Setelah mencari data lengkap mahasiswa, sekarang Rangga berselancar mencari data alumni, dia ingat Jenaka pernah menyebut nama pacarnya itu, dengan keyword nama Dirga, tidak terlalu sulit menemukan data orang yang diduga melakukan konspirasi menghilangnya Jenaka.
Seperti yang dia lakukan saat mencari Jenaka di rumah orang tuanya, hal yang sama dia lakukan pada Dirga. Rangga tidak langsung menghubungi lelaki itu karena sama saja membuka celah kemungkinan mereka kabur lebih jauh.
“Sewa detektif aja sih, Mas,” celetuk Fanda yang tau, dua pekan ini Rangga disibukkan dengan mengejar mahasiswi itu, tidak terbayangkan akan seperti apa dia membuat perhitungan jika nanti ketemu.
Boleh juga idenya, Bu Fanda.
***
Rangga sudah di dalam Gedung Ardhi Grup, dia pernah ke Gedung ini, bukan hanya pernah, tapi sering. Ardhi adalah nama mantan mertuanya, dia pernah ditawari memegang kendali perusahaan perhotelan besar ini, tapi hatinya sudah terlanjur jatuh cinta dengan hanya menjadi civitas akademika.
Punya potensi juga itu pacarnya Jenaka bisa kerja di sini.
Dia langsung menanyakan informasi tentang Dirga di meja informasi.
“Maaf, ada keperluan apa ya, Pak? Nanti saya sampaikan ke sekretaris Pak Dirga.”
Punya sekretaris segala?
“Saya dosennya, ada yang mau saya tanyakan terkait perkuliahan, saya mau ketemu sama Dirga, bukan sekretarisnya. tunggu … ini beneran Dirga Shayuda, kan?” Rangga takut salah orang.
“Benar, Bapak Dirga Shayuda pimpinan Ardhi Grup Batam.”
Wah, pantas aja dia berani, sembunyi di bawah ketek eksekutif muda ya ternyata.
“Bapak, boleh tunggu sebentar, Pak Dirga yang akan turun menemui anda,” ucap sopan resepsionist cantik itu setelah mematikan intercom.
Belum sampai tiga menit, Seorang lelaki dengan jas dan dasi yang rapi berdiri menemui Rangga, dia sudah tau Rangga tidak suka menunggu lama, meski sedang berada di kantornya, Dirga tetap menghargai Rangga sebagai dosennya.
“Pak Rangga,” sapanya sambil menjabat tangan dosennya itu.
“Ya, apa kabar kalian?” tanya Rangga dengan nada miring.
“Kita duduk di sini, Pak?” Dirga mempersilakan Rangga untuk duduk di sofa yang ada di sana.
“Saya langsung saja ya, Dirga. Kedatangan saya ke sini untuk mencari Jenaka Vawa, dia punya dosa besar pada saya, kontak saya diblokir, saya sudah menemui orang tuanya ke Pekanbaru tapi dia tidak di sana. Saya tidak menuduh, tapi kamu orang yang sekarang paling dekat dengannya, kan? jadi kamu pasti tau keberadaan anak itu sekarang,” ungkap Rangga Panjang lebar.
Sama seperti ekspresi Ayahnya Jenaka, Dirga juga terkejut.
“Memangnya siapa dia sampai saya kejar seperti ini? Kalau kamu tidak mau memberi tau saya, terserah, tapi saya minta tolong untuk memastikan chat saya dengan dia malam itu tolong dihapus, saya tidak mau chat itu ditemukan dan akan menyusahkan posisi saya.”
Dirga memicingkan mata, chat apa yang Rangga maksud?
“Chat apa, Pak? Maaf, kalian tidak sexting kan?” tuduh Dirga curiga, dia akan ikut menghajar Rangga kalau itu sampai terjadi, dengannya saja Jenaka tidak pernah chat mesra, seketika dosen di depannya dianggap telah melakukan pelecehan kepada mahasiswa.
“Jaga omonganmu, Dirga!” tukas Rangga, “Ini chatnya, baca aja sendiri!” Meski dia jomblo sudah cukup lama, bukan berarti dia tertarik dengan sembarang orang.
Dirga geleng-geleng tak percaya, bisa dia bayangkan ekspresi ketakutan Jenaka setelah mengirimkan pesan ancaman ini, seketika dia bertanya, kenapa bisa punya pacar senekat dan sekonyol ini sih?
“Jadi tolong kasi tau saya, di mana Jenaka? Kenapa kita ketemu di sini? Apa dia sembunyi di ruangan kamu? Kalau kamu bisa pastikan chat ini sudah dia hapus, saya tidak akan mengejarnya lagi, tolong sampaikan saja pada dia, Mamanya menangis setiap hari dan memohon pada saya agar dia lulus tahun ini.”
Dirga tersenyum ketir, sesungguhnya dia juga sedang kangen dengan perempuan itu, dia sangat paham mengapa Jenaka melakukan ini, tapi anak itu terlalu keras kepala untuk dilarang, jika dia ingin pergi, tidak akan ada yang bisa menahannya sebentar saja, sedangkan orang tuanya saja pusing, apalagi Dirga.
Kamu nekat banget sih, Jen? Lagi di mana sekarang? nggak beneran jualan ginjal kan?
Dirga tidak takut Jen bunuh diri, karena meski nekat, Jen takut dengan darah dan benda tajam, yang Dirga bayangkan saat ini Jen sedang mencari pasar organ atau sungguh sedang … ah dia tidak ingin meneruskan pikirannya.
“Pak Rangga, Jenaka memang pacar saya, kami dekat sudah lama, perasaan saya ke Jen tidak main-main, jadi saya tidak akan membantu dia melakukan tindak kejahatan yang merugikan dirinya sendiri dan hubungan kami kedepannya, kalau orang tuanya saja tidak tau dia ada di mana, tidak mungkin dia memberi tahu saya, Pak,” jelas Dirga setengah putus asa.
Rangga memandangnya tajam.
“Ayo kita ke ruangan saya, Bapak bisa cari dia di sana, di kolong, di laci, di filling cabinet, karena jujur saja kadang dia memang securut itu, Pak, kalau sedang nekat.”
“Siapa teman dekatnya yang kamu tau?”
“Sudah tidak ada yang dekat, Pak, teman-temannya yang dulu sama-sama dugem, shoping, foya-foya, sudah pada lulus dan punya hidup masing-masing, hampir nggak pernah main lagi sama Jen. Bapak mending, dikabarin pas Jen mau ilang, saya Taunya dari Ibu Kos, Pak, dia udah pergi dan kontak saya langsung diblokir.” Kalimat Dirga sungguh memprihatinkan memang.
“Saya ditinggal waktu udah janjian bimbingan di Rasa Resto, nungguin anak itu sampai sore nggak taunya semua akses saya diblok!” geram Rangga.
“Maafin, Jen ya, Pak, saya yakin dia nggak akan melakukan hal yang membahayakan, Pak, dia cuma nekat, tapi nggak akan sampai bunuh diri. Jangankan pisau atau benda tajam lain, kulit jarinya kena gunting kuku aja dia nangis kok.”
“Segitu juga kamu masih kamu pertahankan .”
“Cape sih, diajak nikah malah kabur, tapi saya ga bisa ngelepasin. Yhaa, another level of bucin memang.”
“Kenapa malah curhat ya?”
“Maaf, Pak.”
“Ya sudah, tapi kamu yakin kan dia nggak akan mati dalam waktu dekat, ya paling enggak sampai chat itu hilang dari HP dia, lebih bagus sih kalau lulus dulu, saya udah terlanjur kasian sama ayah dan ibunya yang nangis-nangis.”
“Ya saya yakin Jen baik-baik aja, tapi ya mana saya tau umur seseorang, Pak, nggak akan bunuh diri dia mah, InsyaAllah.”
Obrolan dengan Dirga sore ini membuat pikiran Rangga sedikit terurai, Rangga kembali ke rumah dan bisa berpikir lebih jernih, semoga anak itu benar-benar sedang semedi di gua menyelesaikan revisinya dan akan menemuinya saat sudah selesai nanti.
***
Hari ini tepat satu bulan Rangga mencari keberadaan Jenaka, meski tidak menemukannya tapi tidak juga ada tanda-tanda bahwa Jenaka sedang melaporkannya atas ancamannya kemarin, sehingga Rangga dengan mantap memutuskan untuk menyudahi pencariannya hari ini.
Sudah satu bulan pula dia tidak pulang ke Tanjungpinang untuk menemui anak-anaknya. Rangga mengambil ponselnya dan membuat panggilan Video kepada Razqa.
“Halo, Dad!” sapa bocah itu riang.
“Baby, kamu lagi ngapain?”
“Baru selesai les, Dady kenapa nggak pulang?”
“Les? Sudah ada missnya?”
“Udah dong, Dad. She’s so adorable,” pujinya tulus.
Rangga mengangkat sudut bibirnya, anaknya itu memang pandai sekali soal memuji.
“Oh ya? cantikan mana sama Mimi kamu?”
“Please, Dad. My Mom is another level.”
“Hahaha.” Dia malah tertawa lepas mendengar jawaban Razqa atas pertanyaanya yang nggak banget. Ya, Runa memang cantik, kenapa juga musti meminta Razqa membandingkan dengan orang lain.
Dady banyak bertemu Wanita yang lebih cantik dari Ibu kamu, Nak, tapi belum ada yang bisa menggeser dia di hati Dady.
“Dady mau pulang hari ini," kata Rangga.
“For Real, Dady?”
“Ofcourse, Boy.”
“Yeay … Let the happy weekend begin!” sorak bocah itu girang.
Rangga jadi semakin semangat dan tidak sabar untuk pulang melepas penat setelah satu bulan melewati pencarian melelahkan yang tidak ada hasilnya.