diperbaiki total, hanya saja mengingat waktu yang tidak memungkinkan, mungkin bisa perbaiki BAB IV saja. Ada kesalahan yang cukup fatal pada landasan teori, validitas data dan analisis kamu. Bahkan tadinya saya mau menyarankan ganti judul, tapi kalau kamu bisa mempelajari yang saya review ini, mungkin cukup BAB IV ini saja yang diulang kembali. Terimakasih. Lemas, sendi dan saraf anggota gerak pada tubuh Jenaka beberapa detik kehilangan fungsi. “Gue … gue … gue nyusun BAB IV sampai membangun kepercayaan diri buat bimbingan aja butuh waktu satu tahun lamanya, seenak mengayunkan tungkai bawah dia suruh ganti, Huaaa Ya Allah, kenapa laporannya yang harus diganti? Kenapa nggak pembimbing hamba aja sekalian diganti, ya Allah,” raungnya menatap layar yang berisi kata Mutiara itu. Oh ya, ini saya kirimkan doa anti malas, dibaca setiap kali kamu kepingin rebahan. Semoga membantu. Bukannya tenang, Jenaka yang dari awal memang tidak suka dengan dosennya ini semakin merasa dipermainkan, tadinya Jenaka berpikir dia hanya akan mendapat catatan-catatan revisi kecil. "Padahal dia tau, umur gue engga lebih lama dari akhir semester ini, dasar dosen tega, nggak ada toleransi sama sekali.” Di tengah bendungan emosi yang baru saja meluap dan banjir menutupi sisi warasnya, Jenaka nekat membalas pesan dosennya itu, matanya ditutup kabut bingung bercampur kesal saat mengetik kata-kata untuk sang dosping. “Bapak sudah pernah dengar kasus mahasiswa membunuh dosennya, belum?” Entah setan apa yang membisikkan sehingga jempolnya memuluskan jalan untuk mengirimkan pesan itu. Sesaat dia ingin menghapusnya, tapi malang tak berbau, pesan pun telah terbaca, tidak sampai beberapa detik, ruang pesan berubah menjadi tampilan panggilan dari dosen pembimbingnya. Bukan hanya sendi dan saraf, sekarang mungkin organ-organ utama pada sistem ekskresinya juga bereaksi, seketika dia mulas, mual dan berkeringat dingin sampai nada dering berakhir. Kamu mengancam saya? Saya sudah pernah dengar berita itu, kamu sendiri pasti tau kan banyak kasus mahasiswa mengancam dosen yang berakhir dengan kematian misterius bahkan tim forensik kebingungan karena menemukan benda tajam nyangkut di pankreasnya? “Naudzubillahimindzalik!” Jenaka berteriak melempar ponsel sejauh-jauhnya, dia sungguh menyesal telah mengirimkan pesan ancaman tadi, dia pikir Rangga akan takut dan memuluskan jalannya, sama sekali tidak menyangka akan marah dan membalas ancamannya. Sejak pesan itu dia baca, ponsel Jenakaa berdering tidak berhenti, sejak detik itu pula dia merasa dikejar-kejar oleh si dosen pembimbingnya. “Pak Rangga, Maafkan saya, Pak. Saya salah, saya berdosa. Em, maksud saya tadi itu cuma menanyakan apakah benar berita itu ada? takutnya hoax gitu, Pak. Mana mungkin tangan mungil saya bisa melakukan hal itu, Pak. Saya janji akan mengerjakan revisi laporan ini sebaik mungkin, maafin saya, Pak Rangga, yang tadi bapak juga bercanda kan?” panjang lebar Jenaka mengklarifikasi kesalahan yang diperbuat jari-jarinya. Suaranya memang terdengar gemetar ketakutan. “Hati-hati kalau bicara, Jenaka. Kalau tidak mau hal ini saya perkarakan, besok jam satu lewat dua belas menit temui saya di Rasa Resto, bawa laptop dan buku rujukan utama kamu!” “Saya akan datang sebelum waktu yang ditentukan, Pak. InsyaAllah. Pak Rangga sudah memaafkan saya ‘kan?” “Liat besok saja!” Rangga mengakhiri panggilan itu, menyisakan rasa gugup dan takut yang semakin besar untuk Jenaka, bahkan setiap kali memejamkan mata dia seperti melihat Rangga sedang menatapnya, Jenaka sungguh dikejar rasa bersalahnya. “Kan gue yang salah, gue yang menghilang saat bimbingan satu tahun lalu, gue yang ngerjain laporan asal-asalan, gue yang butuh Pak Rangga sekarang, kenapa gue marah waktu dia udah baik hati memberi masukan buat laporan itu? Kenapa kebodohan gue sangat natural sih? Aaaa, Jenaka!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN