Rasa Resto – Batam
Dengan kemeja putih bergaris dan slim fit jeans berwarna khaki, style undercut rambut lebat dan hitamnya terlihat klimis, Rangga datang sebelum waktu yang ditentukan, itu yang membuat siapa saja yang berjanji temu dengannya ketar-ketir sendiri.
Hampir satu jam Rangga memulas touchpad laptopnya, kemudian dia melirik ted bakker sport watch yang dia pakai di pergelangan tangan kiri, sesekali matanya mengitari sekeliling resto, belum ada tanda-tanda kedatangan mahasiswi yang tadi malam sudah lancang mengirimkan pesan ancaman.
Saat pesanannya tiba, Rangga masih mencari tanda-tanda kehadiran Jenaka, tidak puas dengan penglihatan, Rangga coba mengendus bau-bau konspirasi, entah dengan siapa gadis itu berkoalisi hingga berani mengancamnya.
Bukannya sosok Jenaka, penglihatannya menangkap seorang Wanita yang sangat dikenalnya. Wanita itu mengenakan kemeja motif dan rok plisket, pashmina diikat simple mengelilingi leher dan dijuntai sedikit. Rangga ikut tersenyum saat melihat Wanita itu tertawa lepas karena sedang mengobrol dengan sahabatnya. Wanita mana lagi yang bisa membuat Rangga tersenyum tidak sadar kalau bukan … Aruna.
Aruna Nureda adalah istri pertamanya, Ibu dari anak pertama mereka – Arrazqa. Cinta pertamanya yang kandas karena kebodohan Rangga saat itu dalam membina rumah tangga. Runa sekarang sudah punya kehidupan baru, tapi sisa rasa yang Rangga punya belum hilang sempurna.
Karena Runa berdua dengan temannya, Rangga memberanikan diri, berdiri menghampiri dua perempuan itu. Sejenak kekesalannya pada Jenaka terlupakan.
“Hay, Mi!” panggilnya, Runa yang menyadari panggilan itu untuk dirinya refleks menoleh ke arah suara.
“Hei, Mas. Wah, malah ketemu di sini.” Runa memang pernah patah, dia memang pernah hancur dan berharap banyak untuk kembali menjadi istri Rangga, tapi itu benar-benar tentang dulu, setelah memiliki hidup baru, perasaanya sudah selesai.
Hubungannya dengan Rangga hanya tentang Razqa. Mereka sepakat untuk tidak bertikai tentang apapun agar bisa membersarkan Razqa secara utuh.
“Pak Dosen lagi bimbingan sama mahasiswi, atau gimana nih?” ucap Wanita yang satunya.
“Iya nih, tapi belum datang anaknya, Kamu apa kabar, Er?” tanya Rangga pada Erlin.
“Baik Gue sih, gabung sama kita, Pak?” tawar Erlin yang tentu saja sedang berbasa-basi.
“Pengen sih, tapi pasti ganggu agenda kalian,” jawab Rangga sadar diri. “Kamu sampai kapan di Batam, Mi?” tanyanya pada Runa.
“Sore mungkin, Mas, last Ferry. Kebetulan Mas Abhi ada meeting sama sepupunya. Paling sebentar lagi selesai dan langsung pulang.” Abhi adalah suami baru Aruna.
“Oh yasudah, hati-hati ya, Mi. Aku balik kerja lagi.”
“Spesial banget mahasiswinya sampai ditungguin, Pak?” Erlin menggoda Rangga.
“Sesekali punya mahasiswi spesial nggak ada salahnya, kan?” Rangga bilang begitu hanya agar tidak terlihat terlalu menyedihkan di hadapan mantan istri.
“Wah … wah …” sahut Aruna.
“Gila lo ya, Rangga, kalau kali ini dapat mahasiswi, hattrick nggak tuh dapat perawan tiga kali.
“Er!” Runa menendang sepatu Erlin.
“Bisa saja kamu, Er. Yaudah kalian have fun deh, aku balik ke sana lagi ya?”
***
Karena sedang menyelesaikan pekerjaan lain, Rangga tidak terlalu peduli apakah gadis itu akan datang atau tidak siang ini. Sebagai dosen, Rangga merasa hanya bertugas memberi bimbingan kepada mahasiswi yang membutuhkan, jika Jenaka lebih memilih untuk putus asa dari penelitian ini, itu sudah bukan urusannya.
“Semua orang berhak bodoh!” batin Rangga.
“Tunggu, Putus asa?” tanyanya pada diri sendiri.
“Kalau anak itu beneran putus asa gara-gara saya gimana?” sambungnya, hari sudah hampir ashar, sepertinya Jenaka memang tidak akan datang. Rangga bermaksud menelponnya untuk memastikan gadis itu tidak benar-benar bunuh diri karena ancamannya semalam.
Sayangnya, entah sejak kapan kontak Rangga sudah terblokir, gambar profil yang sebelumnya terpampang wajah Jenaka dan pacarnya, kini hanya tinggal setengah lingkaran besar dan satu lingkaran kecil abu-abu, tidak bisa mengirimkan pesan apalagi melakukan panggilan.
“Berani banget kamu blokir saya, Jenaka!” geramnya.
Rangga kemudian membaca riwayat chat terakhirnya dengan gadis itu.
From : Rangga Fadila
To : Jenaka Vawa
Kalau kamu mau skripsi ini selesai tanpa pertumpahan darah, temui saya di resto sebelah kampus siang besok jam 14.15 WIB.
“Kamu kan yang duluan mengancam saya? sekarang kamu yang ketakutan sampai blokir kontak saya? mau lari sampai ke mana, Kamu?” Rangga bicara di hadapan layar yang masih terpampang pesan-pesan dari Jenaka.
Dia mengurut keningnya, bagaimana kalau anak itu memang putus asa, kalau aja semalam tidak ada riwayat chat yang bisa memojokkan dirinya mungkin Rangga tidak akan peduli.
Headline media akhir-akhir ini cukup mengerikan, salah satunya yang Jenaka bilang tadi malam, seorang dosen dikirimi ilmu hitam itu bukan hoax, tapi juga ada berita mahasiswa gantung diri karena frustasi skripsinya berulang kali revisi.
Rangga heran, apakah skripsi semenyeramkan itu sehingga banyak diantara mereka memilih ngilang dari pada mengulang?
“Gimana kalau Jenaka bunuh diri dan chat dari saya ini ditemukan? Ah sudah pasti ditemukan. Ya Tuhan, kenapa jadi saya yang repot dan takut sungguhan?”
***
Rangga menurunkan kembali lengan kemeja dan memakai sepatu pantofel hitam, lalu dia duduk termenung cukup lama di salah satu sudut masjid raya kota Batam, dia kembali memeriksa ponselnya siapa tau ada pesan permintaan maaf atau sembarang alasan dari mahasiswinya.
Yang masuk justru pesan dari grup universitas, ballon chatnya menampilkan tulisan berita duka disertai tulisan Inalillahiwainnailaihirajiun. Perasaan Rangga kacau, yang terlintas di pikirannya itu berita duka dari Vawa, artinya sebentar lagi orang akan mencarinya terkait chat terakhir sebelum Jenaka Vawa bunuh diri.
Sebentar lagi namanya akan meramaikan headline berita, kasus baru konflik dosen-mahasiswa, tangannya gemetar segera membaca pesan itu.
“Inalillahiwainnailaihirajiun.” Baru kali ini berita duka justru mendatangkan lega, karena nama yang tertera di sana bukan Jenaka Vawa, melainkan keluarga salah rekan dosennya.
***
Hari ini sudah satu pekan sejak Jenaka menghilang, Rangga sudah mendapatkan informasi lengkap tentang latar belakang keluarga dan semua informasi tentang anak itu, tinggal mencari cara untuk bisa langsung datang ke kediaman keluarganya
"Kalau melalui telpon, pasti tuyul itu akan punya waktu untuk melarikan diri."
“Mas Rangga, dicariin Pak Rektor tuh.” Bu Fanda menggelendoti pembatas kubikel antara dirinya dan Rangga.
“Iya, makasih, Bu Fan,” jawab Rangga tetap fokus menghadap komputernya.
“Mau berangkat lagi ya, Pak?”
Jemari Rangga berhenti menekan tuts keyboard PC-nya, pertanyaan Fanda berhasil membuatnya menoleh.
“Ngantar mahasiswa magang kan, Mas? Tadinya Pak Daniel tuh, tapi dia masih di kampung pasca orang tuanya meninggal pekan lalu, jadi sepertinya Mas Rangga diminta gantiin deh.” Rangga curiga, Fand aini punya semacam jin pencuri berita, karena dia selalu terdepan mengetahui gossip-gosip akademik maupun non akademik di sekitar kampus.
“Magang di mana ya, Bu?” Sekalian saja Rangga bertanya kalau memang Fanda sudah tau segalanya.
“Pekanbaru, Mas,” jawabnya merengut, “Sesekali kita berdua gitu loh Mas yang berangkat. Kalau Mas Rangga berangkat sendiri, aku jadi nggak punya temen ngobrol, nggak ada yang bis aku lihat di ruangan ini, Mas. Seperti separuh jiwaku pergi, gitu,” katanya panjang lebar.
Yang Rangga dengar dari Fanda hanya nama kota tujuan keberangkatannya, selebihnya dia sudah berdiri dan meninggalkan Fanda bicara sendirian.
“Ih, kebiasaan ya kamu, Mas!” rajuknya sok manja.
“Ya Tuhan kalau Mas Rangga nggak bisa disisku, tempatkanlah dia disisiMu aja, Tuhan. Gemes akutuh.” Kesal Fanda berkelanjutan.
***
Sebagai dosen pembimbing, Rangga sudah menyelsaikan tugasnya, mengantar tiga orang mahasiswa yang akan melaksanakan magang. Setelah acara penutupan pelepasan itu, Rangga langsung pamit untuk kembali ke hotel, sewaktu mendapat perintah tugas mengantarkan siswa magang ke Pekanbaru, Rangga langsung menyetujuinya, dia sudah mengantongi alamat kediaman keluaraga Jenaka yang ternyata berasal dari kota ini.
“Kamu harus mempertanggungjawabkan semuanya, Jenaka Vawa, saya akan ke rumah kamu dan menceritakan semua kelakuan kamu pada kedua orang tuamu,” batin Rangga berapi-api.
Sepanjang karirnya sebagai dosen, ini kali pertama dia merasa repot berurusan dengan mahasiswa, dia ingin memastikan Jenaka masih hidup dengan sisa kebodohan itu dan memastikan Jenaka sudah menghapus riwayat chat yang bisa saja jadi jejak digital yang akan menyudutkan Rangga kalau sewaktu-waktu terjadi apa-apa pada Jenaka.
Jikapun anak ini tidak mau menyelesaikan kuliahnya, Rangga harus memastikan itu bukan karena chat kemarin, pokoknya namanya harus segera bersih dari kemungkinan-kemungkinan itu.
Dari hotelnya dia memesan taksi online menuju kediaman Jenaka dan tiba di depan sebuah bangunan rumah besar di tengah kota, setelah memastikan sekali lagi dengan alamat yang dia bawa, Rangga turun karena yakin ini rumah anak itu.
Tidak hanya besar, kediaman ini juga dilengkapi pengamanan di pintu depan, Rangga menunjukkan kartu identitasna dan menjelaskan dia adalah dosen dari salah satu penghuni rumah ini, petugas itu langsung mengantar Rangga ke dalam.
“Kebetulan keluarga lagi makan siang, Pak. Tunggu di sini dulu, ya, saya sampaikan ke Ibu.”
Rangga tersenyum miring melihat foto-foto keluarga di dinding, sepasang suami istri dengan dua anak perempuan, yang satu cantik dan satunya lagi benar-benar tampak sok manis.
Ada satu foto wisuda juga denan keterangan nama, Derana Leeya. Itu foto adiknya Jenaka yang sudah lebih dulu selesai kuliah, kemudian pandangan Rangga beralih ke foto seorang gadis sendirian berlatar belakang bandara Hang Nadim-Batam.
“Siapa yang menyangka senyuman manis itu bisa mengancam dosennya dengan sadis?”
Petugas keamanan tadi keluar bersama sepasang suami istri di belakangnya, sepertinya itu adalah orang tua dari Jenaka. Sekilas Jenaka mirip sekali dengan lelaki berjas hitam yang diduga ayahnya ini.
“Selamat siang, Pak. Maaf saya menganggu.”
Kedua suami istri itu masih tampak bingung, setaunya selama ini anaknya kuliah di kota Batam, ada hajat apa sehingga dosennya berkunjung sampai ke Pekanbaru, masalah apa lagi yang dibuat anak itu?
“Duduk dulu, Pak!” sapa ramah lelaki itu.
“Saya Rangga Fadila, dosen pembimbing skripsi Jenaka Vawa.” Rangga memulai kalimatnya setelah duduk di sofa.
“Vawa … Vawa …” Raut wajah wanita yang terlihat modis itu tampak sangat khawatir.
“Boleh saya ketemu dengan anak Bapak dan Ibu?”
“Maaf, Pak Rangga, tapi anak kami Vawa sedang tidak di Pekanbaru, sudah satu tahun tidak pernah pulang ke rumah, Pak, kemarin memang Ibunya bilang dia jangan pulang sebelum skripsinya selesai, Bapak tau sendiri sekarang dia sudah semester berapa.”
Rangga agak terkejut, itu artinya Vawa tidak pulang ke rumah dan pengejaran sampai ke rumah orang tuanya ini sia-sia?
Akhirnya Rangga menceritakan runtut kejadian sebelum Vawa memblokir kontaknya, Ayahnya tampak menghembuskan nafas berat sedangkan Ibunya bercucuran air mata.
“Malu rasanya mendengar cerita Pak Rangga tentang anak kami, kalau dia ada di sini juga kami juga akan memarahinya, kami tidak pernah mengajarkan hal itu padanya, kebebasan sudah bikin anak itu nekat,” omel si ayah.
“Tapi Maaf, kami benar-benar tidak diberi tau keberadaanya, Pak. Dia hanya bilang dia baik-baik saja, dan janji akan menyelesaikan skripsinya di sana, dan minta mamanya untuk tidak khawatir, anak itu!” imbuh si ayah.
Rangga iba dan mengerti kesedihan dua orang tua ini, di sisi lain dia semakin kesal dengan tingkah Jenaka yang sudah merepotkannya sejauh ini, sekarang tanggungjawabnya malah lebih berat karena masalah ini sudah diketahui keluarganya, mana si Ibu benar-benar menangis sampai matanya merah dan tidak bisa bicara apa-apa.
“Sudah, Ma, sudah. Anak itu sudah dewasa, kita percayakan saja pada Pak Rangga. Tolong banget ya, Pak Rangga. Hajar aja dia seikhlasnya. Asal Vawa jangan sampai drop out, berapa lama kalau harus nunggu dia kuliah di tempat yang baru lagi.”
Lha … lha … lha, kok saya? saya cuma pembimbing akademik, nggak mau saya jadi pembimbing jalan hidup anak bapak.
Rangga sudah tau ke mana dia harus mengejar si tukang buat ulah itu setelah ini.